JANGAN SEPERTI QORUN

Bila kita mendengar seseorang menyampaikan berita “Telah ditemukan Harta Karun!!” mungkin kita akan sangat tertarik. Secara bahasa itu artinya harta  yang banyak berlimpah dan ditemukan di dasar laut atau di dalam gua atau digali dari dalam tanah. Pendeknya, bukan diperoleh dari hasil kerja berat. Sebenarnya istilah harta karun berhubungan dengan seorang kaya raya di zaman Bani Israil yang namanya Qorun. Dia hidup di zaman Nabi Musa Alaihis Salaam.
Pada mulanya Qorun hanyalah seorang pemuda miskin yang taat beribadah. kagum melihat ketekunannya beribadah dan kasihan melihat kemiskinannya, Nabi Musa  memberi Qorun ilmu kimia sehingga dia memiliki keahlian mengolah emas. Dari keahliannya itulah Qarun yang miskin berwira usaha sehingga menjadi seorang yang kaya raya.
Kekayaan rupanya mengubah perilaku Qarun. Dia tidak bersyukur, tetapi malah luntur dan lama-lama menjadi kufur. Dia mulai meninggalkan kebiasaannya  beribadah dan sifat-sifat buruknya pun mulai tampak. Dalam hidupnya sehari-hari, dia sangat tamak  dan aniaya, berlagak seperti raja, lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Orang-orang pun mulai memperingatkan Qarun, namun ia tidak menggubris sedikit pun karena telah mabok harta kekayaan,
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata, “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang suka membangga-banggakan diri. ( Al Qash shas: 76)
Pelajaran Dari Kisah Qarun
Cerita tentang Qarun adalah kisah nyata yang bisa kita tarik menjadi pelajaran. Berapa banyaknya orang-orang seperti Qarun di sekitar kita. Mereka orang-orang yang melupakan karunia Allah yang dirizkikan kepadanya. Mereka terkena sifat qarun atau “qarunisme” yang biasanya menjangkiti orang-orang kaya. Para penganut qarunisme sekarang ini hidupnya jauh lebih mewah daripada Qarun di zaman Musa Alaihis Salaam. Bila Qarun di masa lalu hanya naik kereta kencana yang ditarik kuda maka di zaman sekarang para penganut Qarunisme naik mobil mewah yang serba luks. Mereka turun naik pesawat terbang yang mengantar mereka ke manca dunia untuk menikmati kehidupan serba glamour.  Mereka habiskan uang untuk foya-foya, berjudi, dan berzina di atas penderitaan bangsanya.  Kita lihat, para pejabat Indonesia yang menangguk kekayaan dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) serta  konglomerat yang menari-nari di atas penderitaan rakyat adalah para pengikut qarunisme. Mereka hidup bersenang-senang padahal rakyat kecil menderita dan utang negara bertumpuk-tumpuk seperti sekarang ini terjadi…..
Boleh jadi kita pun terkena sifat qorunisme yang berbahaya ini. Agar kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa Qarun ini perhatikanlah sabda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam berikut ini,
“Ada tiga hal yang mencelakakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan kebanggan manusia pada dirinya sendiri”. (Al Hadits)
Dalam hadits di atas,  Nabi kita tercinta mengingatkan kita bahaya tiga hal. Bahaya ini dapat membuat siapa pun menjadi seperti Qarun. Itulah tiga hal yang menyeret manusia memiliki sifat qarunisme,
1.    Kikir yang diperturutkan
Qarun sangat kikir dengan harta yang dimilikinya. Dia ingin menikmatinya sendirian atau paling banter dengan keluarga yang dicintainya. Dia enggan berbagi dengan orang lain. Qarun sangat pelit, tidak mau memberi kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Padahal hidupnya bergelimang dalam kemewahan dan kesenangan duniawi yang tak kunjung henti. Orang kikir sesungguhnya menghalangi rahmat Allah yang dikucurkan-Nya kepada manusia, sebab Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya melalui tangan hamba-Nya yang lain.
Orang seperti Qarun menjadikan harta untuk pamer kemewahan dan membuat orang lain menjadi iri sehingga terperangkap angan-angan,
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan menunjukkan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Qashas: 79)
2.    Hawa nafsu yang diikuti
Qarun mempunyai keinginan yang tidak terbatas, dapat satu ingin dua, dapat dua ingin tiga,  dan seterusnya. Dengan kata lain dia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Segala cara dilakukan untuk memperoleh yang diinginkannya, tak peduli halal haram, baik atau buruk labrak terus. Allah menggambarkan bahwa mengikuti hawa nafsu dalam harta duniawi tak akan ada habisnya,
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (At  takatsur: 1-4)
3.    Kebanggaan manusia pada diri sendiri.
Qarun sangat bangga dengan keahliannya mengais rizki. Dia malah menganggap semua kekayaan yang diperolehnya karena keahliannya mengelola emas bukan anugerah Allah Ta’ala.  Perasaan dan anggapan Qarun biasanya sangat dihayati oleh orang-orang kaya yang terkena qarunisme. Seperti katanya sendiri,
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu , karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan ummat-ummat sebelumnya  yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang berdosa tentang dosa-dosa mereka. (Al Qasshas: 78)
Sungguh berbahaya tiga sifat itu bagi kehidupan manusia baik kaya atau pun miskin. Sebab mungkin saja ada orang miskin yang juga sombong dan enggan menyadarai bahwa rizki itu sebenarnya bersumber dari Allah. Orang kaya yang lupa daratan, enggan memberi dan berkorban untuk orang fakir miskin bila terkena sifat ini akan mengalami kehancuran seperti Qarun,
Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya satu golongan pun  yang  yang bisa menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya”. . (QS.Al Qashsas: 81) )
Orang miskin ada juga yang bercita-cita seperti Qarun. Mereka menganggap bahwa orang kaya hidup dengan bahagia dan senang-senang. Khayalan mereka akan menemui kegagalan dan kekecewaan. Mereka malah menjadi orang yang merugi karena tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika mereka mengikuti sifat-sifat Qarun tentu saja mereka akan celaka.
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata, “ Aduhai benarlah Allah melapangkan rizki  bagi siapa yang Dia kehendaki  dari hamba-hamba_nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar (Dia) telah membenamkan kita pula. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah”. (Al Qash sas: 82)

Sebagai muslim, Kita perlu berhati-hati terkena berbagai penyakit hati yang dapat menggerogoti keimanan dan merusak kepribadian. Penyakit qarunisme biasanya menghinggapi kita dikala kekayaan datang kepada kita, tetapi bukan mustahil penyakit ini pun melanda orang-orang miskin yang berangan-angan panjang ingin jadi orang kaya tanpa payah-payah bekerja. Agar tidak menyesal seperti Qarun, dari sekarang kita wajib menghindarkan diri dari penyakit-penyakit Qarunisme… Di antara indikasi adanya penyakit qarunisme ini adalah.
1.    Mengagumi diri sendiri sebagai ahli dalam mendapatkan harta kekayaan.
2.    Merasa gembira bila isi kantongnya atau rekening banknya bertambah dan merasa sedih bila berkurang, sambil tidak perduli asal harta kekayaannya, apakah haram atau tidak, yang penting selalu bertambah.
3.    Lalai dalam bersyukur terhadap Allah ataupun berterimakasih terhadap orang-orang yang berjasa kepadanya.
4.    Pelit atau bakhil, enggan mengeluarkan harta untuk membantu fakir miskin, dan orang-orang yang memerlukan atau membiayai perjuangan di jalan Allah.
5.    Suka mengoleksi barang-barang yang tidak perlu di rumahnya, sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya kaya.
6.    Membiasakan isteri dan anak-anaknya hidup dalam kemewahan dan tidak mendidik mereka untuk sederhana  dan pandai memberi kepada orang lain.
7.    Tidak merasa cukup dengan harta kekayaan yang telah dimilikinya dan selalu memandang ke atas.  Angan-angannya sering mengatakan, “Kapan aku lebih kaya seperti orang itu”.
8.     Bila melihat orang kekurangan dia menganggap rendah orang tersebut dan hatinya berkata, “Kamu menjadi miskin begitu disebabkan malas berusaha”.
9.    Membiasakan diri mengikuti trend kehidupan orang-orang yang serupa dengan dia dalam berpakaian, berkendaraan, model rumah, tempat-tempat hiburan, dan sebagainya.
10.    Enggan mengoreksi kesalahannya dalam berinteraksi dengan masyarakat, sulit untuk dinasihati, enggan mendengarkan perkataan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: