LOYALITAS ISLAM

Salah satu prinsip utama yang diajarkan dalam aqidah islamiyah adalah memberikan wala’ (loyalitas). Al Wala’ atau walayah adalah buah dari mahabbah (kecintaan). Ketika seseorang mencintai sesuatu, ia wajib memberikan wala’ kepada yang dicintainya. Demikian juga halnya manakala seorang hamba mencintai Allah, maka dia harus memberikan wala’nya itu kepada Allah. Cinta yang tidak menghasilkan wala’ tidaklah dapat disebut sebagai cinta yang sebenarnya.

Wala’ atau walayah biasanya diartikan sebagai loyalitas. Menurut Muhammad ibn Said ibn Saliim dalam “Al Wala’ Wal bara fil Islam”, al-walayah artinya pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, terhadap orang-orang yang dicintai baik dzohir maupun batin. Lawan dari kata wala’ adalah baro’ atau ‘adawah yaitu kebencian atau permusuhan.

Allah Wali dari orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, wali-walinya adalah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan”. (Al Baqarah: 257)

Allah sebagai “waliyullladzina amaanuu” maksudnya Allah merupakan pemimpin, penolong, dan pelindung bagi orang-orang beriman. Allah membimbing mereka dengan cinta dan kasih sayang sehingga mereka terlepas dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Islam. Sebaliknya “awliyaa” (para pemimpin, penolong, dan pelindung) orang-orang kafir adalah thagut. Thagut adalah syetan dan segala yang disembah selain Allah. Thagut itu jumlahnya banyak dan mereka menyesatkan orang-orang yang mengikutinya sehingga mereka keluar dari cahaya Islam menuju kegelapan jahiliyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mendefinisikan Al Wala’ dan Al Baro’ dengan ungkapan, “Al Walayah kebalikan dari al-‘adawah. Asal pengertian al walayah adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal pengertian al-‘adawah adalah kebencian dan kejauhan. Wali artinya orang yang dekat. Dalam Bahasa Arab “hadza yali hadza” artinya ini dekat dengan ini. Seperti dalam sabda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam,

“Serahkan ilmu waris kepada pakarnya. Bila masih ada yang menyisa dari harta warisan, maka ia menjadi milik orang yang paling dekat dengan orang yang mati”.

Berwala’ dalam Islam ini implementasinya dilakukan dengan memberikan wala’ kepada Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman dalam satu kesatuan, sebagaimana disebutkan Al Qur-an,

Sesungguhnya Wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. 5, Al Maaidah:55)

Loyalitas Kepada Allah

Sumber utama dari Al Wala’ wal Baro’ adalah Kalimat tauhid “laa ilaha illa-Llah”. Di antara makna kalimat Tawhid adalah “Laa waliya illa Llah”(tiada wali yang disembah kecuali Allah). Loyalitas kepada Allah adalah memberikan kepercayaan bulat untuk dipimpin dan diarahkan oleh Allah dengan segala kecintaan dan kesetiaan. Maka wala’ kepada Allah bermakna bersedia menyerahkan diri secara total kepada Allah untuk dipimpin dan diarahkan dengan segala kecintaan. Atau menyediakan diri untuk dipimpin Allah secara total tanpa sedikitpun perlawanan. Wala’ kepada Allah ini hanya akan diterima manakala terdapat Bara (penolakan) kepada segala bentuk sembahan selain Allah atau kepemimpinan yang tidak bersumber dari Allah.

Al Waliy merupakan salah satu makna Al Ilah (Sembahan). Dengan kata lain sesuatu yang disembah adalah sesuatu yang dijadikan pemimpin, penolong, pelindung atau teman akrab yang sangat dicintai. Tiada yang boleh diperlakukan sebagai sembahan dalam bentuk seperti ini kecuali Allah semata. Nabi Ibrahim Alaihissalaam telah menunjukkan sikap tauhid seperti ini,

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja… (QS. 60. Al Mumtahanah:4)

Al Wala’ kepada Allah ini selain diartikan loyalitas juga mengandung makna “kesetiaan” dan lawan dari pengkhianatan. Karena itu, manakala seseorang memberikan wala’nya kepada Allah maka dia tidak boleh mengkhianati-Nya. Dia pun wajib memberikan kesetiaan kepada Allah meskipun dia berada dalam keadaan susah.

Bukan itu saja, dia pun harus menyesuaikan diri dengan mengikuti petunjuk-Nya tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, tentang apa yang dimurkai, diperintah dan dilarang-Nya. Sebagai balasannya, Allah akan memberikan wala’Nya kepada orang tersebut. Allah pasti akan mencintai, melindungi, membimbing dan menolongnya. Bahkan orang yang memusuhi wali Allah juga akan menjadi musuh Allah. Dan orang yang menjadi musuh Allah otomatis menjadi musuh walinya pula. Firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang”. (Al Mumtahanah: 1)

Barang siapa yang memusuhi wali Allah berarti dia memusuhi Allah. Dan barang siapa memusuhinya, berarti ia memeranginya. Maka disebutkan dalam sebuah hadits: “Dan barang siapa memusuhi penolong-Ku, maka dia telah memperlihatkan kepada-Ku permusuhan”.

Bagaimanakah penampilan orang-orang yang memberikan walanya kepada Allah sepenuhnya? Sejarah Islam memperkenalkan kepada kita pribadi-pribadi mulia pencinta Allah dan pemuja-pemuja-Nya yang setia. Pola kehidupan mereka memang terasa aneh untuk orang-orang di zaman ini, tetapi itu adalah kenyataan dari hasil keimanan dan amal sholeh mereka. Beberapa hal berikut ini merupakan sekelumit dari kisah-kisah mereka.

Amirul mu’minin Khalifah Umar bin Khattab pernah mengalami kesibukan yang luar biasa. Beliau asyik mengurus kebunnya sampai masuklah waktu sholat ashar. Ketika beliau sadar, beliau segera bergegas ke masjid ternyata orang-orang sudah pulang dari masjid. Khalifah sangat menyesali kejadian itu. Baru kali ini dalam hidupnya beliau terlambat sholat berjamaah di masjid. Karena kejadian ini, Khalifah Umar memutuskan untuk menyedekahkan kebun yang melalaikan dirinya.

Ketika melukiskan pribadi Al Hasan Al Zubdy, Imam Al Zahaby berkata, “Beliau menghabiskan seluruh waktunya demi ibadah, ilmu, menulis, mengajar dan belajar, hingga akhirnya Allah memberinya tempat yang istimewa di hati manusia, baik kaum awam maupun ulama”.

Imam Ibnul Qayyim Al Jauzy sendiri adalah seorang ulama yang sangat sholeh. Dalam perjalanan hajinya dari Syria menuju Makkah Al Mukarramah beliau menulis Kitab Zadul Ma’ad yang spektakuler. Kitab itu kadang beliau tulis di atas ontanya yang sedang melaju menuju Baitullah.

Adapun Imam Ibnu Taimiyah, guru Ibnul Qayyim terkenal sebagai ulama mujadid (pembaharu) yang banyak menghasilkan karya besar. Namun hidup beliau senantiasa dalam fitnah karena dikejar-kejar orang-orang yang memusuhi Islam. Ketika beliau di penjara, beliau bersenandung,

Apa yang dikehendaki musuh-musuhku daripadaku

sesungguhnya surgaku ada dalam hatiku

Apabila mereka memenjarakan daku, maka penjara itu tempatku berkhalwat

Dan apabila mereka mengusirku maka kepergianku adalah tamasya

Dan apabila mereka membunuhku mereka mempertemukan Aku dengan kekasih-Ku

Beliau berkata, “Di dunia ini ada satu surga, siapa saja yang tidak memasukinya, ia tidak akan merasakan surga akhirat”. Yang dimaksud surga oleh beliau adalah “kelezatan iman dan cinta kepada Allah”. Demikianlah pendirian Ibnu Taimiyah yang telah menunjukkan wala-Nya kepada Allah dan mengabdikan diri untuk berjihad di jalan-Nya.

Gambaran di atas baru sekelumit saja dari panggung sejarah Islam yang kaya dengan orang-orang sholeh dan sepak terjangnya di jalan Allah.

Loyalitas Kepada Rasulullah

Sebagai konsekuensi mencintai Allah adalah mencintai Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan mengikuti beliau. Nabi Muhammad adalah kekasih Allah. Karena itu, mencintai Allah juga harus diwujudkan dengan memberikan wala’ kepada Nabi. Inilah makna firman Allah,

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3. Ali Imraan:31)

Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam adalah seorang hamba yang diutus Allah untuk memimpin manusia dalam beribadah kepada-Nya. Karena itu berwala’ kepada Nabi artinya dengan segala kecintaan menjadikan Nabi Muhammad sebagai kekasih, pemimpin, pembimbing hidup, penuntun jalan, idola, dan panutan yang dibela dengan segenap daya upaya dan pengorbanan dalam rangka berwala’ kepada Allah. Hal ini tidak bertentangan dengan berwala’ kepada Allah, malahan menjadi konsekuensi dari wala’ kepada Allah sebagaimana mengikuti Rasulullah merupakan konsekuensi cinta dan taat kepada Allah.

Berwala’ kepada Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menjadikan wala’ seseorang kepada Allah mengikuti manhaj (konsepsi) yang benar dan diridhai Allah. Nabi Muhammad adalah sebaik-baik manusia dalam hubungannya dengan Rabbul Alamin, menjadi contoh dan teladan utama dalam menegakkan Kalimat tauhid.

Rasulullah adalah Kholilullah (Kekasih Allah) sekaligus Waliyullah (Sahabat Dekat Allah). Inilah manusia yang paling dicintai Allah sepanjang adanya kehidupan. Mengapa? Karena beliau diberi Allah karunia terbesar sepanjang sejarah kehidupan. Beliau adalah hamba pilihan Allah dan utusannya yang terakhir untuk segenap manusia. Beliau telah menunaikan tugas mulia ini dengan sukses. Ia telah meletakkan pancangan “Iqomatud diin” (penegakkan Agama) yang akan tetap terpelihara sampai hari kiamat nanti.Rasulullah merupakan orang yang paling bersyukur kepada Allah atas karunia dan ni’mat yang diberikan-Nya. Beliau merupakan manusia paling thaat dan patuh pada ajaran yang dibawanya. Menjadi contoh dan teladan bagi pelaksanaan ajaran Islam sepanjang masa. Karena itu Allah dan para Malaikat memuji beliau,

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan baginya”. (Al Ahzab: 56)

Bila Allah dan para Malaikatnya menyampaikan sholawat kepada Rasul, maka kita lebih wajib lagi untuk mengucapkannya. Disebutkan dalam hadis,

Dari Anas r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Barang siapa yang disebut namaku di hadapannya, makabershalawatlah kepadaku, barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan mendoakannya sepuluh kali”

Suatu ketika shahabat Rasulullah Umar bin Khattab datang menemui Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam. Umar radliyallahu anhu berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu!”

“Seperti apakah kecintaanmu padaku hai Umar?” tanya Rasulullah.

“Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri!” sahut Umar.

“Tidak, hai Umar!! Engkau baru dikatakan mu’min bila mencintaiku lebih dari mencintai dirimu sendiri”. kata Rasulullah menegaskan.

Umar berkata, “Kalau begitu, aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri”.

“Nah sekarang baru benar” , kata Rasulullah salallahu alaihi wa sallam.

Jelas bahwa Rasulullah mengajarkan para shahabatnya untuk lebih mencintai beliau dari diri mereka sendiri. Dalam ajaran Islam kecintaan seperti ini merupakan pertanda lurusnya iman seseorang. Beliau bersabda,

Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, atau seluruh manusia”. (HR. Bukhari)

Hal ini berarti, kecintaan kepada Rasulullah tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan kepada istri, anak tersayang, profesi, hobbi, bangsa, negara, dan sebagainya. Bila tidak, maka kita tidak bisa digolongkan orang mu’min! Jika ada orang mengaku beriman, tetapi ternyata hawa nafsunya belum bisa meninggalkan suatu yang dilarang Rasulullah, maka imannya dusta, dan ia tergolong munafik! Hal ini ditegaskan pula oleh Rasulullah,

Tidak beriman salah seorang dari kamu, sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. (HR. Bukhari Muslim)

Kalau kita buka lembaran sejarah dan menelusuri kembali rangkaian kisah generasi pertama dari kalangan sahabat Rasulullah dan para pengikutnya, niscaya akan kita jumpai contoh-contoh manusiawi yang mengagumkan tentang bagaimana mereka merasakan gelora cintanya kepada Allah dan Rasul.

Al Baghawi menuturkan kisah dialog Rasulullah dengan Tsauban, seorang khadam (pelayan) yang sangat cinta pada beliau. Suatu hari, saat Rasulullah menjumpai Tsauban, serta merta raut wajahnya berubah. Lalu Rasulullah bertanya padanya, “Mengapa rona wajahmu berubah Tsauban?”. Dengan serius, Tsauban menjawab, “Saya tidak sakit ya Rasulullah, kecuali hanya saya tidak dapat memandangmu. Saya merasa begitu sepi dan dicekam oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Ketakutan dan kesepian itu baru hilang sampai saat saya berjumpa denganmu. Kemudian saya ingat akan akhirat, dan sayapun kembali diliputi oleh rasa cemas kalau-kalau saya tidak dapat melihat engkau. Bukankah engkau kelak diangkat dan dikumpulkan dengan para Nabi lainnya. Sedangkan saya, jika saya masuk surga mungkin saya tidak bisa tinggal dekat denganmu. Tetapi jika saya tidak masuk surga, tentu saya tidak akan dapat memandangmu lagi selama-lamanya”.

Itulah ungkapan perasaan Tsauban yang teramat mencintai Rasulullah. Perasaan seperti itu sungguh mengagumkan, sehingga Allah sendiri berkenan menjawab keresahan hati Tsauban. Kepada Rasulullah turunlah Surat An Nisa ayat 69, sebagai jawaban bagi kerinduan hati Tsauban:

“Siapa saja yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”

Loyalitas kepada orang-orang yang beriman

Bagian ketiga dari wala’ dalam Islam adalah berwala’ kepada orang-orang yang beriman. Loyalitas yang diberikan kepada orang-orang mu’min merupakan perwujudan dari berwala’ kepada Allah dan Rasulnya. Al Qur-anul Karim telah menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah awliya Allah (para wali Allah).

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS. 10:62-63)

Karena mereka merupakan awliya Allah maka setiap mereka hendaknya saling memberikan wala. Dalam hubungan interaksi sesama mu’min diwajibkan adanya mahabbah (kecintaan) antara seorang muslim dengan yang lain. Adapun tingkatan mahabbah yang paling rendah adalah bersihnya hati (salamush shadr) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan dan pertengkaran. Mahabbah dalam kesehariannya direalisasikan dalam bentuk sikap wala’ (loyalitas, tolong menolong, saling membimbing) antara satu dengan lain, “ba’duhum awliya-u ba’din”. Bentuk wala’ yang paling tinggi adalah itsar, yaitu mengutamakan memenuhi kepentingan saudaranya sesama muslim daripada kepentingannya sendiri.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9. At Taubah:71)

Berbagai bentuk itsar, sebagai wala’ yang tertinggi telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Di antaranya adalah persahabatan antara Abu Bakar dan Rasulullah. Abu Bakar senantiasa mengutamakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam dari kepentingan dirinya. Ketika keduanya berada di gua Tsur dalam perjalanan hijrah yang menegangkan misalnya, Abu Bakar selalu melindungi Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam.Abu Bakar tidak berani membangunkan Nabi yang tertidur di pangkuannya. Padahal kakinya dipatuk ular. Dia tetap menahan rasa sakitnya yang bersangatan karena tidak ingin mengganggu Nabi yang kelelahan dan beristirahat di pangkuannya. Nabi terbangun karena tetesan airmata Abu Bakar yang kesakitan. Setelah terbangun, Nabi pun mengobati luka Abu Bakar …

Benarlah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR.Muttafaqun’Alaih)

Dengan demikian maka ia juga membenci segala sesuatu yang menimpa atas saudaranya sebagaimana ia membenci sesuatu itu menimpa dirinya. Maka jika ia senang bila dirinya memperoleh kemakmuran hidup maka ia juga menginginkan hal yang demikian itu terhadap saudaranya. Dan jika ia menginginkan mendapat kemudahan dalam kehidupan berkeluarga(nya), maka ia juga menginginkan hal itu diperoleh orang lain. Dan jika ia ingin anak-anaknya menjadi cerdas, maka ia juga menginginkan hal yang sama untuk orang lain. Dan manakala ia menginginkan untuk tidak disakiti baik ketika berada di rumah atau ketika sedang bepergian, maka begitu pula ia menginginkan kepada seluruh manusia. Dengan demikian ia menempatkan saudaranya seperti dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai dan benci.

Berwala’ kepada orang-orang beriman mewajibkan kaum muslimin meninggalkan wala’ kepada selain Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Ini berarti kaum muslimin harus mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Sejalan dengan firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Islam telah melarang kaum muslimin untuk memberikan wala’nya kepada orang-orang selain mereka. Memberikan wala’ kepada orang-orang kafir akan membawa kepada kemunafikan,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) (QS. 4:144)

Memberikan wala’ kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah pengkhianatan yang membuat pelakunya digolongkan kepada golongan mereka


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: