MEMBINA HUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN

Muqaddimah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (QS. Al-Hajj:77)

“Hai orang-orang yang beriman ruku’lah, sujudlah dan sembahlah Rabbmu serta perbuatlah kebajikan-kebajikan agar kalian memperoleh keberuntungan / kemenangan”.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 77 di atas mengisyaratkan bahwa untuk meraih keberuntungan di dunia dan akhirat dibutuhkan usaha terpadu berupa kegiatan ‘ubudiyah atau hablumminallah dan kegiatan memproduksi kebajikan atau hablumminannaas.

Selain diperintahkan untuk ruku’, sujud dan menyembah Allah, seorang Mu’min juga dituntut aktif berbuat kebajikan terhadap sesama manusia.

Korelasi antara hubungan vertikal (hablumminallah) dengan hubungan horizontal (hablumminannaas) juga terlihat jelas dalam Hadits Nabi SAW:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (karena kebaikan dapat mengkompensasi keburukan) dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.”

Dalam hadits tersebut terungkap setelah perintah bertaqwa kepada Allah dilanjutkan dengan perintah berbuat kebaikan serta bergaul dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.

Sehingga keunggulan kompetitif vertikal seseorang atau dalam kaitannya dengan hablumminallah ditentukan berdasar tingkat ketaqwaannya,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (QS. 49:13)

Sedangkan keunggulan kompetitif horizontal ditentukan oleh besar kecilnya kadar kemanfaatan yang dimiliki orang tersebut bagi orang lain

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (H.R. Daru Quthni)

Menyadari adanya keterkaitan yang begitu erat antara hablumminallah dan hablumminannaas, para salafus shalih cepat melakukan instrospeksi (muhasabah) terhadap hablumminallah mereka apabila mereka mengalami kesulitan atau masalah di dalam hablumminannaas mereka.

Jadi misalnya suatu saat mereka mendapati istri mereka marah-marah, anak-anak mereka sulit diatur dan bahkan keledai atau onta mereka susah dikendalikan, maka mereka segera merasa bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan ‘ubudiyah dan taqarrub mereka kepada Allah.

Namun sebaliknya, walaupun seseorang rajin beribadah kepada Allah atau menonjol kegiatan ‘ubudiyahnya, bila hubungannya dengan sesama manusia buruk, maka ia tidak akan selamat di dunia apalagi di akhirat. Seperti digambarkan dalam sirah, tentang seorang wanita yang ahli ibadah, rajin shalat tahajjud dan shaum sunnah tetapi karena ia gemar menyakiti hati tetangganya baik dengan lisan maupun perbuatan, maka ia dikomentari Rasulullah SAW sebagai calon penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Seyogyanya memang hubungan yang baik dan sehat antara seorang hamba dengan Rabbnya akan berimbas atau berdampak positif pada hubungannya dengan sesama manusia.

Syarat-syarat membina hubungan dengan orang lain

Syarat utama atau modal dasar membina hubungan dengan orang lain adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan kata lain kunci utama pembuka hubungan baik dengan orang lain adalah adanya quwwatu sillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Karena memang seperti sudah disinggung di bagian muqaddimah bila hubungan kita dengan Allah baik, akan baik pulalah hubungan kita dengan manusia lain. Tetapi jika yang terjadi seseorang yang rajin beribadah tetapi akhlaknya buruk sehingga buruk pula hablumminannaasnya, berarti ada “something wrong” dalam ibadahnya tersebut. Boleh jadi ibadah yang dilakukannya tersebut sekedar ritual yang tidak dihayati dan difahami sehingga tidak membawanya pada esensi atau hakikat ibadah tersebut.

Padahal dalam Islam tidak ada dikotomi antara ibadah khasshah seperti ruku’, sujud dalam shalat, shaum, haji dll dengan ibadah ’ammah seperti berbuat baik pada orang tua, tetangga dll. Atau seperti diungkapkan pula di dalam Al-Qur’an bahwa sesungguhnya shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut: 45) Artinya shalat yang dihayati sampai pada esensinya akan berdampak positif tercegahnya manusia dari keburukan akhlak.

Secara sederhana hal itu pernah pula diungkapkan dalam lirik ciptaaan penyair Taufik Ismail dan disenandungkan oleh Group Bimbo yakni: ada sajadah panjang panjang terbentang dari buaian hingga ke tepi kuburan. Jadi dzikrullah atau ingatnya manusia kepada Allah, tak hanya ketika berada di atas sajadah, melainkan juga setelah keluar dari atas sajadah.

Oleh sebab itu sebelum kita membina hubungan dengan orang lain berdasarkan akhlakul karimah, kita harus lebih dulu membina hubungan dengan Allah yakni dengan cara menerapkan akhlak terhadap Allah, Rasul dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dari-Nya.

Syarat kedua untuk membina hubungan dengan orang lain setelah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah husnul khuluq atau akhlak yang baik.

Akhlak yang baik sebenarnya adalah buah keimanan dan ketaqwaan. Ada keterkaitan yang erat antara keimanan dengan akhlak seperti nampak dalam hadits-hadits yang berisikan suruhan-suruhan Nabi SAW untuk berbuat baik selalu didahului dengan masalah keimanan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau (lebih baik) diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memulialkan tamunya.” (H.R. Bukhari Muslim)

Akhlak yang baik ini meliputi akhlak terhadap Allah, Rasul, Al-Qur’an (vertikal) dan akhlak terhadap sesama manusia seperti pada orangtua, suami, istri, anak, khadim, teman, tetangga, binatang dan alam. Hal itu semua akan lebih dirinci dalam bagian setelah ini.

Syarat ketiga untuk membina hubungan dengan orang lain adalah skill, keahlian atau ketrampilan berkomunikasi, berinteraksi dan beradaptasi dalam hubungan dengan sesama manusia.

Akhlak Terhadap Allah SWT

Akhlak kepada Allah SWT selaku Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa diri kita dan jagat raya adalah hal terpenting di atas segalanya. Karena bagaimana mungkin kita akan bisa berakhlak kepada yang lainnya, bila akhlak kita kepada Allah sudah buruk.

1. Mengabdi hanya kepada Allah (QS. 51:56)

2. Tunduk dan patuh hanya kepada Allah (QS. 3:31)

3. Berserah diri kepada ketentuan Allah (QS. 2:155-156, 4:69)

4. Bersyukur hanya kepada Allah (QS. 14:6-7)

5. Ikhlas menerima keputusan Allah setelah ikhtiar (QS. 9:59)

6. Penuh harap kepada Allah (QS. 17:28)

7. Takut, tunduk dan patuh (QS. 5:44, 20:2-3)

8. Takut terhadap siksa Allah (QS. 11:103)

9. Berdo’a memohon pertolongan Allah (QS. 2:186)

10. Cinta dengan penuh harap kepada Allah (QS. 68:32)

11. Takut kehilangan rahmat Allah (QS. 59:13, 2:40)

Akhlak Terhadap Rasulullah SAW

Setelah terhadap Allah SWT, akhlak yang terpenting adalah terhadap Rasulullah SAW:

1. Ikhlas beriman kepada Nabi Muhammad SAW

2, Mengucapkan shalawat serta salam kepadanya

3. Taat kepada Rasulullah (QS. 3:31, 4:80)

4. Cinta kepada Rasulullah (QS. 9:24)

5. Percaya kepada segala yang disampaikan darinya (QS. 48:8)

6. Tidak boleh mengabaikan Rasulullah (QS. 4:115)

7. Menghidupkan sunnah Rasulullah (QS. 4:66)

8. Menghormati pewaris Nabi yakni para ulama yang shidiq (QS. 4:69)

9. Melaksanakan hukum Allah dan Rasul-Nya (QS. 49:1)

10. Bersedekah sebelum menimba ilmu dari Rasulullah agar berkah

11. Jangan mengobral sumpah (QS. 24:53)

12. Berbicara dengan suara rendah (QS. 49:2)

13. Beradab dalam musyawarah dengannya (dalam membiacarakan hadits-haditsnya untuk konteks saat ini)

Akhlak Terhadap Kitab Allah (Al-Qur’an)

1. Rajin membaca Al-Qur’an agar menjadi syafa’at bagi kita.

2. Membaca dengan tartil dan tidak terburu-buru.

3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’.

4. Memulai membaca Al-Qur’an dengan isti’adzah.

5. Memulai membaca Al-Qur’an dengan basmalah.

6. Membaca Al-Qur’an dengan suara yang baik.

7. Membaca Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid.

8. Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang.

9. Memahami arti ayat Al-Qur’an

10. Menyimak ketika sedang dibacakan Al-Qur’an.

11. Membaca Al-Qur’an bersama-sama dan bergantian.

12. Membaca di waktu fajar dan waktu zhuhur.

13. Berdo’a setelah membaca Al-Qur’an.

Ketiga jenis akhlak di atas adalah modal utama untuk membangun hubungan dengan yang lainnya

Akhlak Terhadap Diri Sendiri

Terhadap diri kita sendiri kita sendiripun ternyata kita juga memiliki ketentuan akhlak yang tidak boleh diabaikan.

1. Menghindarkan diri dari mencelakakan diri sendiri seperti bunuh diri dan lain-lain.

2. Menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik.

3. Memelihara kesucian jiwa dengan taubat, muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan taat kepada Allah.

4. Pemaaf dan mau meminta maaf.

5. Memiliki kesederhanaan kerendahhatian, kejujuran, keterampilan, kerajinan, keberanian, keteguhan hati, disiplin, optimis, teguh hati dan bersyukur.

6. Menghindarkan diri dari sikap tercela seperti khianat, tidak menepati janji, berburuk sangka, menggunjing, memfitnah, menjauhi dosa-dosa besar, sombong, egois, zhalim, boros, tamak, dan lain-lain.

Akhlak Terhadap Orangtua

1. Berbicara dengan kata-kata yang baik.

2. Melindungi dan mendo’akan (QS. 17:24).

3. Menghormati dan berterima kasih (QS. 31:14).

4. Menghubungkan silaturahim.

5. Menunaikan wasiat kecuali yang maksiat.

6. Tidak mendurhakainya.

7. Membantu mereka.

Akhlak Terhadap Anak

1. Memberi nama yang baik.

2. Menyembelih aqiqah saat akan mencukur rambutnya.

3. Mengkhitan.

4. Memberi pendidikan dan pengajaran (QS. 66:6)

Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia”.(HR. Muslim)

5. Mencarikan jodoh dan mengawinkannya

Akhlak Terhadap Suami

1. Taat kepada suami selama berada di jalur ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

2. Melayaninya dengan baik dalam segala hal

3. Tidak meremehkan pemberian sekecil apapun

4. Mengurus rumah tangga dan mentarbiyah anak-anak

5. Menjaga harta suami dan amanah-amanahnya

6. Selalu meminta izin dan ridhanya bila pergi ke luar rumah

Akhlak Terhadap Istri

1. Mempergauli istri dengan baik (QS. 4:19)

2. Memimpin istri (QS. 2:187, 223)

3. Memberikan nafkah

4. Mendidik istri

5. Melindungi rahasia istri

6. Memberi kesempatan istri untuk bersilaturahim ke keluarganya juga keluarga suaminya

7. Memanggil istri dengan suara yang mengandung kasih sayang

8. Bersikap sabar dan berwibawa

9. Membantu istri

10. Berbicara dengan bahasa yang dapat menggembirakan isteri

Akhlak Terhadap Tetangga

1. Memuliakan tetangga

2. Mendahulukan tetangga yang muslim

3. Mendahulukan tetangga yang dekat

4. Membantu kepentingan untuk hajat tetangga

5. Tidak boleh mengganggu tetangga dengan lisan dan perbuatan

6. Tidak boleh menyebarkan aib tetangga

7. Meminta izin bila ke rumahnya

Akhlak Terhadap Sesama Muslim

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَالِمًا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Muslim saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhalimi dan tidak boleh membiarkannya disakiti orang. Dan barang siapa yang membantu saudaranya memenuhi hajatnya, maka Allah akan membantunya, barang siapa yang melonggarkan satu kesulitan saudaranya, maka Allah akan melonggarkan saru kesulitannya di hari kiamat dan barnag siapa yang menutupi aib orang islam, maka Allah akan menutupi aibnya nanti di hari kiamat.” (H.R. Tirmizi)

Sebagai saudara, kita wajib berakhlak baik dengan memenuhi hak-hak saudara kita sesama muslim seperti misalnya:

1. Menghubungkan tali persaudaraan

2. Saling tolong menolong (QS. 5:2)

3. Membina kebersamaan dan persaudaraan

4. Menjaga keselamatan bersama

5. Tidak mencela dan menghina

6. Tidak menuduh tanpa bukti

7. Dilarang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari

8. Memenuhi janji

9. Memberi salam, menjawab bersin dan lain-lain

Akhlak Terhadap Khadim atau Khadimah

Khadim atau khadimah memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam rumah tangga, perusahaan dan lain-lain, oleh sebab itu kita pun harus bersikap baik terhadap mereka

1. Cepat membayar upahnya sebelum kering keringat mereka (Al-Hadits)

2. Memperlakukannya secara lembut dan manusiawi

3. Meringankan pekerjaannya

4. Tidak menyuruh dengan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan

Akhlak Terhadap Sesama Manusia

Tidak semua manusia beragama Islam, tetapi kita juga berinteraksi dengan mereka dan menghormati mereka selaku sesama manusia dengan cara sebagai berikut:

1. Menghormati perasaan manusia lain

2. Memberi dan menjawab salam

3. Pandai berterima kasih

“Tidak dapat bersyukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain”. (HR. Abu Dawud)

4. Memenuhi janji (QS. 16:91)

5. Tidak boleh mengejek (QS. 49:11)

6. Jangan mencari-cari kesalahan (QS. 49:12)

7. Jangan menawar sesuatu yang sedang ditawar orang lain

Akhlak Terhadap Orang Kafir

Islam mengatur pula bagaimana pola interaksi kita dengan orang kafir

1. Meyakini kekafiran adalah kesesatan

2. Tidak boleh mengikuti kekufuran

3. Membencinya karena Allah

4. Tegas dan tidak boleh mencintai orang kafir (QS. 60:1, 5:54)

5. Berlaku adil dan boleh membantu orang kafir

6. Boleh saling memberi hadiah

7. Tidak boleh memberi dan menjawab salam

Akhlak Terhadap Tumbuh-tumbuhan

Syumuliyatul Islam membuat Islam juga juga memiliki aturan bagaimana berinteraksi dengan alam termasuk tumbuh-tumbuhan:

1. Menjaga kelestarian alam termasuk tumbuh-tumbuhan

2. Tidak menebang pohon tanpa keperluan

3. Tidak boleh buang air kecil di bawah pohon

4. Memelihara dan merawat tanam-tanaman atau tumbuh-tumbuhan

5. Menanam pohon yang bermanfaat

6. Membayar zakat hasil tanaman

Akhlak Terhadap Binatang

Seperti halnya tumbuh-tumbuhan, binatang juga makhluk hidup yang juga harus dipergauli dengan baik

1. Memberinya makan dan minum

2. Tidak mempermainkan binatang

3. Bila hendak menyembelihnya hendaknya dilakukan dengan baik

4. Jangan membebani terlalu berat

5. Tidak menyiksanya dengan cara apapun

6. Tidak memberi tanda dengan besi panas di muka binatang

7. Membayar zakatnya

Akhlak Terhadap Alam

1. Menjaga air agar tidak terkena polusi

2. Jangan boros menggunakan air

3. Dirikanlah shalat Istisqa’

4. Berdo’alah di kala menggunakan air

Kesemua akhlak tersebut membantu kita dalam membina hubungan baik dengan orang lain maupun dengan alam agar tercipta harmoni dan keselarasan dalam hidup.

Keterampilan (Kiat-kiat) dalam membina hubungan dengan orang lain

Di samping patokan-patokan dasar berupa tuntunan akhlak Islami yang mengatur pola hubungan antar manusia dan manusia dengan lingkungannya kiranya dibutuhkan juga beberapa kiat praktis agar kita sukses dalam berinteraksi atau berhubungan dengan siapapun.

Dalam Al-Qur’an surat 9:128, Allah SWT menerangkan tentang sifat-sifat mulia yang dimiliki Rasulullah SAW yang membuatnya berhasil dalam berda’wah, berinteraksi dan merebut hati manusia banyak: “Laqad jaa-akum rasulun min anfusikum, ‘azizun alihi maa ‘anittum, harisun ‘alaikum bil mu’minina raufur rahim” (Telah datang seorang rasul kepadamu dari golonganmu sendiri. Terasa amat berat apa yang kamu derita, ia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Terhadap mu’min ia santun lagi kasih sayang).

Ternyata modal pertama Rasulullah SAW sebagai kiat sukses membina hubungan dengan manusia dan lingkungannya adalah bahwa hati beliau senantiasa diliputi rasa belas dan kasih sayang, terutama terhadap sesama mu’min. Kemudian beliau mudah menyatakan simpati dan selalu mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Selain itu beliau juga segera bisa berempati, menyelami perasaan orang lain dan turut merasakan kesedihan dan kesusahan yang dialami orang lain.

Jadi rasa kasih sayang, belas kasihan, mudah menyatakan simpati dan bisa berempati adalah kiat penting agar sukses membina hubungan. Apalagi bila kemudian dilengkapi dengan ketrampilan berkomunikasi. Agar bisa menjalin komunikasi yang baik kita perlu memperhatikan beberapa faktor di antaranya ialah memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis lawan bicara kita (komunikan). Sebagai pembicara (komunikator) hendaknya kita melihat siapa dan bagaimana orang yang kita ajak bicara (komunikan). Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan hal itu,

أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُم

Tempatkanlah manusia sesuai dengan tempatnya yang seharusnya (proporsional).

Misalnya kita berbicara atau melakukan da’wah fardhiyah dengan seorang tokoh di masyarakat apakah tokoh agama, ekonomi, pemerintahan dll, hendaknya kita menghormatinya sebagaimana mestinya. Apalagi Rasulullah SAW juga mengingatkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Faktor lain yang perlu diperhatikan selain faktor psikologi dan posisi lawan bicara kita adalah faktor intelektualistas dan adat istiadat. Rasulullah SAW bersabda,

خَاطِبُ النَّاسَ عَلَي قَدْرِ عُقُولِهِمْ

Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya.

Cara kita berbicara dengan anak kecil seyogyanyalah berbeda dengan bila kita berbicara dengan orang dewasa, karena kemampuan atau daya serap anak-anak jelas berbeda dibandingkan orang dewasa. Begitu pula harus membedakan cara berbicara kita ketika berhadapan dengan orang sederhana yang kurang atau tidak berpendidikan dan dengan orang yang berpendidikan tinggi. Faktor adat istiadat ternyata juga hal yang diperhatikan oleh Rasulullah SAW sehingga beliau bersabda,

خَاطِبُوا النَّاسَ بِلُغَّةِ قَوْمِهِمْ

Berbicaralah kepada manusia dengan bahasa kaumnya.

Artinya kita perlu menyesuaikan cara berbicara dan berinteraksi kita dengan kultur, adat istiadat yang dimiliki seseorang atau suatu kaum. Sepanjang tidak melanggar ketentuan syar’i kita harus menghormati kultur, kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki sesorang atau suatu kaum.

Dan akhirnya ketrampilan (skill) yang turut menunjang keberhasilan kita dalam membina hubungan adalah kemampuan melakukan komunikasi yang efektif. Ciri-ciri komunikasi efektif adalah bila terjalin pemahaman dan saling pengertian antara komunikator dan orang yang diajak bicara (komunikan). Kemudian tercipta suasana menyenangkan di antara kedua belah pihak. Baik yang berbicara maupun yang diajak bicara sama-sama senang. Hasilnya adalah hubungan yang semakin baik dan harmonis antara orang yang berbicara dengan yang diajak bicara. Bila sudah paham, mengerti, senang, percaya dan hubungan semakin dekat akhirnya insya Allah komunikan akan bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagaimana yang diharapakan oleh komunikator sebagai pembawa pesan dakwah.

Wallahu a’lamu bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: