SEDERHANA BUKAN SENGSARA

Seseorang bercerita kepada Husain bin Ali bahwa sahabat besar Abu Dzar Al Ghifari pernah berkata, “Kemiskinan lebih kucintai dari kekayaan. Sakit lebih kusenangi daripada sehat”. Husain menjawab, “Semoga rahmat Allah tercurah atas Abu Dzar Al Ghifari. Namun ayahku (Ali bin Abi Tholib) justru berkata, “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah dengan semua keputusan-Nya dan tidak berangan-angan di luar kehendak-Nya, adalah lebih baik dari yang terbaik”
Melalui ungkapan ini Ali bin Abi Tholib menjelaskan hakikat kaya dan miskin atau senang dan susah bukanlah teletak pada banyak atau sedikitnya harta, tetapi sikap bertawakkal kepada Allah dengan tanpa angan-angan yang berlebihan tentang dunia. Dalam Islam ditekankan sikap sederhana tetapi bukan harus sengsara dan papa. Apa pun ketentuan Allah, baik atau buruk, hendaknya diterima seorang muslim dengan keridhaan. Muslim yang baik tidak menolak menjadi kaya dan tidak menampik menjadi miskin. Dia tidak keberatan memegang kedudukan dan juga tidak patah karena patah kedudukannya. Sebab kesemuanya itu merupakan ujian Allah belaka,
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan (rizki itu). Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar Rum 37)
Pada hakikatnya menikmati kehidupan dengan segala warna-warninya bukanlah pantangan dalam agama. Seperti mendengarkan kicau burung, meresapi gemercik air di atas batu-batu pegunungan, melihat ikan berenang-renang di kolam yang bening. Juga meregup dunia dan perhiasannya. Semua diperbolehkan sepanjang tidak keluar dari koridor akhlaq dan syariat islamiyah. Orang-orang soleh terdahulu sering mengatakan, “Simpanlah dunia di genggaman tangan Anda dan jangan masukkan ke hati Anda”.
Ada orang yang hatinya begitu terpincut dunia, jiwanya takluk kepada keindahan dunia, padahal itu hanay kesenangan menipu. Hidup di dunia itu memang dipenuhi dengan perhiasan dan keindahan yang menggoda. Namun kita tidak boleh lupa bahwa yang di sisi Allah lebih baik dan kekal.
Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga).
Katakanlah, “Inginkah aku kabarkan kepada-mu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang- yang bertaqwa kepada Allah, pada sisi Rabb mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15)
Untuk memperoleh kecukupan hidup di dunia diperlukan harta kekayaan. Untuk mendapatkan pendamping dan teman hidup yang menyenangkan diperlukan isteri yang solihat. Untuk memandang masa depan dengan lebih optimis diperlukan anak-anak yang soleh. Islam memerintahkan kita mengejar semua itu dengan tanpa berlebih-lebihan…
Namun karena dunia ini tidak kekal (fana) maka semua itu bersifat sementara dan ada batasnya. Setiap muslim harus menerima apa adanya keputusan Allah tentang apa yang dia peroleh dalam hidupnya. Artinya, dalam segala perkara; menyenangkan atau tidak menyenangkan – sikap ridha dan qanaah wajib disemaikan, dipelihara, dan ditingkatkan. Setiap muslim wajib memelihara kebersihan hati dan kesucian jiwa yang akan mengantarnya memperoleh keutamaan di sisi Allah. Bagi orang-orang yang mendayagunakan hidupnya untuk ibadah kepada Allah, senantiasa berdakwah dan berjihad di jalan Allah telah disediakan kesenangan Akhirat yang jauh lebih nikmat daripada yang diperolehnya di Dunia.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam syurga-syurga itu , mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang seruapa dan untuk mereka di dalanyaada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (Al baqarah: 25)
Membangun Sikap Ridha
Bersifat qanaah dan ridha terhadap apa yang diperoleh merupakan tuntutan dalam hidup di dunia. Namun tentu saja ini tidak boleh menghambat kita untuk terus bekerja demi mencapai cita-cita. Karena Islam memberikan nilai ibadah bagi para pekerja yang bersungguh-sungguh… Pernahkah Anda melihat seekor burung yang terbang pagi-pagi dalam keadaan lapar kemudian pul;ang di sore hari dalam keadaan kenyang? Dia hanya mencari sekadar yang diperlukan tanpa terpusingkan dengan dapat atau tidaknya!
Salah seorang ulama sufi, Yahya bin Ma’arif, mengulas ancar-ancar ridha yang benar adalah apabila seseorang telah mencapai empat pokok sifat utama yakni: Menerima apa yang diberikan, tetap tabah jika disingkirkan, memelihara ibadah meskipun dikecewakan, dan hidup sederhana dalam kejayaan”.
Kerakusan acapkali menelungkupi pandangan batin kita yang pada gilirannya mengajak kita pada kemelaratan tiada penghabisan. Kemiskinan ternyata bukan hanya dalam kepapaan harta, tetapi lebih banyak dlam kenistaan jiwa yang dipenuhisyhwat dan ketamakan. Nabi Isa diriwayatkan pernah berkata, “Pencinta dunia yang berlebihan itu ibarat orang-orang kehausan yang meminum air laut. Semakin banyak ia meminumnya makin dahaga ia dibuatnya sampai kemudian ia mati karenanya”.
Tiada lahan yang paling subur bagi syaitan kecuali hati yang sarat dengan loba dan tamak. Pangkal utama dari segala penyakit rohani yang disemaikan syaitan adalah jika manusia hanya melihat dunia sebagai satu-satunya sumber kesenangan. Tidak heran bila Nabi kita mengatakan, “Hubbud dunya ro-su kulli khoti’ah” (Mencintai dunia adalah biang segala dosa”
Lantas bagaimanakah agar dunia tidak memenjarakan kita? Memilih cuma yang halal, menjauhkan segenap yang haram itulah jalan terbaik menuju kebersihan diri. Jangan sampai kita mengorbankan kebahagiaan Akhirat yang abadi untuk memperoleh kesenangan dunia yang fatamorgana. Apa yang kita cari lalu kita nikmati bila berasal dari yang haram akan menjadi perkara di masa depan. Setiap sel daging yang tumbuh, atau setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuh dari yang haram akan dimintai pertanggungjawabannya.
Syaikhul Islam Al Ghazaly pernah menjelaskan bahwa para waliyullah mempunyai hati yang bercahaya terang bukan karena pengetahuan dan ilmu yang mendalam, melainkan oleh ketidak terikatan mereka dengan duniawi. Hati mereka tidak lagi disibukkan oleh rangsangan-rangsangan materi. Lantaran yang bergaung dalam dadanya dari saat-ke saat hanyalah kecintaan kepada Allah. Inilah keselamatan mereka dari kungkungan kefanaan memasuki jalan indah keabdian. Adakah kenikmatan yang lebih agung dari kekayaan jiwa?
Seorang muslim tidak perlu menyiksa diri, tak perlu meninggalkan pekerjaannya, tidak perlu memusuhi dunianya. Cukup baginya meninggalkan dosa, tidak terpengaruh dunia, dan giat dalam ibadah. Allah akan menjamin kekayaannya di dunia dan di akhirat.
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Tholaq: 2-3)
Manfaatkan Sawah Ladang
Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam menggambarkan hakikat dunia secara indah, “Ad Dunya mazru’atul akhirah” (Dunia itu sawahladangnya akhirat). Manusia bagaikan petani. Sebagai petani dia berhak bercocok tanam, merawat dan memelihara ladangnya dengan sungguh-sungguh. Petani yang baik akan bersabar menunggu hasilnya. Dia percaya bahwa menuai dan memanen tidak akan terjadi esok atau lusa tetapi akan ada saatnya nanti… Siapa menanam pohon kebaikan di muka bumi dia akan memetik buah pahala di akhirat. Siapa yang menanam pohon keburukan dia akan memperoleh buah berupa azab sengsara di akhirat. Akhirat adalah akhir kesudahan sedang Dunia hanya sarana dan jalan.
Isteri yang solihat disebut oleh Rasulullah sebagai perhiasan Dunia yang terbaik, “Ad Dunya mata’ wa khoiru mata’iha al marataus sholihat” (Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan Dunia adalah wanita yang solehat)”. Oleh karena itu, milikilah isteri sepanjang dia pendamping yang solihat dan membawa Anda ke syurga. Islam tidak membenarkan seseorang sengaja hidup membujang meskipun dengan lasan mendekatkan diri kepada Allah. Justru dalam kehidupan berkeluarga ada ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Isteri pun oleh Allah diibaratkan sebagai “hartsu lakum” (ladang kamu). Karenanya perlu dirawat dan dipelihara sehingga menghasilkan buah kebaikan di Dunia dan Akhirat. Ibadah orang-orang yang sudah berumahtangga nilainya lebih besar dari ibadah seorang bujangan.
Kebaikan Dunia terletak pada fungsinya sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan Akhirat. Inilah yang disebut dengan hasanah dunia dimana setiap muslim berdoa untuk memperolehnya “Robbanaa atinaa fid dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah. Waqinaa adzabannaar” (Ya Rabb kami karuniakanlah kepada kami kebaikan Dunia dan kebaikan Akhirat serta hindarkanlah kami dari adzab neraka)
Apa yang kita miliki akan bernilai ukhrawi manakala digunakan untuk ibadah kepada Allah. Carilah harta kekayaan agar Anda dapat berzakat, infaq dan shodaqoh sebanyak-banyaknya. Milikilah rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan agar dapat Anda gunakan untuk dakwah fi sabilillah.
Jangan sengsarakan diri Anda yang karenanya Anda tidak bisa berbuat untuk orang lain. Bukankah dengan demikian Anda lalai dari melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang kini tengah dilanda krisis sosial dan ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: