BERINTERAKSI TANPA TERKONTAMINASI

Manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. Misi yang merupakan tujuan asasi di mana ia diciptakan di atasnya. Ada tiga misi yang bersifat given (‘atho’ rabbani) yang diemban manusia; yaitu misi utama untuk beribadah (QS 51:56), misi fungsional sebagai kholifah (QS 2:30) dan misi oprasional untuk memakmurkan bumi (QS 11:61). Namun keberlangsungan dan kelestarian misi ini secara benar apabila manusia mau mendengar dan mentaati risalah yang di bawa para Rasul. Hanya saja tidak semua manusia mengikuti dan menerima seruan mereka, bahkan sebagian besar dari manusia ini mendustakan dan mengingkari risalah ilahiah yang dibawanya. Allah berfirman;

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)

Maka, manusia yang mampu menerjemahkan tiga misi tersebut ke dalam bahasa lisan, tindakan dan sikap adalah manusia yang beriman kepada Allah SWT. Manusia yang senantiasa merespon seruan dan khithob rabbani dengan hanya mengucapkan kalimat ini; “sami’naa wa atho’naa”. Inilah syi’ar kehidupan manusia qurani dan rabbani. Hamba-hamba Allah yang akan dijanjikan kepada mereka “istikhlaf” di bumi-Nya. Allah berfirman;

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 24:51)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. 24:55)

Berdasarkan ayat di atas bisa kita konklusikan bahwa umat Islamlah yang diberi beban amanah ilahiah dan yang sanggup mengimplementasikannya ke dalam seluruh dimensi kehidupan. Maka umat Islamlah yang seharusnya memimpin dunia, yang berkewajiban mengajarkan manusia tentang system ilahiah dan membimbingnya untuk melakukan islamisasi dalam kehidupannya secara totalitas sehingga mereka benar-benar bisa keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Renungkan apa yang telah dikatakan seorang jundi, Rib’I bin Amir kepada Rustum, panglima Persia dalam perang Qodisiah, ketika ia bertanya:“Gerangan apa yang membuat anda datang ke negeri kami?”, lalu ia menjawab dengan kalimat ini;

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia yang dikehendaki-Nya dari penghambaan hamba menuju pengabdian kepada Allah semata, dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Oleh karenanya, tugas ini bukanlah tugas yang ringan dan juz-iah (parsial) atau sampingan tanpa dibarengi dengan usaha-usaha maksimal. Akan tetapi tugas atau dakwah ini merupakan urusan yang besar nan agung, urusan yang berkaitan dengan pembentukan syakshiah islamiah, kelestarian system-sistem ilahiah dan kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Sayyid Qutb mengatakan: “Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinu kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan bisa memikul dakwah kecuali atas bantuan Allah SWT dan tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali dengan keikhlasan pada-Nya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa, malamnya qiyam (shalat) dan ucapannya penuh dengan dzikir. Sungguh hidup dan matinya hanya untuk Allah Rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagi-Nya.” (Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, Sayyid Qutb)  

Dan untuk mensukseskan amanat yang agung ini perlu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki iman yang kuat, keikhlasan, hamasah yang membara dan tadhhiat serta amal yang mustamir (kontinu). Sehingga nilai-nilai kebenaran Islam yang termuat dalam gerbong dakwah benar-benar terealisir dan bisa dirasakan oleh semua manusia.

 

URGENSI BERDAKWAH

Berdakwah yang bertujuan dan berorientasi kepada perbaikan individu muslim, pembentukan keluarga muslim, pembinaan masyarakat Islam, pembebasan tanah air dari hegemoni asing, perbaikan hukumah (pemerintah) agar menjadi hukumah islamiah yang senantiasa memperhatikan kemaslahatan umat dan menjadi “ustadziatul ‘alaam” (soko guru dunia) merupakan risalat para Nabi dan Rasul. Di mana setiap Nabi berkewajiban mendakwahkan apa-apa yang telah diterima sebagai wahyu dari Allah -azza wa jalla- kepada umatnya. Ia harus mentablighkan risalat ilahiah ini dengan penuh amanah, kejujuran, kecerdasan dan kesabaran di tengah masyarakatnya. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)   

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. 33:45-46)

Berdakwah juga merupakan kewajiban syar’I yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam berdasarkan beberapa dalil berikut ini;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)

Ayat ini secara jelas menunjukkan wajibnya berdakwah, karena ada “lam amr” di kalimat “wal takun”. Begitu juga Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” Hadits ini secara eksplisit menisyaratkan bahwa setiap muslim harus mentablighkan apa-apa yang telah di bawa Rasulullah Saw kepada seluruh manusia, walaupun hanya satu ayat ataupun satu hadits.

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. 5:63)

Ibnu Jarir at-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa ia berkata: “Tidak ada di dalam Al-Quran suatu ayat yang lebih keras mengolok-olok daripada ayat ini.”  (Tafsir Ibnu Jarir). Sedangkan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata: “Ali bin Abi Thalib pernah berkhotbah, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya umat sebelum kamu itu hancur disebabkan mereka berbuat maksiat sedangkan orang-orang alim dan para pendeta mereka tidak melarangnya sampai akhirnya ditimpa siksa di saat mereka terus menerus asyik dalam kemaksiatannya. Oleh karena itu, perintahkanlah mereka untuk berbuat makruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum turun kepada adzab seperti yang turun kepada mereka. Ketahuilah bahwasanya amar makruf dan nahi mungkar itu tidak akan memutuskan rizki dan tidak pula mendekatkan ajal.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/74)

Berkaitan dengan masalah ini, Allah juga menggambarkan fenomena masyarakat mukmin yang selalu melakukan ta’wun dan amar ma’ruf nahi munkar di antara mereka. Allah berfirman;

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9:71)

Sebagaimana dakwah itu merupakan kewajiban syar’I, ia juga merupakan kebutuhan masyarakat. Karena dengan dakwah, masyarakat mampu memahami nilai-nilai kebenaran Islam, mampu membedakan antara yang hak dan yang batil dan akhirnya mereka bisa mengaplikasikan ajaran Islam ini lewat sentuhan lembut tangan para da’I yang bijak, para penunjuk jalan yang tegar dan para muballigh yang sabar. Dakwah merupakan muara segala kebaikan, benteng penangkal siksa dan escalator yang menghantarkan do’a para hamba.mi’raj kepada Rabbnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Dzat yang mana jiwaku ada pada Tangan-Nya, sungguh kamu harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah akan menimpakan kepada kamu adzab, kemudian kamu berdo’a maka do’a itu tidak akan dikabulkan.” (HR at-Tirmidzi, hadits hasan)

Jadi, jelaslah bahwasanya setiap muslim yang sadar dengan identitasnya, ia harus berpartisipasi dalam mengemban amanah dakwah ini. Apalagi kita sebagai pemuda atau orang tua yang berjiwa muda, ia harus dinamis membangun jaringan dakwah dan pro aktif untuk ikut memperbaiki masyarakatnya. Imam Syafi’I dalam antologi puisinya berkata:

“Siapa yang tidak mau ta’lim (dakwah/membina) pada masa mudanya, maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah (mati sebelum ia mati).”

Maka Setiap ucapan, gerak dan tindakan seorang akh yang telah bergabung dalam dakwah ini harus benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam dan harus mampu menjadi pesona Islam di tengah-tengah masyarakatnya.

NAKHTALITHU WA LAAKIN NATAMAYYAZU

Nakhtalithu (bergumul dan berinteraksi)

Setelah kita memahami dengan benar urgensi dakwah di atas, maka tidak boleh ada sebagian kita yang hanya berpangku tangan, menikmati rehat yang berlebihan dan tidak boleh lagi ada seorang akh yang mengatakan kalimat ini; “Pergilah kamu sendiri ke medan dakwah, aku di sini menunggu natijah akhirnya saja.” Sebagaimana yang telah diabadikan Al-Quran dalam sebuah ayatnya tentang ungkapan Bani Israel kepada Nabinya, Musa as. Allah berfirman;

“Mereka berkata:”Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. 5:24)

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Bani Israel takut turun ke medan pertempuran menghadapi musuh-musuh Allah, takut akan kematian, takut memikul beban berat dakwah dan membiarkan qiyadah berjuang sendirian dalam liku-liku terjal medan dakwa dan perjuangan. Inilah sebuah pengkhianatan jundiah terhadap qiyadah, sebuah bingkai kedustaan di antara mereka untuk menolong syari’at Allah dan agama-Nya dan sebuah pengingkaran terhadap nilai kebenaran dan jalan kebaikan yang dipilihnya. Haihaata, haihaata (jauh dan jauh) perbedaannya antara Bani Israel dengan sahabat-sahabat Rasulullah, di saat menghadapi Kuffar Quraisy dalam perang Badar. Di mana Abu Bakar bersama sebagian besar sahabat Muhajirin dan Anshor (Sa’ad bin Mu’adz dan al-Miqdad bin ‘Amr al-Kindy) begitu semangat mendukung keinginan Rasulullah untuk maju dalam medan pertempuran. Sebagian mereka mengatakan: “… Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan haq, sekiranya kita berjumpa dengan lautan kemudian engkau menyeberanginya niscaya kami akan bersamamu. Tidak ada seorangpun yang boleh tertinggal. Kami juga tidak suka menunda peretempuran sampai besok. Sungguh kami adalah orang-orang yang sabar dalam pertempuran….”

Dan sebagian yang lain berkata: “Demi Allah …. Wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan Bani Israel kepada Musa; “idzhab anta wa rabbuka faqootilaa innaa haa hunaa qoo’iduun”, akan tetapi kami akan berperang bersamamu, kami tetap berda di sampingmu, kanan, kiri depan maupun belakang.” (Mukhtahor Tafsir Ibnu Katsir, II/503)

Oleh karenanya, setelah kita mampu mengishlah diri kita dan mempersiapkan bekal dakwah yang memadai baik secara jasadiah, ruhiah maupun aqliah, maka kita harus “nakhtalith” (bergumul dan berinteraksi) dengan masyarakat untuk menyerukan nilai-nilai kebenaran Islam yang termuat dalam gerbong dakwah kita. Kita harus pro aktif melakukan interaksi social di tengah-tengah masyarakat untuk menebarkan cahaya Islam. Karena kita tidak boleh berhenti di saat kita sampai terminal kesalehan pribadi. Namun kita dituntut terus menerus mentransfer nilai-nilai kesalehan yang ada di terminal ini ke terminal selanjutnya, yaitu terminal kesalehan social. Ingat syi’ar dakwah kita adalah kalimat ini; “Ashlih nafsaka awwalan wad’u ghairaka tsanian.” Artinya setiap kita setelah mampu melakukan perbaikan diri harus menyeru dan mengajak orang lain untuk kembali kepada nilai-nilai Islam. Agar mereka sama-sama merasakan lezatnya beriman dan bertakwa dalam shaf dakwah.

Dan inilah sosok pribadi muslim yang diharapkan oleh Islam. Manusia muslim yang senantiasa berjalan dan bergumul di tengah-tengah masyarakat dengan cahaya Islam. Perhatikan ayat di bawah ini;

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (QS. 6:122)

Ustadz al-Bahy al-Khuly dalam “Tadzkiraat ad-Du’aat” mengingatkan kepada seorang akh yang telah bergabung dalam dakwah ini, sedangkan ia masih ada kegamangan dan keraguan untuk memikul beban berat mas’uliah dakwah. “Kami berkata: “Kenapa kamu ini, tidakkah kamu ingin menjadi da’iah. Sementara kami telah menjelaskan sebagian beban-beban dakwah ini. Maka apabila kamu merasa mampu, lakukanlah sesuai dengan kemampuanmu. Dan jikalau tidak, maka sesungguhnya Allah mengabaikan (tidak memperhitungkan) orang-orang semacam kamu. Duduklah bersama barisan orang-orang yang lemah. Dan bertakwalah kepada Allah dalam barisan yang berbahaya ini.” (hal 208)

Dan untuk sampai kepada tujuan akhir yang kita inginkan, dakwah ini harus didukung oleh “katsratul anshor” (banyaknya penolong) yang memiliki kemampuan merekayasa masyarakat dan membentuk “ar-rakyul ‘aam” (opini umum). Hal ini mustahil bisa kita realisasikan tanpa ada usaha dan upaya maksimal dalam menjaring dan merekrut obyek dakwah yang ada di masyarakat. Dan tausi’ah (perekrutan) ini, tidaklah berhasil kecuali kita harus bergumul dan berinteraksi (ikhtilath) di tengah-tengah ummat. Jadi bergumul dengan masyarakat dalam qaidah dakwah kita merupakan suatu keniscayaan sekaligus kewajiban yang tidak mungkin diabaikan oleh kader-kader dakwah ini. Mungkinkah melahirkan generasi-generasi rabbani dengan berpangku tangan?, membangun umat dengan berdiam di rumah tanpa melakukan gerakan dan aktifitas?, dan mungkinkah menuju ustadziatul ‘alam dengan kemalasan, statis dan rehat yang berlebihan?.

Oleh karenanya, dalam melahirkan dan menjaring generasi-generasi rabbani dan generasi penolong-penolong agama harus ada gerakan dakwah yang terorganisir serta dibarengi dengan kehendak yang kuat, kehendak yang tidak pernah mengenal kejenuhan dan kelemahan. Harus ada “wafa’ tsabit” yang tidak pernah mengenal kepura-puraan dan pengkhianatan. Harus ada tadhhiat (pengorbanan) luhur yang tidak pernah mengharapkan imbalan dan harus diiringi dengan pemahaman yang benar tentang “mabda” (dasar atau prinsip) dakwah ini. Perhatikan ungkapan sang Da’I di bawah ini;

“Sesungguhnya tujuan akhir dan natijah yang sempurna tidak pernah terealisir kecuali setelah (adanya tiga kekuatan ini); “‘umuumud di’aayat” (gencarnya dan tersebarnya pesan sponsor dakwah yang membentuk opini umum), “katsratul anshaar” (banyaknya pendukung yang mampu membentuk jaringan-jeringan dakwah) dan “matanatut takwiin” (kekokohan pembinaan yang mampu membangun wajihat-wajihat amal)

“Sesungguhnya membangun bangsa, mentarbiah masyarakat, merealisasikan cita-cita dan memperjuangkan serta menancapkan tonggak-tonggak (dakwah) membutuhkan -dari umat atau kelompok yang berusaha atau menyeru kepadanya- minimal kepada kekuatan jiwa yang agung dengan ciri-ciri; (memiliki) iradah qowiah yang tidak pernah melemah, wafa tsabit (kesetiaan yang teguh) yang tidak pernah disusupi kepura-puraan dan pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pemahaman, keyakinan dan penghormatan yang tinggi terhadap prinsip atau dasar (dakwah) yang mampu menghidarkannya dari kesalahan, penyimpangan, tawar-menawar dan tertipu oleh prinsip atau ideology lain. Hanya di atas pilar-pilar utama ini-yang sepenuhnya menjadi kekhususan jiwa- dan hanya di atas kekuatan ruhiah yang dahsyiat, prinsip-prinsip dakwah ini dibangun, umat yang sedang bangkit terbina, bangsa yang berjiwa muda terbentuk dan sungai kehidupan terus mengalir dalam jiwa orang-orang yang sekian lama mengalami kekeringan….” (Risalat Ilaa Ayyi Syai-in Nad’u an-Naasa)

Natamayyazu (tampil beda dan istemewa)

Dan di saat berikhtilath (bergumul) dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat, kita akan berhadapan dengan beragam sikap, watak, budaya dan nilai-nilai social yang jauh dari bingkai moral keagamaan. Bisa jadi kita berada dalam sebuah lingkungan social yang rentan dengan budaya negatif destruktif dan yang mampu menumbangkan tonggak-tonggak pemikiran serta prinsip yang selama ini kita yakini akan kebenarannya. Sehingga terjadi “idzbatusy syakhsyiah islamiah” dalam diri kita. Kemudian sedikit demi sedikit kita larut dalam kubangan budaya dan kebiasaan yang tidak islami. Dan akhirnya kita lupa akan prinsip-prinsip kebenaran yang selama ini kita bangun. 

Maka meskipun bergumul dengan seluruh segmen masyarakat, kita harus terus menerus mempertahankan prinsip kebenaran Islam. Kita tetap memilki benteng “mumaayazah wa muwaashalah” (pembeda dan pembatas) yang mampu menjembatani antara diri kita dan nilai-nilai destruktif yang ada di masyarakat. Karena prinsip dakwah kita adalah syi’ar ini; “nakhtalithu wa laakin matamayyazu” (berinteraksi tanpa terkontaminasi). Kita tidak boleh mengikuti keinginan-keinginan obyek dakwah yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam atau malahan bertentangan dengannya. Allah berfirman;

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS 5:48)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. 23:71)

 Sebagai kader dakwah yang menjadi politikus atau yang duduk dalam tiga lembaga tinggi negara harus mampu menjaga “mabadi islamiah” yang berkaitan dengannya, mengutamakan pelayanan masyarakat, menjunjung tinggi prinsip keadilan dan supremasi hokum dan tidak kalah penting menjaga citra identitas keislamannya. Sehingga seorang kader senantiasa berhias dengan etika dan moral islami ketika memmainkan peran dalam lembaga tinggi ini. Dan tidak sebaliknya, bersikap dan bertindak yang tidak mencerminkan sikap seorang kader dan bahkan mencoreng citra serta nilai-nilai luhur Islam.

Sebagai ekonom, entrepreneur dan budayawan muslim, ia harus senantiasa berpegang teguh dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Islam. Sehingga semua muslim yang terjun dalam berbagai macam dimensi kehidupan tetap menjadi cahaya yang terus menerus menyinari lingkungan sekitarnya. Mereka tidak pernah mendukung  atau ikut-ikutan KKN, mereka tidak terjangkit penyakit dekadensi moral (perselingkuhan, wil & pil, perzinaan dan mabuk/nyimeng) dan mereka juga tidak berfoya-foya serta menghambur-hamburkan uang negara. Sebaliknya, mereka harus bisa menjadi uswatun hasanah terhadap apa yang diserukannya, qudwah hasanah dalam ucapan, perbuatan, sikap keseharian dan harus menjadi model-model muslim yang ideal nan mempesona.

Oleh karenanya, seorang kader sebelum terjun dalam medan dakwah harus membekali dirinya dengan bekal ruhiah yang kokoh selain bekal ilmiah dan menegerial. Hal ini dimaksudkan untuk menjembatani antara diri seorang kader dengan virus-virus budaya dan moral yang tumbuh bak jamur dalam masyarakat. Sehingga kekuatiran akan munculnya “idzbatu syakhsyiah islamiah” tidak terjadi pada diri seorang kader.    BEBERAPA TIPS UNTUK PARA DA’I

            Persiapan Para Da’I

Seorang da’I sebelum terjun ditengah-tengah masyarakatnya harus memiliki bekal-bekal sebagai berikut:

q       Persiapan ruhiah imaniah yang meliputi;

ü      Memperkuat ibadah amaliah dengan menjaga kewajiban, membiasakan wirid harian, iltizam dengan amalan sunnah dan fadloil ibadah maupun amaliah

ü      Membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT melalui dzikir yang kontinu, melakukan munajat rabbaniah, tahajjud, istislam (pasrah) terhadap segala ketentuan-ketentuan ilahiah dan mempertajam makna hubungan dengan-Nya

ü      Menghidupkan jiwa dan membangun hati yang salim dengan tazkiatunnafs, membangun ibadah-ibadah qolbiah -seperti ikhlas, rasa takut, tawakkal, mahabbah, raja’ dan bertaubat-, menutup pintu-pintu setan –seperti cinta kehidupan, panjang angan-angan, suka rehat, ujub, riya’, takabbur dan thama’- dan mengingat kehidupan akhirat.

q       Persiapan ilmiah tsaqofiah yang meliputi;

ü      Melakukan imunisasi dengan ilmu syar’I

ü      Memperkaya tsaqofah islamiah

ü      Mengkaji pemikiran Islam

ü      Membangun skill dan kebiasan berfikir

q       Persiapan jasadiah yang meliputi;

ü      Menkonsumsi makanan yang halal dan bergizi

ü      Memperhatikan sebab-sebab kekuatan dengan berolah raga

ü      Memperhatikan kesehatan dengan chek up dan mnejaga kebersihan

Sifat-sifat Seorang Da’i

            Dalam buku “Dakwah Fardiah” Ustadz Musthofa Masyhur menjelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’I sebagai berikut;

Ø      Sifat ikhlas, karena tanpa keikhlasan segala amal usaha akan sia-sia

Ø      Harus dapat memperkirakan besarnya tugas yang akan diemban sehingga dapat memberikan perhatian secara proporsional dengan tetap mengharapkan balasan-Nya yang agung

Ø      Bersikap bijak dan hati-hati dalam memilih methode pendekatan, memberi nasehat yang baik dan berargumentasi dengan ahsan (cara terbaik)

Ø      Bersikap lembut dan berakhlak mulia; penyabar, dapat menahan diri dan menyerahkan segala kesulitan di jalan dakwah kepada Allah SWT

Ø      Hendaknya memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang masyarakatnya. Mengetahui segala permasalahan dan aliran yang berkembang di tengah-tengahnya da berusaha lebih banyak tentang orang yang didakwahi

Ø      Seorang da’I harus memilki pemahaman agama yang mendalam dan berusaha untuk memperkaya keilmuannya. Karena orang yang tidak memiliki apa-apa tidak mungkin memberi (Faaqidusy Syai’ Laa Yu’thi)

Ø      Hendaknya menghafal Al-Quran sesuai dengan kemampuan agar dapat digunakan sebagai dasar-dasar dalam dakwahnya.

Ø      Memadukan muatan rasional dan emosional dalam berdakwah.

Dan semoga dengan bekal-bekal yang kita siapkan bisa membantu menumbuhkan militansi kita dan mampu menjadi benteng yang kokoh untuk menghindari virus-virus moral ketika bergumul dan berinteraksi dengan masyarakat di medan dakwah. Wallahu a’lam bish showwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: