ROKOK

Bahaya merokok dari segi kesehatan sudah tidak perlu didiskusikan atau diragukan lagi, karena dokter-dokter dari seluruh dunia berdasarkan ilmu dan penelitian menyatakan bahwa merokok itu sangat berbahaya, bahkan tidak hanya bagi si perokok, tapi juga bagi siapa saja yang menghirup asapnya, karenanya mereka sering disebut dengan perokok pasif yang bahayanya lebih besar diperolehnya daripada si perokok sendiri. Dari segi ekonomi, merokok amat merugikan, bukan hanya uang yang dicarinya dengan susah payah habis terbakar percuma, tapi penyakit yang diderita akibat merokok juga akan membuatnya harus mengeluarkan banyak uang untuk menyembuhkannya. Ini berarti, ditinjau dari sisi apapun, merokok merupakan sesuatu yang tidak baik, bahkan tidak sedikit ulama yang akhirnya mengharamkannya. Karena itu kampanye berhenti merokok dan membatasi ruang lingkup para perokok menjadi sesuatu yang amat penting.

TELADAN DARI TOKOH.

Tokoh-tokoh masyarakat seperti ulama, kiyai, muballigh, guru, para pejabat, pemimpin, orang tua, publik figur dan sebagainya semestinya memberikan contoh yang baik dengan tidak merokok dan menghentikan kebiasaan buruk itu. Sebagai tanggung jawabnya yang besar ditengah-tengah masyarakat, mereka semestinya bisa memberi teladan yang baik, minimal dalam bentuk tidak merokok di depan orang lain atau di depan umum, apalagi pada saat dia sedang diliput oleh media masa seperti televisi. Akibatnya, banyak masyarakat yang meneladani mereka dalam soal merokok, bahkan anjuran untuk tidak merokok dianggap sepele dengan berdalih kepada mereka, misalnya dengan mengatakan: “ah kiyai dan guru juga merokok” dan begitulah seterusnya.

Orang-orang yang kecanduan ganja dan narkotika (Narkoba) mulanya dari kebiasaan merokok, mungkin inilah diantara makna pribahasa yang bisa kita artikan di zaman sekarang: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. “Kiyai merokok, santri menggele”.” Guru merokok, murid mengganja”, begitulah yang memang harus kita waspadai. Hal ini karena, generasi kita sudah hancur akibat narkotika yang dimulai dari kebiasaan merokok dan kebiasaan itu meniru tokoh-tokoh yang disebutkan di atas.

Karena itu, kita amat prihatin bila tokoh-tokoh masyarakat yang semestinya memberi teladan yang baik, tapi malah menunjukkan hal-hal yang tidak baik. Zaman saya sekolah di Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMU), bila ada teman sesama murid merokok, maka teman saya itu dianggap sebagai murid yang tidak baik atau murid badung dan nakal. Karenanya teman saya itu biasanya takut-takut untuk merokok di tempat yang dilihat oleh guru atau di tempat umum, mereka biasanya merokok di WC, tapi sekarang tidak perlu takut-takut lagi karena guru, orang tua dan kiyai sudah memberi contoh untuk merokok di tempat umum.

SANGSI UNTUK PEROKOK

Mengingat bahaya merokok di depan umum sangat besar, maka di banyak tempat sudah diberlakukan larangan secara tegas untuk tidak merokok di kawasan tertentu, bahkan bukan hanya dalam bentuk tulisan “dilarang merokok disini” atau “kawasan bebas asap rokok”, tapi juga dengan memberlakukan sangsi bagi mereka yang melanggarnya. Ini merupakan sesuatu yang harus kita dukung. Harian Media Indonesia, Senin 4 September 2000 menginformasikan soal ini. Di Italia, merokok di tempat umum bahkan di ruang pribadi yang digunakan untuk umum didenda antara 100.000-300.000 Lira (Rp 415.000-1.250.000). Begitulah Undang-Undang yang dirancang oleh Menteri Kesehatan Italia dan telah mendapat persetujuan. Uang denda itu selanjutnya digunakan untuk membiayai kampanye anti merokok. Dengan cara itu, para perokok menjadi berkurang satu persen setiap tahunnya sejak tahun 1993.

Meskipun belum banyak yang menerapkan peraturan soal itu, tapi di negeri kita yang tercinta ini juga sudah dimulai. Berdasarkan informasi Harian Republika, Sabtu 12 Agustus 2000, Walikota Kendari, Mashur Masie Abunawas telah mengeluarkan instruksi larangan merokok bagi seluruh staf dan para tamu selama berada di ruangan atau halaman kantor walikota. Kalau melanggar maka si pelaku didenda Rp 10.000. Seandainya semua pejabat, baik di instansi pemerintah maupun swasta mau menerapkan ketentuan yang tegas tentang ini, tentu akan sangat menyenangkan, apalagi bila hal itu juga betul-betul diberlakukan di kendaraan umum seperti pesawat, kapal laut, kereta, bus antar kota, bus kota, angkot dan sebagainya. Begitu juga di halte-halte bus, terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Namun sayangnya, di tempat-tempat seperti itu justeru rokok begitu mudah didapat, bahkan para sopir sudah biasa merokoh saat mengemudikan kendaraan.

TINJAUAN AKHLAK

Pada hakikatnya, akhlak mendidik dan mengarahkan manusia untuk saling hormat-menghormati, sayang-menyayangi, bantu-membantu dan menjauhi saling mengganggu, menyakiti dan membahayakan orang lain. Dalam kaitan merokok yang asapnya sangat berbahaya bagi orang lain, maka orang yang merokok di tempat umum seperti merokok di kendaraan umum, halte bus, ruang pertemuan, kantor, sekolah dan sebagainya merupakan tindakan yang tidak mencerminkan akhlak yang mulia. Namun masalahnya adalah orang yang merokok itu meskipun di kamarnya sendiri sudah tidak berakhlak baik pada dirinya, karena hal itu menyakiti dirinya sendiri, maka akhirnya dia tidak peduli dengan orang lain, meskipun orang itu sangat menderita dengan asap rokok yang dihirup, itulah sekarang yang kita saksikan dimana-mana, ini berarti, akhlak masyarakat kita masih sangat rendah.

MEROKOK DI MASJID

Khusus untuk merokok di masjid, semestinya pengurus masjid memasang papan peringatan yang tulisannya  “Dilarang Merokok Di Lingkungan Masjid”. Hal ini karena masjid merupakan tempat suci yang harus dijaga kesucian dan kebersihannya, karenanya Rasulullah Saw melarang seseorang untuk datang ke masjid kalau mulutnya masih bau bawang merah, bawang putih atau kucai. Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Barangsiapa makan bawang merah, bawang putih dan bawang pia, janganlah ia mendekati masjid kami; karena para malaikat merasa terganggu dari segala yang mengganggu perasaan anak Adam (HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah).

Bahkan masjid-masjid kita semestinya bukan bau asap rokok, tapi bau minyak wangi atau segala bentuk wewangian yang menyenangkan sehingga membuat kita menjadi betah berada di dalamnya, hal ini terdapat dalam satu hadits yang artinya: Nabi Saw memerintahkan untuk membangun masjid di desa-desa dan diperintahkannya pula agar dibersihkan dan diharum-harumi (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Oleh karena itu kita semestinya amat prihatin bila di masjid ada orang yang merokok, baik di dalam, di halaman maupun di kantor atau sekretariat masjid, apalagi kalau yang merokok itu adalah pengurusnya dan apalagi  kalau yang merokok di masjid itu adalah kiyainya. Namun inilah memang yang amat kita sayangkan, banyak sekali pengurus masjid yang merokok di dalam masjid, baik pada saat mengobrol biasa maupun rapat-rapat resmi pengurus masjid.

Karena itu, bila masalah ini dihayati lebih lanjut, maka para perokok di depan umum atau dihadapan orang lain akan berdosa, besar dosanya adalah sebanyak orang yang terganggu dengan asap rokoknya itu, belum lagi dengan tempat yang akhirnya menjadi kotor dengan debu rokok. Karena itu, tiada kata lain: Para perokok harus menghormati orang yang tidak merokok, bukan seperti selama ini; yang bukan perokok harus toleran pada para perokok.

Demikian salah satu dari sekian banyak persoalan yang harus kita benahi pada masyarakat kita. Diperlukan kerjasama semua pihak. Pemerintah semestinya tidak mengizinkan iklan rokok di tempat-tempat umum, sedangkan media massa seharusnya tidak menerima iklan rokok, apalagi minuman keras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: