URGENSI PEMBINAAN UMAT

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka”
(QS. Ar Ra’du, 13:11)

I. Sejarah Yang Gemilang

Sejarah mencatat bahwa kurang lebih 15 abad umat Islam memiliki supremasi yang gemilang Sejak kebangkitan bangsa Arab saat menerima Islam, penyebaran dakwah sampai ke Afrika, Eropa dan negeri-negeri jauh di Asia Timur, sampai runtuhnya kekhalifahan Islam pada tahun 1924, Islam telah benyak memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia. Paling tidak kemajuan Barat dewasa ini tidak lepas dari jasa Islam.

Umat Islam generasi awal, di bawah pimpinan Rasulullah saw berhasil memegang kendali dunia dalam kurun waktu yang relatif singkat:

    Seluruh Jazirah Arab (sekarang negara Saudi Arabia) dibebaskan dari pengaruh penyembahan berhala (syirik) dan diislamkan hanya dalam waktu kurang lebih 23 tahun.

    Di bawah kepemimpinan Khulafaur Rosyidin (Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik, Umar bin Al Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radiyallohu ‘anhum) daerah Islam diperluas ke luar Jazirah Arab, sampai daerah Syam (sekarang negara Yordania, Syiria, Irak dan Palestina, yang pada masa itu dijajah oleh imperium Romawi Timur yang beribukota di Konstantinopel/Istambul). Sampai juga ke daerah-daerah di Afrika Utara seperti Mesir, Sudan. Kemudian ke selatan seperti daerah Yaman, juga takluknya Persia (Iran) yang pada waktu itu merupakan salah satu negara super power di belahan Timur.

    Di bawah kekhalifahan Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah, Islam menjadi satu-satunya kekuatan dunia, yang daerahnya sampai ke Selatan yang mencakup sebagian besar Afrika, ke Timur ke daerah-daerah Asia (afghanistan, India dan Cina), ke Utara  yaitu Uni Sovyet, dan ke Barat yaiytu derah-daerah Eropa seperti Spanyol (Andalusia), Bulgaria, Hongaria, Yugoslavia, Yunani, dan Perancis selatan. Kekhalifahan-Kekhalifahan Islam terus berlangsung hingga runtuhnya Kekhalifahan Utsmani Turki pada tahun 1924 M.

Selama kurun waktu tersebut, tidak kecil sumbangan Islam bagi peradaban dunia. Pada abad ke 12 M misalnya, saat orang-orang Eropa (Barat) masih menganggap bahwa penyakit yang menimpa seseorang adalah bagian dari dirinya yang berasal dari Tuhan yang tidak boleh diobati, maka ilmu pengetahuan kedokteran Islam sudah menggunakan alat-alat medis untuk melakukan pembedahan/operasi orang sakit. Teori-teori kedokterannya Ibnu Sina, yang di Barat dikenal dengan Avicienna, saat ini masih dijadikan bahan rujukan bagi ilmu-ilmu kedokteran kontemporer (Barat)

Pada puncak kemajuan peradaban Islam di Eropa, banyak mahasiswa dan pemuda dari negeri-negeri Barat belajar dan menuntut ilmu di universitas-universitas Islam di Cordova dan Andalusia. Mereka menerjemahkan Al Qur’an dan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Mereka berguru kepada sarjan-sarjana Muslim, terutama di bidang ilmu pengetahuan alam, kedokteran dan filsafat.

Karena itulah Renaissance (kelahiran baru) bangsa Eropa yang menjadi titik tolak kemajuan Barat sekarang ini, yang lahir dari sikap kritis para ilmuwan terhadap dogma-dogma gereja yang kaku dan tidak logis, hingga terjadi revolusi industri, juga tidak lepas dari pengaruh peradaban Islam. Barat sesungguhnya berhutang kepada Islam, dan ini diketahui oleh para ilmuwannya, seperti Maurice Bucaille, dan yang lainnya.

II. Realita Sekarang

Memprihatinkan. Inilah yang mungkin bisa dikatakan saat melihat fenomena umat Islam dewasa ini. Label yang buruk-buruk seakan sudah menjadi trade mark kaum Muslimin. Bodoh, miskin, terbelakang, tidak berperadaban, kurang pergaulan, lemah, tertindas dan teraniaya, adalah sebagian dari idiom-idiom yang seakan sudah menyatu dengan umat, dan tidak terpisahkan. Umat saat kini, walaupun dari segi kwantitas besar (mayoritas) akan tetapi dari segi kwalitas justru minoritas. Minoritas di segala lapangan. Ini adalah dampak logis dari lepasnya kendali kepemimpinan politik dunia dari tangan umat Islam.

III. Sebab-Sebab Kemunduran Umat

Ada 2 sebab utama, yang pertama adalah sebab-sebab yang muncul dari dalam diri kaum Muslimin sendiri (sebab internal). Dan yang kedua yang datang dari luar (sebab eksternal).

A. Sebab-Sebab Internal

1.    Jauh dan bodohnya  kaum Muslimin dari sumber-sumbernya yang orsinil, yaitu Al Quranul   Karim dan Sunnah Rasulullah saw
2.    Rendah diri sebagai Muslim hingga hilang kepercayaannya terhadap Islam
3.    Sikap taklid buta tanpa reserve dan ikut-ikutan yang merata dikalangan kaum Muslimin.
4.    Berpecah belah dan lemahnya ikatan solidaritas serta persaudaraan Islam antar sesama kaum Muslimin.
5.    Tertinggal dan terkebelakang dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (science  dan iptek).

B. Sebab-Sebab Eksternal

1.    Serangan tentara Salib yang berlangsung hampir 2 abad (abad 10 hingga 12 M)
2.    Gerakan orientalis dan orientalisme-yang awalnya dipelopori oleh para rahib-rahib Yahudi dan pastor-pastor Nasrani- yang mempengaruhi pola berfikir pada sebagian sarjana-sarjana Muslim.
3.    Munculnya gerakan nasionalisme dan kebangsaan yang sempit menyebabkan terpecah-belahnya dan saling bermusuhan antara negeri-negeri Islam.
4.    Imbasnya pemikiran pemisahan antara agama dan negara dan adopsi secara penuh sistem sekuler pada sebagian besar bidang kehidupan kaum Muslimin, baik itu politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan, pemberitaan dan pers, penerangan, hukum ataupun perundang-undangan.
5.    Gerakan penjajahan negeri-negeri Islam oleh negara-negera Barat yang membawa misi Gospel (Kristenisasi dan misionaris), Gold (kekayaan dan rempah-rempah) dan Glory (kekuasaan politik dan teritorial)
6.    Emansipasi wanita yang berlebih-lebihan.

IV. Pembinaan Umat: Satu Keharusan.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa-apa yang umat terdahulunya menjadi baik’. Kata kunci dari pepatah ini tidak lain adalah bahwa umat harus dibina dan didaur ulang, sebagaimana generasi awal dari umat ini.
Munculnya generasi awal umat ini yang oleh Asy Syahid Sayid Qutb diistilahkan dengan ‘Generasi Qur’ani yang Unik’ itu tidak datang begitu saja laiknya sulap. Tidak, bahkan ia melalui sebuah proses yang disebut dengan ‘At Takwin wat Tarbiyah’ atau Pembinaan dan Pendidikan. Beberapa alasannya:

1.    Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Tuhanku telah mendidikku maka Dia didik aku dengan sebaik-baik pendidikan”.
2.    Pendidikan dan pembinaan yang dilakukan Alloh SWT terhadap rasul-Nya ini    tidak lain adalah dengan diturunkannya wahyu suci berupa ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Al Quranul Karim. Proses ini berjalan selama kurang lebih 23 tahun.
3.    Rasulullah saw adalah orang yang tidak bisa membaca (Ummiyun) yang hidup di tengah-tengah bangsa dan masyarakat yang sebgian besarnya juga seperti itu (Ummiyuuna).
4.    Sejak lahir Rasulullah saw sudah yatim bapak, dan pada usia 7 tahun dia yatim ibu. Para ahli siroh menerangkan bahwa makna dibalik itu semua adalah agar calon Insan Kamil ini tidak terkontaminasi dan terpengaruh sentuhan manusia khususnya kedua orang tuanya dalam proses pembinaan dan pendidikannya. Biarlah Alloh saja yang mengambil alih seluruh proses itu. Karenanya di saat usia 7 tahun, dimana inilah usia seorang anak mendapat sentuhan pendidikan pertama kalinya, justru ibundanya diwafatkan oleh Alloh SWT.
5.    Ketika diangkat menjadi nabi dan rasul, di saat beliau berusai 40 tahun, berlangsunglah proses ‘At takwin wat Tarbiyah’ ini secara resmi dari Alloh kepadanya dengan turunya wahyu yang berbicara tentang segala hal, dari masalah akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hukum-hukum, soisal, politik, bahkan masalah kenegaraan. Dan ini berlangsung terus selama 2 periode, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah.
6.    Paralel dengan itu, para sahabat melakukan pula proses ini sehingga dalam waktu yang relatif singkat, muncullah generasi baru manusia, yang asalnya adalah dari satu bangsa yang primitif, nomaden, dan jahiliyah menjadi generasi yang Alloh SWT katakan sebagai sebaik-baik umat (Khoira ummatin ukhrijat linnasi).
7.    Selanjutnya terjadi proses Islamisasi seluruh Jazirah Arab, kemudian ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. (lih. Sejarah Yang Gemilang).

V. Langkah-Langkah Pembinaan

1.    Pembinaan Basis Iman, bahwa iman itu tidaklah cukup dengan sekedar keyakinan atau pengakuan lisan saja, akan tetapi ia harus dibuktikan dengan amal. Dengan demikian ada 3 unsur yang harus dipenuhi agar iman itu sempurna. Unsur hati sebagai tempat keyakinan, unsur lisan sebagai tempat pengakuan dan unsur amal sebagai tempat pembuktian. Al Qur’anul Karim menggambarkan tipe-tipe manusia berdasarkan unsur-unsur itu sebagai berikut:

Tipe    Hati     Amal    Lisan    Dalil
Mukmin    Ada    Ada    Ada    QS 2:1-5, 285-286;  24:51;
33:36
Kafir    Tidak    Tidak    Tidak    QS 2:6-7
Munafik    Tidak    Ada    Ada    QS 2:8-10;  4:142-145
63:1-2

2.    Pembinaan Basis Ibadah, bahwa Alloh telah jadikan bahwa beribadah kepada-Nya saja merupakan tujuan hidup manusia. Secara simbolik manusia diperintahkan untuk melaksanakan ritualnya seperti sholat, haji, zakat, puasa dan sebagainya. Juga melambangkan hubungan vertikal yang harmonis antara seorang Muslim dengan Tuhannya. Hubungan inilah yang akan menjadi daya kontrol yang lekat pada dirinya sehingga terbentuk bangunan kontrol yang tangguh. Dari sinilah akan lahir berbagai bentuk kebajikan yang produktif bagi kehidupan manusia secara umum. Dengan sholat seorang Muslim tidak akan melenceng dari tujuan hidupnya. Dengan zakat seorang Muslim mempunyai tingkat rasa solidaritas yang tinggi. Karena itu Alloh SWT mensyaratkan keduanya bagi orang-orang yang ingin diberikan kekuasaan.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Alloh-lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj:41).

Kesimpulannya bila kaum Muslimin kuat beribadah dengan baik dan benar Alloh akan memberi kekuatan sehingga memiliki rasa percaya diri yang kuat menghadapi tantangan-tanatangan kehidupan, bahkan bisa menghantarkannya kepada kejayaan dunia.

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ(1)قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا(2)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا(3)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا(4)إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا(5)

“Hai orang yang berselimut (Muhammad) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari pada seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”  (QS. Al Muzzammil, 73:1-5)

3.    Pembinaan Basis Akhlak, karena ajaran Islam sangatlah memperhatikan masalah akhlak. Kehancuran satu bangsa sangatlah ditentukan oleh sejauh mana baik dan buruk akhlak bangsa yang bersangkutan, Karenanya salah satu misi diutusnya Rasulullah saw adalah untuk menyempurnakan akhlak, Akhlak juga meruopakan buah kongkrit baiknya keimanan dan ibadahnya seseorang, karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda: “Jika kamu tidak merasa malu perbuatlah apa saja yang kamu sukai”.

Kenapa Harus Berakhlak?

Pertama: Manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukannya. Bila ia mau ia akan lakukan. Bila tidak ditinggalkan. Terlepas dikerjakan atau ditinggalkan, namun semua itu haruslah ada aturannya.
Kedua:  Manusia bertanggung jawab dari apa yang dilakukannya, baik terhadap Alloh SWT ataupun terhadap manusia. Apa yang dilakukannya pastilah terkait dengan keduanya. Bahkan terkait dengan hak azasi manusia/HAM atau ‘al huquuqul basyariyah’ lebih banyak lagi.
Ketiga: Berkaitan dengan itulah maka Alloh SWT Yang Maha Luas Ilmu-Nya menetapkan seperangkat aturan dan hukum bagi manusia.

سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya” (QS. An Nuur:1).

Namun apa yang dilakukan oleh manusia pastilah akan ada perhitungan baik secara vertikal kepada Alloh ataupun secara horizontal sesama manusia.

Keempat: Islam menetapkan bahwa sumber akhlak mulia adalah Al Qur’anul Karim, dan prototype manusia berakhlak mulia sekaligus sebagai suri tauladannya, dialah Rasulullah Muhammad saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap  (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh”  (QS. Al Ahzaab:21)

Kelima: Islam mewajibkan bagi setiap Muslim untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Baik tidaknya umat ini tergantung dari komitmennya pada gerakan ini.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh” (QS. Ali Imraan:110)

Asas Akhlak Islam: Adil dan Ihsan

Ada 3 lingkup adil:

    Adil kepada Alloh SWT yaitu dengan senantiasa berusaha melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
    Adil kepada diri sendiri, yaitu berusaha untuk tetap berada di dalam pedoman yang telah Alloh tetapkan.
    Adil kepada manusia yakni berusaha untuk berbuat baik, menghilangkan kezaliman dan tidak berkhianat.

Sedangkan ihsan maknanya adalah senantiasa berusaha sebaik-baiknya dalam beribadah kepada Alloh, merasakan kehadiran dan pengawasan-Nya, dan berusaha semaksimal mungkin berbuat kebajikan bagi manusia.

Tujuh Perkara Yang Membahayakan:

Iman Al Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairoh ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Jauhilah tujuh yang mencelakakan!” Para sahabat bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Jawab rasul saw: “Syirik kepada Alloh, melakukan sihir, membunuh manusia yang diharamkan Alloh untuk dibunuh kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan dari dari medan pertempuran dan menuduh zina wanita mukminah yang tidak pernah ada keinginan untuk itu”.

4.    Pembinaan Basis Ilmu. Ilmu adalah kekuatan, siapa yang yang paling unggul ilmunya dialah yang memimpin. Sekarang peradaban yang menguasai dunia adalah peradaban Barat. Ini logis, sebab Baratlah yang menguasai iptek dan science. Berkaitan dengan inilah tatkala Alloh SWT memberikan isyarat tentang pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Kitab Suci-Nya, Dia mengkhitob/menyeru tidak secara khusus ditujukan kepada orang-orang beriman, namun khitob-Nya dilakukan secara umum kepada seluruh jamaah jin dan manusia, sehingga siapa yang lebih dahulu melakukan observasi, kajian dan pengembangan, maka dialah yang  mendapatkannya (QS. Ar Rahman, 55:33).

Pada masa silam para ulama umat Islam selain memiliki penguasaan terhadap ilmu-ilmu agama – atau ‘Kitab Kuning’ menurut Pak AM Saefuddin, mereka juga menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum yang berorientasi pada pengembangan sarana kehidupan – atau ‘Kitab Putih’. Sebagai contoh Ibnu Sina misalkan, yang di Barat disebut dengan Avecienna, selain seorang ulama yang pakar dalam bidang kedokteran sesungguhnya dia juga menulis buku-buku tentang fiqih, tafsir dan akidah.

Dengan penguasaan terhadap kedua bidang ilmu, maka umat Islam di masa yang silam berjaya. Karena umat Islam dewasa ini hendaknya juga memiliki penguasaan yang cukup pada kedua macam ilmu tersebut, baik yang berorientasi pada Kitab Kuning atau Kitab Putih.  Bila hanya menguasai ilmu Kitab Kuning, umat akan menjadi jumud dan tidak dinamis, yang pada gilirannya tertinggal dari umat yang lainnya. Namun bila hanya berorientasi pada penguasaan kitab Putih saja, tanpa peduli pada nilai, norma, etika dan panduan hidup Al Qur’an, umat akan terperosok dalam kehidupan yang sekuler materialistik.

Al Qur’an sebagai Way of Life orang-orang Islam, padanya paling tidak ada 3 tipe ayat, yang apabila kaum Muslimin mensikapinya secara benar dan proporsional, bisa jadi akan menghantarkannya pada kejayaan, kemajuan dan supremasi. Ketiga tipe ayat itu adalah:

Pertama, ayat-ayat tentang keimanan dan keyakinan kepada yang ghaib, seperti iman kepada Alloh, malaikat, takdir/qodho, hari Kiamat, pahala, dosa, surga, neraka dan sebagainya.  Terhadap masalah yang seperti  ini pendekatan yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan hati, yaitu iman.
Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan isyarat-isyaratnya. Terhadap masalah ini pendekatannya adalah dengan menggunakan akal, yaitu dipikirkan, diobervasi, dikaji, dan dikembangkan sehingga lahirlah science dan teknologi.
Ketiga, ayat-ayat tentang hukum dan undang-undang. Terhadap ayat-ayat yang seperti ini kewajiban umat Islam adalah melaksanakan dan menegakkannya.

Pendekatan yang benar dan proporsional akan melahirkan umat yang memiliki keimanan yang kokoh, cerdas dan berilmu pengetahuan dan percaya diri dan bangga dengan identitas dirinya. Inilah modal utama ke arah kejayaan dan supremasi Umat Islam.

Dalam kenyataannya umat ini justru mengalami kelemahan dalam hal itu semua. Walhasil umat sekarang dalam keadaan hina, mundur dan terkebelakang, sebagai konsekwensi jauhnya mereka dari tuntunan dan pedoman hidupnya:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat besar. Alloh tidak lengah dari apa yang mereka perbuat.” (QS. Al Baqarah:85)

5.    Pembinaan Basis Ekonomi

Islam tidak menginginkan umatnya menjadi umat yang miskin sehingga tergantung pada orang lain. Bila ini terjadi maka selain kehinaan yang menimpa setiap kaum muslimin, juga umat akan kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan fungsinya sebagai saksi dan umta terbaik bagi manusia. Karena itulah masalah kerja, produktivitas dan ekonomi sangat diperhatikan oleh Islam.

ANJURAN BEKERJA DAN MENDAPATKAN MATA PENCAHARIAN

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagi kalian di muka bumi itu (sumber penghidupan), amat sedikitlah kalian bersyukur” (QS. Al A’raaf, 7:10)

“Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabiyulloh Daud juga makan dari kerja tangannya sendiri” )HR. Bukhori)

Ibnu Abbas ra bekata: “Adam menjadi petani, Nuh menjadi tukang kayu, Idris menjadi penjahit, Ibrahim dan Luth menjadi petani, Dhalih menjadi pedagang, daud pandai besi, Musa, Syu’aib dan Muhammad menjadi penggembala”.

Dalam berbagai atsar disebutkan bahwa Lukamul hakim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, perhatikanlah mata pencaharian yang halal. Karena jika seseorang menjadi miskin, maka dia terkena salah satu dari tiga perkara: “Kelemahan dalam agamanya, kelemahan dalam akalnya dan kepribadiannya menurun. Yang terbesar dari tiga perkara ini adalah adanya orang lain yang menganggap remeh terhadap dirinya.”

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: “Apa komentar anda tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumahnya atau di masjid, sambil berkata: , ‘Aku tak perlu bekerja apapun, toh rezekiku akan datang sendiri.’ Iman Ahmad menjawab; “Dia adalah orang yang tidak mengetahui ilmu. Apakah di atidak pernah mendengar sabda Nabi saw: “Sesungguhnya Alloh menjadikan rezekiku di bawah lindungan tombakku”, beliau juga pernah bersabda tatkala melihat seekor burung, ‘Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang pada sore hari.’

Para shahabat Rasulullah saw juga berdagang di daratan maupun di lautan, menggarap tanah, dalan sebagainya.”

MENGAPA MUSLIM HARUS BEKERJA?

Dalam pandangan Islam seorang Muslim haruslah bekerja. Ada banyak penjelasan di dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang dapat dijadikan dasar pijakannya. Ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang berkaiatan dengan manusia dan bekerja dijelaskan dalam gambaran sebagai berikut:

1. Implementasi misi manusia sebagai khalifatullah fi’l ardh.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al Baqarah, 2:30)

Manusia tidak mungkin menjadi penguasa dan memakmurkan bumi kecuali dengan bekerja, berkarya dan berprestasi. Untuk itu  Alloh SWT memberi fasilitas:

Bumi/alam semesta, akal dan ilmu:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan” (Al A’raaf:10)

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” (An Nahl:78)

2. Pemeliharaan prinsip keseimbangan (tawazunitas)

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah yang kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (Al Muluk:3)

3. Tidak sama orang yang bekerja dengan orang yang tidak bekerja:

يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tdiak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwanya. Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat” (An Nisaa:95)

4. Rezeki dari Alloh tidak datang dengan sendirinya

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (Al Muluk:15)

5. Produktivitas ditentukan oleh kerja.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan  dan agar Alloh mencukupkan bagi mereka balasan pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan” (Al Ahqaaf:19)

6. Kematian dan kehidupan adalah ujian siapa yang paling baik kerjanya

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al Muluk:2)

7. Aktivitas ekonomi adalah ibadah dan jihad

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan msush Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya” (Al Anfaal:60)

8. Urgensi dan nilai waktu dalam hidup Muslim

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 1-3)

RUANG  LINGKUP KERJA MUSLIM

Dari pandangan tersebut diatas maka kerja dan bekerja bagi seorang Muslim adalah suatu keharusan. Karena seorang Muslim mempunyai kewajiban bekerja dalam ruang lingkup sebagai berikut:

1.    Bekerja untuk mencukupi kebutuhan sendiri.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Turmudzi dari Abu   Hurairoh, Rasulullah saw bersabda: “Sungguh pagi-pagi seseorang berangkat, lalu membawa kayu bakar di atas punggungnya, ia bersedekah dengannya, dan mendapatkan kecukupan dengannya sehingga tidak meminta-minta kepada orang lain, adalah jauh lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau menolaknya. Hal inikarena tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah, danmulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu”.

2.    Bekerja untuk kepentingan keluarga.

Dari Ka’ab bin ‘Ajrah, ia berkata: “Rasulullah saw melewati seorang lelaki, para sahabat melihat kekerasan tangan dan aktifitasnya. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah andaikan itu digunakan di jalan Alloh?”. Jawab Rasulullah saw: “Jika ia keluar bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka termasuk di jalan Alloh. Jika ia keluar bekerja untuk kepentingan kedua orang tuanya yang sudahrenta, maka ia termasuk di jalan Alloh. Jika ia keluar bekerja karena riya’ dan sombong maka ia termasuk jalan syaithon”. (HR. An Nasaai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dari Anas).

3.    Bekerja untuk masyarakat.

Seorang sahabat yang bernama Abu Darda ra, menanam sebatang pohon, padahal ia sudah tua renta. Ada orang yang lewat dan bertanya kepadanya; “Kenapa anda menanam pohon ini padahal anda orang yang sudah tua renta, dan pohon ini tidak akan berbuah kecuali setelah sekian tahun?”. Abu Darda menjawab; “Aku pasti akan mendapatkan pahalanya, meskipun orang lain yang memakannya”.

4.    Bekerja untuk kehidupan dan semua makhluk secara umum.

Sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman atau menumbuhkan suatu tumbuh-tumbuhan, lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, kecuali ia mendapatkan pahala shodaqoh” (HR. Bukhori dan Muslim dari Anas)

5.    Bekerja untuk memakmurkan bumi.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (Huud:61)

6.    Bekerja untuk pekerjaan itu sendiri.

Sabda Rasulullah saw: “Jika hari Kiamat datang dan pada tangan seseorang di antara kamu terdapat sebuah bibit tanaman, jika ia mampu menanamnya sebelum datangnya kiamat, maka hendaklah ia menanamnya” (HR. Ahmad dan Bukhori)

KEHARUSAN DALAM BEKERJA

1.    Bekerja dengan Ikhlas karena Alloh SWT

Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya amal/kerja itu tergantung pada niyatnya, dan sesungguhnya orang itu tergantung dari apa yang diniyatkannya itu” (HR. Muslim)
2.    Bekerja sesuai dengan aturan

Sabda Rasulullah saw: “Muslim itu sesuai dengan syarat-syaratnya (yang telah disepakati)” (Al Hadits)

3. Bekerja dengan sebaik-baiknya (Ihsanul amal)

Sabda Rasulullah saw; “Sesungguhnya Alloh mewajibkan ihsan (baik) dalam segala hal. Jika kalian membunuh (hewan) maka bunuhlah dengan baik. Jika menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah seseorang di antara kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya’ (HR. Muslim)

4. Bekerja dengan penyelesaian yang baik (Itqonul amal)

Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Alloh mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan maka dilakukannya secara itqon (profesional)” (HR. Baihaqi)

TUJUAN KERJA

A.    Memenuhi kebutuhan individu

Dalam kehidupan ekonomi manusia ada 4 tingkatan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Pertama:  tingkatan darurat, yaitu kondisi dimana manusia hidup di bawah standar kecukupan.
Kedua: tingkatan yang lebih baik dari hal tersebut di atas, yaitu tingkatan pas-pasan.
Ketiga: tingkatan yang oleh ahli fiqih disebut sebagai “terpenuhinya kecukupan”.
Keempat: di atas semua itu itu adalah tingkatan mewah dan megah.

Islam tidak rela umatnya hidup pada tingkatan kehidupan yang rendah dan berkekurangan. Tingkatan kelayakan yang sedapat mungkin dicapai ialah terpenuhinya unsur-unsur berikut ini:

1.    Makanan yang cukup, untuk mensuplai jasmani agar memiliki kekuatan dalam melaksanakan kewajiban kepada Tuhan. Rasulullah saw menetapkan bahwa bagi badan ada hak yang tidak boleh tidak harus dipenuhi, sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya bagi badanmu ada hak yang merupakan kewajiban bagimu” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Amr)

2. Air yang cukup untuk minum, kebersihan dan bersuci. Sabda Rasulullah saw:

“Adalah hak (wajib) bagi setiap muslim pada setiap tujuh hari ada satu hari yang dipergunakan untuk membersihkan rambut dan jasadnya” (HR. Ahmad dari Abi Sa’ad)

3.    Pakaian untuk menutupi aurat, menjaga diri dari udara panas/dingin dan untuk memperindah penampilan di hadapan manusia. Firman Alloh Ta’ala:

يَابَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan: (QS. Al A’raaf:26)

4.    Tempat tinggal yang sehat, yang mencerminkan;

a.    Arti ketentraman tempat tinggal yang merupakan karunia Alloh:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا

“Dan Alloh menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak” (QS. An Nahl:80)

b.    Unsur keluasan rumah, yang merupakan salah satu dari pilar kebahagiaan dunia, sebagaimana sabdanya:

“Tiga hal termasuk unsur kebahagiaan manusia muslim di dunia, yaitu tetangga yang saleh, tempat tinggal yang luas, dan kendaraan yang nyaman” (HR. Ahmad)

c.    Unsur perlindungan dari bahaya alam.
d.    Unsur kemandirian, sehingga tidak tampak auratnya bagi orang yang melihatnya, baik yang datang ataupun yang pergi. Kemandirian ini nampak jelas diungkapkan oleh AlQur’an:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat’ (QS. An Nuur:27)

Ibnu Hazm mengemukakan hal ini sebagai suatu kewajiabn yang harus dipenuhi oleh setiap muslim: “Dan rumah yang melindungi mereka dari matahari, hujan, dan pandngan orang yang berlalu lalang”.

Para Ulama berpendapat bahwa setiap orang harus memiliki rumah dan bukan menyewa.

Islam menentukan kelayakan tempat tinggal, seperti luas dan cukup perabotannya, sehingga menjamin pelaksanaan perintah Nabi saw untuk memisahkan anak-anak di tempat tidur masing-masing apabila umurnya telah mencapai sepuluh tahun.

Dalam rumah tersebut mesti ada kamar tamu yang disebut kamar musafir. Imam Muslim dalam shahihnya mengemukakan sabda Nabi saw:

“Satu hamparan (kamar) bagi suami, satu hamparan bagi isterinya, satu hamparan untuk tamu……………..” (HR. Muslim dari Jabir ra).

e.    Sejumlah harta yang bisa ditabung untuk melakukan pernikahan dan membentuk keluarga muslim, memenuhi perintah Nabi saw:

“Wahai golongan pemuda, barangsiapa di antara kamu sekalian sudah mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan” (HR. Jamaah dari Ibnu Mas’ud)

f.    Sejumlah harta yang dapat membantunya untuk mencari ilmu, memenuhi perintah Nabi saw:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

g.    Sejumlah harta untuk berobat jika sakit, memenuhi seruan Nabi saw:

“Wahai hamba Alloh, berobatlah kamu sekalian, sesungguhnya Alloh tidaklah menurunkan suatu penyakit, kecuali memberikan pula obatnya” (HR. Ahmad)

h.    Kelebihan harta yang ditabung untuk keperluan ibadah haji ke Baitulloh, sesuai perintah Alloh SWT:

“Padanya terdapat tanda-tandaa yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrohim. Barangsiapa memasukinya (Baitulloh) itu maka amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulloh. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran, 3:97).

B.    Mewujudkan kemandirian umat.

Bila secara individu, setiap  muslim bekerja dan produktif maka akan lahirlah satu umat yang memiliki perekonomian yang kuat. Maka umat akan mandiri tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian umat akan memiliki izzah, mampu merealisasikan  kemerdekaan dan kepemimpinannya, keteladanan dan kesaksian bagi umat yang lainnya.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al Baqarah, 2:143)-

6.    Pembinaan Basis Politik

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia tidak lain adalah pertarungan antara  kebenaran melawan kebatilan, keimanan versus kekufuran, Islam bertarung dengan kejahiliyahan, tentara Alloh versus tentara iblis dan syaitan.  Genderang  peperangan ini sudah ditabuhkan jauh sebelum umat manusia berkembang-biak sebanyak sekarang ini. Perhatikan firman Alloh Ta’ala:

“Alloh berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. Alloh berfirman: “Maka keluarlah engkau dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkta: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Alloh berfirman: “Sesunguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab; “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad, 38:75-82).

Lebih lanjut, Al Qur’an menterjemahkan pertarungan ini dengan istilah ‘sunnah tadaafu’ yang tujuannya justru dalam rangka memelihara eksistensi dan keberadaan manusia dan kehidupannya. Sunnah in dengan demikian berlangsung secara kontinyu sehingga ia adalah pertarungan dan pergulatan yang terjadi sejak dahulu, kini dan yang akan datang, hingga terjadi hari Kiamat (All Time Confrontation):

“Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam” (QS. Al Baqarah, 2:251)

Dalam konteks inilah Al Qur’an menegaskan bahwa perang itu adalah wajib dengan memakai kata kerja fi’-il majhul ‘kutiba’ yag artinya diwajibkan.  Padahal kata ini biasanya didahului dengan ungkapan ‘yaa ayyuhal ladziina aamanu’ (hai orang-orang yang beriman), namun dalam masalah ini Al Qur’an meninggalkannya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;  Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah, 2:216)

Politik dan pertarungannya bisa jadi bagian dari sunnah tadaafu’, sebab dalam politik pertarungan terjadi dalam rangka merebut, mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Dengan demikian kekuasaan politik mau tidak mau harus melewati pergulatan dan konfrontasi dalam sunnah ini, untuk akhirnya keluar dan unggul sebagai pemenang dan berkuasa. Perhatikan firman Alloh Ta’ala:

“Telah diidzinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Alloh, banar-banar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Alloh”. Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebgaian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Alloh. Sesungguhnya Alloh pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi (kekuasaan politik), niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Alloh-lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj, 22:39-41)

Dari penjelasan yang tersebut di atas, maka umat Islam sesungguhnya adalah pelaku politik yang utama. Secara teoritis, kekuasaan itu seharusnya berada di tangan umat Islam. Sebab dengan politik dan kekuasaan, misi dakwah yang berupa amar ma’ruf dan nah-yi munkar akan dapat terlaksana secara optimal dan effisien. Namun apa mau dikata, umat Islam sekarang ini, hanyalah obyek dan target kebijakan politik, bukan sebagai pelaku utama yang memegang peranan dalam membuat dan memutar kebijakan.
Dalam arena politik dewasa ini, lebih banyak orang munafiknya yang menjual umat dan ayat-yata suci demi obsesi dan ambisi politik praktisnya ketiimbang benar-benar memperjuangkan Islam dan kemuliaaan umatnya. Partai Islam tidak lebih dari sekedar merek manis untuk menjaring suara umat yang ditinggal dan diacuhkan aspirasinya setelah partai tersebut mendapat kedudukan secara politis.

Apa yang bisa dilihat dari fenomena Pemilu yang baru lalu, menunjukkan hal itu. Bila dicermati, Pemilihan Umum tahun 1999 telah menyuguhkan kenyataan politis ideologis yang cukup mengejutkan hati para pemimpin partai politik Islam. Yaitu bahwa umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia telah menjadi minoritas dalam kesadaran politik keislamannya. Umat Islam yang memiliki kesadaran ideologis Islam kurang lebih hanya 11%, umat Islam yang sekedar Islam Kultural sekitar 27%, umat Islam yang beraliran Sekuler Toleran 26%, dan gabungan umat Islam dengan yang lainnya yang beraliran Sekuler Ekstrim mencapai 36%.  Apa sebabnya?

Pertama, karena sebagian beasr umat Islam belum benar-benar memahami nilai-nilai luhur ajaran Islam dan pandangan hidup muslim secara integral dan komprehensif. Hal ini dikarenakan belum adanya kesatuan sistem dan program pendidikan keumatan yang intensif, tidak adanya perencanaan dakwah Islam yang berskala nasional-integral dan tidak proaktivnya operator dakwah menjemput persoalan-persoalan umat.

Kedua, umat Islam belum mewujudkan kehidupan kejamaahannya baik berupa kejamahaan lingkungan hidup (territorial dan kewilayahan) maupun kejamaahan kultural dan ekonomi sesuai dengan pengertian jamaah, yaitu kebersamaan dalam menyelenggarakan kepentingan hidup dan kehidupan bersama di atas prinsip keikhlasan, persaudaraan Islami, persamaan, musyawarah, tolong-menolong dan gotong royong, senasib sepenanggungan. Kejamaahan ini berpusat kepada institusinya yang paling murni, yaitu masjid yang merupakan rumahnya orang-orang yang bertakwa. Sementara kejamaahan yanga ada, lebih merupakan kelompok-kelompok faham, sehingga lebih nampak sebagai firqah dengan ikatan yang abstrak. Hal ini berakibat pada segala perbedaan faham dan masalah-masalah khilafiyah yang seharusnya diproses dalam Majlis Syuro untuk melahirkan kesepakatan jamaah, akhirnya dipakai dan menjadi simbol pembentukan golongan.

Ketiga, karena pembinaan umat selama ini masih bersifat ta’lim, yaitu satu metode pendidikan yang bersifat normatif yang tidak bertanggung jawab mengenai aplikasinya dan cakupannya juga masih bersifat normatif-formalistik. Pembinaan umat belum menerapkan metode takwin (kaderisasi), taujih (pengarahan dan instruksi) dan tadbir (perencanaan) yang semuanya mengarah pada mengaktualisasikan ajaran Islam bagi kesejahteraan hidup dan kehidupan umat.

Keempat, semua faktor tersebut di atas bermuara pada lemahnya sumber daya manusia dan kepemimpinan umat, yakni belum mampu menciptakan pemimpin yang berkualitas dan berkapasitas sebagai imam jamaah yang memiliki kemampuan dalam taklim, takwin, taujih dan tadbir serta berwawasan pembangunan dan memenuhi kebutuhan luas wilayah kejamaahn umat Islam yang meliputi kurang lebih 300.000 lingkungan hidup/pemukiman, 66.000 desa/kelurahan, 310 daerah tingkat II, 27 propinsi dan tingkat nasional dengan kesatuan visi, persepsi, misi dan aktualisasi.

Sementara para pemimpin yang ada lebih menampilkan sosok sebagai muallim, muballigh atau guru agama daripada sebagai socio-religius leasers, yang dalam melaksanakan tugasnya saling tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Mereka belum punya manajemen dalam placement. Umat Islam belum memiliki kesatuan konsep, sistem dan perencanaan pendidikan kepemimpinan umat secara nasional.

7.    Pembinaan Basis Kejama’ahan.

Alloh SWT telah memprogramkan siklus tahuan bagi pembinaan kejamaahan kaum Muslimin. Terdapat kaitan kausalistik antara puasa Ramadhan, ibadah Haji dan bulan Muharram. Seandainya umat Islam – terutama para pemimpinnya – mau mengambil dan mengimplementasikan hikmah ibadah puasa Ramadhan, ibadah Haji dan spirit bulan Muharram, niscaya umat Islam tidak kalang kabut, kaget dan panik dengan terjadinya krisis moneter dan ekonomi yang menghantam secara tiba-tiba dan tidak akan terperangkap oleh strategi dan tipu daya lawan serta insya Alloh akan sanggup mengatasinya.

1.    Ibadah puasa Ramadhan mempunyai fungsi kuratif, rehabilitatif dan pengembangan kepribadian muslim, sehingga dapat menemukan kembali jatidirinya sebagai khalifah Alloh di bumi yang memiliki nilai-nilai insan kamil (manusia paripurna) dan kepribadian yang utuh (integrated personality). Dengan puasa Ramadhan, setiap pribadi Muslim, terutama para ulama dan zu’ama, seyogyanya dapat meraih nilai-nilai dan kekuatan spiritualnya yang tertinggi yang terumuskan ke dalam satu kalimat Al Ikhlashu Lillahi.

2.    Setelah melaksanakan puasa ramadhan, umat diberi kesempatan oleh Alloh selama 3 bulan (Syawwal, Dzul qo’dah dan dzulhijjah) untuk mengkonsntrasikan potensi kejamaahannya dengan jalan meraih dan mengaktualisasikan nilai-nilai moral sosialnya yang tertinggi, yang terumus dalam kalimat yang pendek “Al Ishlah Bainan Naas”, yakni mewujudkan kesatuan dan kerukunan, keharmonisan dan kedamaian antar sesama umat manusia, khususnya kaum Muslimin dalam wujud kesatuan kejamaahan yang solid,  bagaikan satu  bangunan yang kokoh, baik dalam kejamaahan kehidupan kulturalnya maupun dalam kehidupan kjeamaahan sosial ekonominya. Maka dalam waktu 3 bulan itu, dengan melaksanakan silaturrahmi yang proaktif, kaum Muslimin diharapkan dapat mengkosolidasikan :

a.    Kesatuan kejamaahan sekeluarga.
b.    Kesatuan kejamaahan sekampung.
c.    Kesatuan kejamaahan sekelurahan/desa
d.    Kesatuan kejamaahan sekecamatan
e.    Kesatuan kejamaahan sekabupaten
f.    Kesatuan kejamaahan sepropinsi
g.    Kesatuan kejamaahan setanah air
h.    Kesatuan kejamaahan sedunia/global

Pada waktu melaksanakan ibadah Haji, hendaknya Umaraul Hajj dari tiap negara mengangkat pemimpin mereka untuk memimpin diskusi-diskusi mengenai urusan umat Islam sedunia. Maka dengan ibadah haji itu umat Islam seluruh dunia dipersatukan dan dijama’ahkan di dalam kesatuan lembaga kejamaahan Alloh yang tersusun secara piramidal sebagai berikut:

a.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh sedunia, yaitu pada baitullah/ Masjidil Haram dan Imamnya
b.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat nasional dan imamnya.
c.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat propinsi dan imamnya.
d.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kabupaten/kodya dan imamnya.
e.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kecamatan dan imamnya.
f.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kelurahan/desa dan imamnya
g.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kampung dan imamnya.

Kesatuan kejama’ahan Alloh ini itu didasari oleh prinsip-prinsip Ukhuwah Islamiyah, musawah (persamaan), ta’awun (tolong-menolong gotong-royong), takaful ijma’I (senasib sepenanggungan), jihad, ijtihad dan amal (berjuang, berkreasi dan berkarya) fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan), tasamuh (toleransi) dan istiqamah (berdisiplin di atas jalan yang lurus).

3.    Dengan memasuki bulan Muharram, maka umat Islam baik secara mental maupun fisik, baik individu maupun komunitas/jama’ah siap melaksanakan tugas dari Alloh, yakni jihad fii sabilillah, berjuang melaksanakan amanat Alloh untuk membangun dunia dan masyarakat yang hayatan thoyyibah dengan keunggulan syurgawi, yaitu masyarakat yang:

c.    Laa Khaufun ‘Alaihim, yakni masyarakat yang bersatu, aman, damai, tertib, bersih dan berakhlak mulia, bebas dari segala ketakutan dan kekhawatiran, karena keutuhan dan kekuatan jama’ahnya.
d.    Walaahum Yahzanun, yakni masyarakat yang inovatif, dinamis, produktif, efisien, berkeadilan dan berkemakmuran yang merata, bebas dari segala keprihatinan dan penderitaan oleh serba kekurangan, kemiskinan dan ketergantungan.

VI. Tahapan Dakwah Dalam Pembinaan Umat

Menuju ke arah umat yang mandiri merdeka dan kokoh kuat, pembinaan hendaklah dilakukan dengan seksama dan sistematis, tidak asal-asalan. Dengan berbagai masalah yang ada, serta latar belakang yang beragam, perlu kiat tensendiri agar pembinaan umat itu sukses. Salah satu kunci yang terpenting adalah proses pentahapan atau penjenjangan dakwah dan obyek dakwah.  Ada 5 tahapan dakwah dalam pembinaan umat:

1.    Tahapan Tabligh (Tahapan Informasi)

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai, Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Alloh memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah:67)

2.    Tahapan Ta’lim (Tahapan Edukasi)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. “(QS. Al Jumu’ah:2)

3.    Tahapan Takwin (Tahapan Indoktrinasi)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran:104)

4.    Tahapan Tanzhim (Tahapan Organisasi)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff:4)

5.    Tahapan Tanfidz (Tahapan Aplikasi).

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir  itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al Anfaal, 8:65)

wallahu a’lam.

Sumber:
1.    Siroh Nabawiyah, Al Buuthi
2.    Siroh Khulafaur Rasyidin
3.    Asaalib Al Ghozwu Al Fikri, Dr. Ali Juraisyah
4.    Fiqhud Dakwah, Dr. Abdul Halim
5.    Peran Etika Dan Moral Dalam Ekonomi Islam, Dr. Yusuf Qordhowi
6.    Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah
7.    Kuliah Ahlak, Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA
8.    Umat Islam Menghadapi Tantangan Millenium Baru, Ceramah KH. Shalahuddin Sanusi pada acara Silaturrahmi Idul Fitri 1420 H Keluarga Besar Yayasan PTDI beserta Ormas Islam dan Parpol Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: