Berbagi Nikmat Taubat Bersama Gito Rollies

gitorollies.gif
BERBINCANG AKRAB : Setelah memberikan ceramah tentang perjalanan pertaubatannya di Masjid Al-Ma’mun, di kompleks Kantor Suara Merdeka di Jl Raya Kaligawe, Gito Rollies berbincang akrab dengan Direktur PT Suara Merdeka Press Kukrit Suryo Wicaksono MBA, sambil meninggalkan masjid tersebut. – SM/Sutomo

SUASANA shalat jumat (16/4) di Masjid Al-Ma’mun di kompleks Redaksi Suara Merdeka, Jalan Raya Kaligawe Semarang boleh jadi tak berbeda dari beberapa shalat jumat sebelumnya, yaitu dipenuhi oleh para anggota redaksi dan karyawan, serta beberapa orang dari sekitar yang biasa sembahyang di sana. H Thobari, anggota redaksi yang juga salah seorang takmir masjid tersebut mengatakan, khatib dan imam shalat bersifat reguler atau sesuai dengan jadwal.

Mungkin yang membedakan shalat jumat kemarin adalah kehadiran H Gito Rollies, artis dan rocker yang kini lebih banyak melakukan dakwah. Dia datang selain untuk shalat jumat juga memberikan ceramah singkat mengenai pertaubatannya kembali ke jalan Islam.

Semalam Gito juga tampil di ruang Poncowati Hotel Patra, dalam rangka pengajian Qolbun Salim. Selain dia, hadir pula aktor senior Deddy Sutomo, pengurus Majelis Pengajian Qolbun Salim dan Direktur PT Suara Merdeka Press Kukrit Suryo Wicaksono MBA. Setelah ceramah Gito Rollies sekitar 20 menit, digelar acara ramah-tamah sembari makan siang di Aula Suara Merdeka Lantai III.

”Saya bukan ahli agama, juga bukan juru dakwah. Saya masih seorang artis dan penyanyi. Tapi memang saya mensyukuri nikmat taubat menemukan kebenaran Islam,” tutur pemilik nama asli, Bangun Sugito itu mengawali ceramahnya.

Siang itu, penulis buku Sujud Haru di Atas Sajadah mengenakan baju koko abu-abu dengan celana longgar berwarna sama dan kopiah putih. Bagi yang ingat gaya menyanyi tersebut ketika masih menjadi rocker bersama Rollies Band, boleh jadi akan berpendapat mungkin dia kesurupan. Gaya bicaranya cepat, lengkap dengan gestur yang ekspresif sehingga menimbulkan kesan energik.

Namun Gito Rollies sekarang dan dulu jauh berbeda. Itu juga diakuinya di mimbar dan juga saat ramah-tamah.

”Saya memang masih artis dan penyanyi. Tapi pasti ada perbedaan mendasar. Sebagai penyanyi wajar saja saya mengharapkan puji-pujian dan popularitas. Tapi sebagai orang yang harus menyampaikan pesan keagamaan saya harus rela berkorban,” tegas suami Michelle van der Rest itu.

Secara eksplisit, dia juga menjelaskan perbedaan mendasar tersebut. Sebagai artis, kata dia, penampilannya berhonor atau dibayar. Dia juga datang ke suatu tempat atas undangan. Namun sebagai orang yang berdakwah, dia harus rela tak mendapatkan apa pun dari sisi material dan semata hanya berharap rida Allah SWT. Singkatnya, dalam keyakinannya, bila dia tampil untuk menyampaikan pesan keagamaan dan mendapat bayaran untuk itu maka hal tersebut belum bisa disebutnya sebagai berdakwah.

”Saya bahkan pernah bilang kepada istri saya. Mama, kalau Mama cinta saya, ikhlaskah Mama saya pergi untuk menyampaikan pesan dan pulang tak membawa apa-apa, tak membawa uang? Alhamdullilah, istri saya ikhlas.”

Alasan

Banyak hal yang disampaikan Gito Rollies siang itu. Paling menarik adalah alasan kembalinya dia ke jalan Islam yang juga ditanyakan seorang jamaah bernama Amar. Pertanyaan itu cukup menarik mengingat sebagai figur publik, terutama saat masih sangat populer sebagai rocker, Gito dikenal sebagai selebriti yang lebih banyak berkutat di ”jalan-jalan muram dan hitam”.

Dia mengatakan, setidaknya ada empat alasan yang menggerakkan hatinya mencari kebenaran Islam. Pertama, kata dia, itu karena kehendak Allah. Kedua, doa-doa dari para pecintanya, katakan saja fans dia. Ketiga, dakwah terus-menerus yang disampaikan kawan-kawan Gito Rollies kepadanya secara langsung. Yang terakhir adalah dorongan yang besar dalam dirinya untuk ”menemukan” Islam.

”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya.”

Pengalaman religius yang meyakinkannya ”kembali” ke Islam sempat pula diceritakan. Yakni, selama tiga hari tiga malam pada suatu kesempatan syuting di Surabaya, dia seolah-olah melihat ”penampakan” dosa-dosanya. Bahkan, dia mulai menyadari bahwa dosa terbesarnya berasal dari mulut dia.

”Saya ini dulu tukang menghina orang. Ketika itu, saya merasa melihat EL Manik (aktor-Red) yang sering saya hina karena kebotakannya. Ya, ternyata banyak dosa saya berasal dari mulut saya,” tandas lelaki kelahiran Biak, 1 November 1946 itu.

Gito Rollies barangkali salah seorang dari sekian selebriti yang telah menemukan kenikmatan pintu taubat. Seperti ceritanya, di kalangan selebriti sekarang, berkembang terus proses dakwah di antara mereka sendiri.

Sekadar catatan, kali pertama dirinya terlihat berubah dari sosok selebriti yang ndugal menjadi orang dengan penampilan seorang juru dakwah, muncul dua reaksi yang berbeda dari kalangan artis.

Gito, sang mantan rocker urakan itu, kini dikenal sebagai pendakwah. Itu pula alasan Majelis Pengajian Qolbun Salim Semarang mengundangnya. (Rakyat Merdeka)

Muraqabah dan Muhasabah

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu masih berupa janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”.(QS. 53:32)

Ayat Allah SWT tersebut di atas benar-benar menyadarkan kita akan kelemahan dan kenistaan kita sebagai manusia yang sering kali berbuat kekhilafan. Bahwa seandainya pun kita terhindar dari dosa-dosa besar, kita pasti tak akan luput dari dosa-dosa kecil. Allah menegaskan bahwa kita jangan merasa dan mengklaim diri suci, karena Allah sajalah yang paling mengetahui siapa yang bertaqwa dan yang tidak. Sementara Allah juga tahu siapa diri kita sejak dari awal penciptaan, ketika masih berupa janin di rahim ibu kita, hingga kita dewasa. Namun Ia juga mengingatkan kita tentang ampunan-Nya yang luas.

Memang hanya satu insan kamil yang ma’shum, yakni Rasulullah SAW. Beliau menjalani proses pembedahan dada dan pembersihan jiwa oleh malaikat Jibril karena beliau dipersiapkan untuk mengemban tugas mulia. Namun beliau juga pernah mengatakan bahwa kalau bukan karena rahmat Allah niscaya tak akan ada yang selamat dari siksa Allah dan neraka-Nya. “Tidak juga engkau ya Rasulullah?”. “Ya, tidak juga aku”.

Selain sifat manusia yang lemah, mudah lupa, khilaf, kikir dan berkeluh kesah, penyebab terjerumusnya manusia ke dalam lembah kenistaan dan kemaksiatan adalah godaan syaithan yang gencar dari segala penjuru.

Dalam QS. Az-Zukhruf:36-37, Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan). Maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (qarin). Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”.

Qarin alias syaithan yang selalu mendampingi kita, akan sukses menggoda kita, jika kita berpaling dari-Nya dan ajaran-Nya (Al-Qur’an). Sampai akhirnya kita terhalang dari jalan yang lurus dan benar. Namun ironisnya, kita tetap menyangka berada di jalan yang benar dan memperoleh petunjuk-Nya. Padahal kita sudah jauh tersesat.

Hanya Rasulullah SAW saja yang tak dapat digoda oleh Qarin. Bahkan Qarinpun tak akan mampu menyerupai Rasulullah SAW baik ketika beliau masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

Menyadari begitu rentan dan lemahnya kita sebagai manusia dari godaan syaithan yang menyesatkan dan menghalangi kita dari ajaran Allah serta melalaikan kita dari mengingat-Nya, maka jelas pemahaman dan kesadaran muraqabah dan muhasabah adalah satu kemestian.

Pengertian Muraqabah dan Muhasabah

Muraqabah adalah upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah (muraqabatullah). Jadi upaya untuk menghadirkan muraqabatullah dalam diri dengan jalan mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.

Sedangkan muhasabah merupakan usaha seorang Muslim untuk menghitung, mengkalkulasi diri seberapa banyak dosa yang telah dilakukan dan mana-mana saja kebaikan yang belum dilakukannya. Jadi Muhasabah adalah sebuah upaya untuk selalu menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya tengah dihisab, dicatat oleh Raqib dan Atib sehingga ia pun berusaha aktif menghisab dirinya terlebih dulu agar dapat bergegas memperbaiki diri.

Urgensi Muraqabah dan Muhasabah

Bila setiap Muslim senantiasa memuraqabahi dirinya dan menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya maka ia akan selalu takut untuk berbuat kemaksiatan karena ia selalu merasa dan sadar dirinya dalam pemantauan dan pengawasan Allah.

Kemudian bila ia juga gemar memuhasabahi dirinya karena takut pada perhitungan hari akhirat, maka bisa dipastikan akan terwujud masyarakat yang aman karena semua orang sudah memiliki pengawasan melekat. Orientasi Ukhrawi membuat seseorang senantiasa memperhitungkan segala tindak-tanduknya dalam perspektif  Ukhrawi. Ia juga akan terhindar dari penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati), keserakahan, kezhaliman, penindasan dan kemungkaran, karena semua keburukan itu hanya akan menyengsarakannya di akhirat kelak.

Sebaliknya ia akan berusaha menanam kebajikan sebanyak mungkin (QS. 22:77) agar dapat menuai hasilnya di akhirat kelak. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah mengibaratkan bahwa dunia adalah ladang tempat menanam, bibitnya adalah keimanan dan ketaatan adalah air dan pupuknya. Sementara akhirat adalah tempat kita memetik atau menuai hasilnya, kelak.

Bila demikian keadaannya, Insya Allah akan tercipta “Baldatun thayyibatun warabbun ghafur” (negeri yang baik, berkah dan dalam ampunan Allah) yang bukan sekedar slogan. Selain tercipta kemaslahatan dalam scope atau ruang lingkup negeri, Insya Allah akan tercipta pula kemaslahatan di ruang lingkup dunia internasioanal bila para Muslimnya dengan kualitas seperti itu mampu menjadi “Ustadziatul ‘alam” (soko guru dunia). Hanya dengan bimbingan dan arahan para ustadziatul ‘alam yang sekaligus khalifatullah fil ardhi sajalah, dunia akan terbebas dari bencana, kerusakan dan kemurkaan Allah (QS. 2:10-11, 30:41).

Namun bila para Muslim tetap mengekor musuh-musuh Allah yang membenci Al-Qur’an (QS. 47:25-26) maka bahaya kemurtadan massal menghadang di depan mata dan tetap saja yahudi la’natullah alaihim yang memegang supremasi dan mengendalikan dunia serta terus menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah.

Tahapan-tahapannya

Ada beberapa tahapan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dan membangun sistem pengawasan serta penjagaan yang kokoh. Kesemua tahapan tersebut penting kita jalani agar benar-benar menjadi “safety net” (jaring pengaman) yang menyelamatkan kita dari keterperosokan dan keterpurukan di dunia serta kehancuran di akhirat nanti.

1. Mu’ahadah.

Mu’ahadah yakni mengingat dan mengokohkan kembali perjanjian kita dengan Allah SWT di alam ruh. Di sana sebelum kita menjadi janin yang diletakkan di dalam rahim ibu kita dan ditiupkan ruh, kita sudah dimintai kesaksian oleh Allah, “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Benar (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”.(QS. 7:172)

Dengan bermu’ahadah, kita akan berusaha menjaga agar sikap dan tindak tanduk kita tidak keluar dari kerangka perjanjian dan kesaksian kita.

Dan kita hendaknya selalu mengingat juga bahwa kita tak hanya lahir suci (HR. Bukhari-Muslim) melainkan sudah memiliki keberpihakan pada Al-haq dengan syahadah di alam ruh tersebut sehingga tentu saja kita tak boleh merubah atau mencederainya (QS. 30:30)

2. Muraqabah.

Setelah bermu’ahadah, seyogyanyalah kita bermuraqabah. Jadi kita akan sadar ada yang selalu memuraqabahi diri kita apakah melanggar janji dan kesaksian tersebut atau tidak.

Penjelasan yang detail tentang muraqabah diuraikan dalam bagian tersendiri, karena tulisan ini memang menitikberatkan pada pembahasan tentang muraqabah dan muhasabah.

3. Muhasabah.

Muhasabah adalah usaha untuk menilai, menghitung, mengkalkulasi amal shaleh yang kita lakukan dan kesalahan-kesalahan atau maksiat yang kita kerjakan. Penjabaran lebih detail tentang muhasabah juga ada pada bagian tersendiri.

4. Mu’aqabah.

Selain mengingat perjanjian (mu’ahadah), sadar akan pengawasan (muraqabah) dan sibuk mengkalkulasi diri, kita pun perlu meneladani para sahabat dan salafus-shaleh dalam meng’iqab (menghukum/menjatuhi sanksi atas diri mereka sendiri). Bila Umar r.a terkenal dengan ucapan: “Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab”, maka tak ada salahnya kita menganalogikan mu’aqabah dengan ucapan tersebut yakni “Iqablah dirimu sebelum kelak engkau diiqab”. Umar Ibnul Khathab pernah terlalaikan dari menunaikan shalat dzuhur berjamaah di masjid karena sibuk mengawasi kebunnya. Lalu karena ia merasa ketertambatan hatinya kepada kebun melalaikannya dari bersegera mengingat Allah, maka ia pun cepat-cepat menghibahkan kebun beserta isinya tersebut untuk keperluan fakir miskin. Hal serupa itu pula yang dilakukan Abu Thalhah ketika beliau terlupakan berapa jumlah rakaatnya saat shalat karena melihat burung terbang. Ia pun segera menghibahkan kebunnya beserta seluruh isinya, subhanallah.

5. Mujahadah

Mujahadah adalah upaya keras untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah, menjauhi segala yang dilarang Allah dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan-Nya. Kelalaian sahabat Nabi SAW yakni Ka’ab bin Malik sehingga tertinggal rombongan saat perang Tabuk adalah karena ia sempat kurang bermujahadah untuk mempersiapkan kuda perang dan sebagainya. Ka’ab bin Malik mengakui dengan jujur kelalaian dan kurangnya mujahadah pada dirinya.

Ternyata Kaab harus membayar sangat mahal berupa pengasingan/pengisoliran selama kurang lebih 50 hari sebelum akhirnya turun ayat Allah yang memberikan pengampunan padanya.

Rasulullah Muhammad SAW terkenal dengan mujahadahnya yang luar biasa dalam ibadah seperti dalam shalat tahajjudnya. Kaki beliau sampai bengkak karena terlalu lama berdiri. Namun ketika isteri beliau Ummul Mukminin Aisyah r.a bertanya, “Kenapa engkau menyiksa dirimu seperti itu, bukankah sudah diampuni, seluruh dosamu yang lalu dan yang akan datang”. Beliau menjawab. “Salahkah aku bila menjadi ‘abdan syakuran?”.

6. Mutaba’ah.

Terakhir kita perlu memonitoring, mengontrol dan mengevaluasi sejauh mana proses-proses tersebut seperti mu’ahadah dan seterusnya berjalan dengan baik.

Muraqabah

Muraqabah atau perasaan diawasi adalah upaya menghadirkan kesadaran adanya muraqabatullah (pengawasan Allah). Bila hal tersebut tertanam secara baik dalam diri seorang Muslim maka dalam dirinya terdapat ‘waskat’ (pengawasan melekat atau built in control) yakni sebuah mekanisme yang sudah inheren, dalam dirinya. Artinya ia akan aktif mengawasi dan mengontrol dirinya sendiri karena ia sadar senantiasa berada di bawah pengawasan Allah seperti dalam untaian ayat-ayat Allah berikut ini:

“…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS. 57:4), “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”.(QS. 50:16), “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.(QS. 6:59)

(Luqman berkata) : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.(QS. 31:16)

Kemudian dalam HR. Ahmad, Nabi SAW bersabda, “Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan jangan pula mengatakan tak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui”.

Muraqabatullah atau kesadaran tentang adanya pengawasan Allah akan melahirkan ma’iyatullah (kesertaan Allah) seperti nampak pada keyakinan Rasulullah SAW (QS. 9:40) bahwa “Sesungguhnya Allah bersama kita” ketika Abu Bakar r.a sangat cemas musuh akan bisa mengetahui keberadaan Nabi dan menangkapnya. Begitu pula pada diri Nabi Musa a.s ketika menghadapi jalan buntu karena di belakang tentara Fir’aun mengepung dan laut merah ada di depan mata. Namun ketika umat pengikutnya panik dan ketakutan, beliau sangat yakin adanya kesertaan Allah. Ia berkata, “Sekali-kali tidak (akan tersusul). Rabbku bersamaku. Dia akan menunjukiku jalan”.

Kemudian akhirnya Nabi Ibrahim a.s juga dapat menjadi contoh agung tentang kesadaran akan kesertaan dan pertolongan Allah. Yakni ketika beliau diseret dan dibakar di api unggun, beliau tetap tenang. Dan benar saja terbukti beliau keluar dari api unggun dalam keadaan sehat wal ’afiat karena Allah telah memerintahkan makhluknya yang bernama api agar menjadi dingin dengan izin dan kehendak-Nya.

Muhasabah

Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiap-siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak.

Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS. 59:18). Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan taqwa kepada karena di sisi Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah taqwa.

Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).

Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk mendapat ampunan-Nya dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi orang-orang yang bertaqwa.(QS 3:133)

Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah sejak dini secara berkala karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.( QS. 50:17-18). Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya.(QS. 99:7-8)

Bila kita mengingat betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, maka wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin.

Dalam QS. 80:34-37, tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: “Kemana tempat lari?. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali”.(QS. 75:7-12)

Ummul Mu’minin Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah SAW apakah manusia tidak malu dalam keadaan telanjang bulat di padang mahsyar. Rasulullah SAW menjawab bahwa hari itu begitu dahsyat sampai-sampai tidak ada yang sempat melihat aurat orang lain.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa ada 7 golongan yang akan mendapat naungan/perlindungan Allah di mana di hari tidak ada naungan/perlindungan selain naungan/perlindungan Allah (Yaumul Qiyamah atau Yaumul Hisab). Ketujuh golongan itu adalah Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT, pemuda yang lekat hatinya dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah; bertemu dan berpisah karena Allah, orang yang digoda wanita cantik lagi bangsawan dia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya (secara senbunyi-sembunyi) dan orang yang berkhalwat dengan Allah di tengah malam dan meneteskan airmata karena takut kepada Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang pertama dihisab adalah mereka yang berjihad, berinfaq dan beramal shaleh (QS. 22:77, 2:177). Kemudian sabda Rasulullah SAW di hadits lainnya: “Ada 70.000 orang akan segera masuk surga tanpa dihisab”. “Do’akan aku termasuk di dalamnya, ya Rasulullah!”, mohon Ukasyah bersegera. “Ya, Engkau kudo’akan termasuk di antaranya”, sahut Nabi SAW. Ketika sahabat-sahabat yang lain meminta yang serupa, jawab Nabi SAW singkat, “Kalian telah didahului oleh Ukasyah”. “Siapa mereka itu ya Rasulullah?”, tanya sahabat. “Mereka adalah orang yang rajin menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di akhirat”. Subhanallah.

Di riwayat lain dikisahkan bahwa orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antri dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata, “Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab”.

Dan memang ada 3 harta yang tak akan kena hisab yakni: 1 rumah yang hanya berupa 1 kamar untuk bernaung, pakaian 1 lembar untuk dipakai dan 1 porsi makanan setiap hari yang sekedar cukup untuk dirinya. Maka orang-orang miskin itupun dipersilakan masuk ke surga dengan bergerombol seperti kawanan burung.

Betapa beruntungnya mereka semua padahal hari penghisaban itu begitu dahsyatnya sampai banyak yang ingin langsung ke neraka saja karena merasa tak sanggup segala aibnya diungkapkan di depan keseluruhan umat manusia. Apalagi tak lama kemudian atas perintah Allah, malaikat Jibril menghadirkan gambaran neraka yang dahsyat ke hadapan mereka semua sampai-sampai para Nabi dan orang-orang shaleh gemetar dan berlutut ketakutan. Apalagi orang-orang yang berlumuran dosa.

Yaumul Hisab itu bahkan juga terasa berat bagi para Nabi seperti Nabi Nuh yang ditanya apakah ia sudah menyampaikan risalah-Nya atau Nabi Isa yang ditanya apakah ia menyuruh umatnya menuhankan ia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu terlihat menekan dan meresahkan para Nabi. Jika Nabi-nabi saja demikian keadaannya, bagaimana pula kita ?.

Mudah-mudahan saja kita tidak termasuk orang yang bangkrut/pailit di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggungjawabannya. Mengapa disebut bangkrut? Karena ternyata amal shaleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka. Na’udzubillah min dzalik.

Hasil Muraqabah dan Muhasabah

Seseorang yang rajin me’muraqabah’i dan me’muhasabah’i dirinya akan mau dan mudah melakukan perbaikan diri. Ia juga akan mau meneliti, mengintrospeksi, mengoreksi dan menganalisis dirinya. Hal-hal apa saja yang menjadi faktor kekuatan dirinya yang harus disyukuri dan dioptimalkan. Kemudian hal-hal apa saja yang menjadi faktor kelemahan dirinya yang harus diatasi, bahkan kalau mungkin dihilangkan. Lalu bahaya-bahaya apa yang mengancam diri dan aqidahnya sehingga harus diantisipasi, dan akhirnya peluang-peluang kebajikan apa saja yang dimilikinya yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika dirinci, paling tidak, ada 3 hasil yang akan diraih orang yang rajin melakukan muraqabah dan muhasabah :

1.       Mengetahui aib, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya serta berupaya sekuat tenaga meminimalisir atau bahkan menghilangkannya.

2.       Istiqamah di atas syari’at Allah. Karena ia mengetahui dan sadar akan konsekuensi-konsekuensi keimanan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak maka cobaan sebesar apapun tidak akan memalingkannya dari jalan Allah seperti misalnya tokoh Bilal dan Masyitah. Walaupun keistiqamahan adalah hal yang sangat berat sehingga Rasulullah SAW sampai mengatakan, “Surat Hud membuatku beruban” (Karena di dalamnya ada ayat 112 berisi perintah untuk istiqamah).

3.       Insya Allah akan aman dari berat dan sulitnya penghisaban di hari kiamat nanti (QS. 3:30)

Generasi Al-Muzammil

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ummul Mukmin Aisyah ra bahwa Allah telah mewajibkan qiyamullail kepada Rasulullah Saw. di awal surat ini. Beliau dan para sahabat telah menegakkannya di sebagian malam sehingga kaki-kaki mereka bengkak. Setelah genap dua belas bulan, Allah memberikan keringanan dengan diturunkannya ayat kedua puluh dari surat ini pula. Maka berubahlah hukum qiyamu lail yang tadinya wajib menjadi satu ibadah yang sunnah.
Surat Al Muzammil turun pada marhalah bina’. Marhalah penggemblengan ruh. Para sahabat merupakan calon dai dan mujahid digembleng dengan gemblengan yang berat. Selama satu tahun mereka harus bangun di tiap tengah malam untuk berdiri shalat berjam-jam. Mereka dituntut untuk taat, tunduk, patuh dan berpegang teguh pada perintah Allah dan Rasul-Nya.
Kewajiban qiyamullail bukanlah sekadar berdiri sholat berjam-jam. Tetapi ia merupakan tarbiyah imaniyah. Tarbiyah untuk selalu berhubungan dengan Yang Maha Pencipta, untuk bermunajat ke pada-Nya. Ia merupakan wasilah untuk mendekatkan diri, berdzikir dan bertawakkal kepada-Nya.
“Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketaatan, (Dialah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada Illah melainkan Dia. Maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al Muzammil: 8-9)
Sungguh!! Berdzikir kepada Allah taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertawakkal dan beribadah hanya kepada-Nya, merupakan senjata yang ampuh di medan dakwah yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Semuanya akan menjadikan para calon du’at dan mujahid terbiasa untuk bersabar atas cobaan yang datang secara beruntun. Mereka akan terbiasa menanggung derita dan konsisten dalam mempertahankan haq. Ini semua merupakan satu satunya senjata pada marhalah bina’. Marhalah yang belum diizinkan untuk menghadapi kaum kafir secara langsung.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik:. (QS. Al Muzammil : 10).
Sungguh seorang da’i atau mujahid yang diatas pundaknya terbebankan panji-panji dakwah, pasti akan mendapati cobaan, siksaan dan intimidasi, dan tentu sangat membutuhkan senjata untuk mengukuhkan mereka. Senjata yang meneguhkan hati dan jiwa mereka. Mereka hanya akan mendapatkannya jika dalam marhalah bina’ mereka telah digembleng dengan gemblengan Al Muzammil. Dan harokah islamiyah jika tidak menggembleng generasinya dengan gemblengan Al Muzammil, mereka akan berjatuhan di tengah jalan ketika mereka dihadapkan pada cobaan dan intimidasi.
Generasi Al Muzammil harus dibina dibawah konsep Qur’ani. Dan tidaklah cukup jikalau Al Qur’an hanya dijadikan sebagai pusat dan sumber intelektualitas belaka. Tetapi Al Qur’an harus dihafal. Khusus bagi mereka yang masih berumur muda.
Perlu diingat makna qiyamul lail tidak akan pernah terealisir selama calon da’I atau mujahid tidak hafal ayat-ayat Al Qur’an kecuali beberapa ayat saja. Bagaimana ia akan merasakan nikmatnya bermunajat, sedangkan ia hanya hafal beberapa ayat dari Al Qur’an dan diulangnya tiap rokaat sholatnya? Bagaimana ia akan merasa khusyu’? Sungguh !! betapa nikmat, tatkala kaki berdiri tegak untuk memulai munajat, hati tergerak disinari ayat-ayat Ilahi, yang kemudian dibiaskan ke dalam penglihatan, pendengaran, jiwa dan kehidupan.
Untuk menghasilkan generasi Al Muzammil yang tangguh, harokah islamiyah harus mengonsep, pada umur 20 tahun seorang anggota harus sudah hafal sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an. Inilah yang akan menjadi bekal mereka. Dengan bekal ini, mereka akan bisa mereguk nikmatnya bermunajat, qiyamul lail dan bertaqorrub kepada-Nya.
Potret generasi Al Muzammil adalah seorang pemuda yang telah melewati pubertas nya dengan kecintaan pada ibadah, ketaatan , dan taqorrub kepada-Nyaa. Pemuda yang selalu bertilawah dengan tartil, yang setiap malam air mata mengucur deras dari pelupuk matanya. Mentadabburi ayat-ayat-Nya. Pemuda yang Al Qur’an terukir di hati dan pikirannya.

Degradasi Kesolehan dan Solusinya

I.    MUKADIMAH

Setiap muslim pasti tidak menginginkan keimanan dalam relung kalbunya mengalami kelemahan. Kelemahan ini akan terlihat dari kualitas dan kuantitas amal ibadah dan kesolehannya,  satu hal yang merupakan barometer keimanan. Hal tersebut memperlihatkan kenaikan atau degradasi keimanannya.
Karena itu, setiap muslim tentu menginginkan kesolehan dan kebaikannya senantiasa eksis dalam ruang kepribadiannya, dan kemudian menjelma dalam ruang sosialnya. Namun, kesolehan dan kebaikan ini bisa bertahan, atau bahkan berkembang   dengan ditentukan oleh kondisi keimanannya. Sejauh mana ia berusaha  menyuburkan keimanannya dengan ketaatan dan kesolehan. Oleh karenanya, Rasulullah dalam sebuah hadisnya mengajarkan kepada kita sebuah doa sebagai berikut.

“Ya Allah, Engkau lah teman dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari beratnya perjalanan dan keburukan kondisi, dari kekurangan setelah kesetabilan, dari doa orang yang terdzalimi, dan dari buruknya pemandangan terhadap keluarga dan harta.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Dalam hadist ini, makna berlindung dari kekurangan adalah isyarat kepada setiap muslim untuk khusyuk berdoa agar keimanannya tidak mengalami penurunan, dan agar kesolehan dan kebaikannya dari hari ke hari semakin berkembang dan berbuah.
Namun, dalam realitas kehidupan muslim, tidak dapat dipungkiri adanya degradasi keimanan, kesolehan, dan kebaikan. Pada akhirnya hal ini melahirkan penyimpangan dan kesesatan dalam kehidupan. Kondisi dan fenomena ini pernah dialami oleh kaum sebelum kita. Secara eksplisit, Al-Qur`an menggambarkannya dalam ayat berikut ini.

“Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Oleh karena itu, munculnya generasi terbiasa menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu—seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari generasi sebelumnya. Pendahulunya tidak memberikan pemahaman dan pembinaan terhadap mereka secara kontinyu. Karena, apabila manusia tidak memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya, ia cendrung mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya. Itulah sebabnya, ketika ia memiliki pemahan yang tidak baik, atau adanya intervensi syubhat dalam paradigma pemikirannya, atau adanya dominasi syahwat yang berlebihan, ia akan mempunyai kecendrungan meyimpang dari jalan kebenaran. Dalam Madaarijus Salikin dan Zaadul Ma’aad, hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziah, ia berkata ”Bahwasanya akar penyimpangan dan kesesetan seseorang bermuara pada dua faktor yaitu, syubhat dan syahwat”. Oleh karenanya, Allah SWT mengingatkan Nabi Daud as. untuk berlaku adil, menegakkan seluruh nilai kebenaran, dan tidak mengikuti libido atau hawa nafsunya, tatkala diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Perhatikan ayat berikut ini.

“Hai Daud,   sesungguhnya  Kami  menjadikan  kamu   khalifah (penguasa)  di muka bumi,  maka  berilah keputusan  (perkara)  di antara  manusia dengan  adil dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa nafsu,   karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan  Allah. Sesungguhnya  orang-orang  yang  sesat  darin  jalan  Allah  akan mendapat  azab   yang  berat,    karena  mereka   melupakan  hari perhitungan.” (Shaad: 26)

Oleh karena itu, sangatlah urgen bagi seorang muslim untuk memahami sebab-sebab degradasi kesolehan dan keimanan. Satu hal yang dapat mengakibatkan kita terombang-ambing dalam lautan kesesatan.

II.    SEBAB SEBAB DEGRADASI KESOLEHAN

Degradasi atau penurunan kesolehan dan keimanan seseorang tidak lahir begitu saja tanpa  faktor-faktor penyebab. Hal ini kembali kepada tabiat yang dimiliki “iman” itu sendiri, yaitu iman mengalami fluktuasi. Terkadang ia mengalami penambahan dan penguatan yang luar biasa, namun di saat lain ia mengalami penurunan yang drastis. Ibnu Hajar Asqolani, dalam Fathul Baary, Syarah Shahih al-Bukhari menyatakan bahwa  semua ulama sependapat iman itu dapat bertambah dengan ketaatan, dan dapat berkurang dengan kemaksiatan.
Di dalam Al-Qur`an, banyak terdapat ayat yang berkaitan dengan fluktuasi imam seseorang.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (al-Anfal: 2)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata,  “Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 124-125)

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya.  Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (al-A’raaf:    146)

Adapun sebab-sebab degradasi kesolehan seseorang adalah sebagai berikut.

Pertama, lemahnya iman.
Apabila seorang muslim lemah imannya, maka ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman tersebut. Ia senantisa terombang-ambing dalam panggung kehidupannya, dan tidak memiliki jati diri lagi sebagai muslim yang sebenarnya. Sebaliknya, manusia muslim yang memiliki kekuatan iman yang sebenarnya—bukan hanya sebatas keyakinan saja, ia akan merasa tentram, damai, percaya diri, dan bahkan mampu melukiskan karya-karya besar dalam kanvas kehidupannya. Inilah hamba-hamba yang dijanjikan Allah sebagai pewaris bumi-Nya, sebagaimana dinyatakan ayat-ayat berikut ini.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nuur: 55)

“Orang yang selalu merasakan kenikmatan iman adalah orang yang rela menjadikan Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama, dan Muhamad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)

“Ada tiga perkara, yang jika seseorang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih  daripada yang lain, menncintai orang lain karena Allah, dan benci kepada kekufuran, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka, kelemahan dan penurunan iman secara otomatis mempengaruhi kuantitas dan kualitas kesolehan dan kebaikan seseorang. Semakin kuat iman dalam jiwa seseorang, semakin kuat pula amal seseorang. Sebaliknya, semakin lemah iman seseorang, semakin lemah pula kuantitas dan kualitas amalnya.

Kedua, tertinggal dalam  ilmu pengetahuan.
Kekuatan dan kemenangan umat yang selalu dijanjikan Allah SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi aqidah atau ibadah saja, melainkan harus diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan ekspansi kebaikan atau amal islami dalam kehidupan. Namun, kekuatan dan kemenangan itu baru akan tegak kokoh jika berdiri di atas tiga pilar, yang satu sama lainnya tidak boleh terpisahkan, yaitu iman, ilmu, dan amal (ibadah). Saat ini, ketika umat mulai meninggalkan tsaqafah islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat, maka kekuatan dan kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang, dan akhirnya berganti dengan ketidakberdayaan serta kelemahan. Sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya.

“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima  pelajaran.” (az-Zumar: 9)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Mengenai hal ini, Imam Syafi’i berkata, “Demi Allah, sesungguhnya jati diri seorang pemuda ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

Adapun Ibnu Taimiah berkata, “Pencabutan amanah dan iman bukanlah berarti pencabutan ilmu. Karena, manusia terkadang diberikan keimanan, namun tidak diberikan keilmuan. Keimanan seperti ini mudah hilang dari jiwanya, sebagaimana hilangnya iman Bani Israil tatkala mereka melihat anak sapi (yang akhirnya disembah). Adapun jika seseorang diberikan ilmu serta iman, maka ilmu dan imannya tidak akan hilang dari jiwanya, dan ia tidak akan keluar dari Islam. Berbeda jika ia hanya diberi Al-Qur`an atau iman saja. Sebab,  iman semacam ini terkadang hilang, sebagaimana realitas yang ada dalam kehidupan. Hal ini terlihat pada kebanyakan riddah (kemurtadan) yang kita temukan, yaitu terjadi pada orang yang hanya memiliki Qur`an tanpa memiliki ilmu dan iman, atau memiliki iman tanpa memiliki ilmu dan Qur`an. Karena itu lah, orang yang memiliki Al-Quran, iman, dan  ilmu pengetahuan,  niscaya tidak akan kehilangan iman dari jiwanya. Wallahu a’lam.” (al-Fataawa, 18/305)

Ketiga, meremehkan dosa dan kemaksiatan.

Ketika seseorang menganggap remeh dosa dan kemaksiatan, maka kesolehan dan kebaikannya akan mengalami degradasi. Bahkan, dengan meremehkan dosa dan kemaksiatan,  ia akan mudah terjebak dalam kubangan kemaksitan. Karena, tabiat dosa atau kemaksiatan adalah senantiasa mengajak dan menggiring manusia untuk melakukan dosa lagi. Mengenai masalah ini, Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kalian akan meremehkan dosa-dosa, karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut akan berkumpul, dan akhirnya mencelakakannya. Perumpamaan dosa-dosa ini seperti kaum yang menuruni lembah dan setiap orang membawa sebatang kayu bakar. Mereka mengumpulkannya dan menjadikannya tumpukan, kemudian dinyalakan api dan semua yang dilemparkan ke dalamnya menjadi matang.” (HR Ahmad dan at-Thabrani)

Selain menambah dosa dan kemaksiatan, meremehkannya dapat mengakibatkan seseorang jauh dari jalan taubat, melemahkan hati untuk berjalan menuju Allah, dan bahkan  di Hari Akhirat nanti dapat menjadi penghalang menuju ke haribaan-Nya.

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan melahirkan kecerahan di wajah, cahaya di hati, kelapangan rizki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia lain. Adapun kemaksiatan menimbulkan kepucatan di wajah, kegelapan di hati, kelemahan badan, serta kesempitan dan kebencian di hati manusia.”

Abdullah bin Mubarak berkata dalam syairnya.

Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membiasakannya bisa mewariskan kehinaan,
Sementara, meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan bagi hati
dan kebaikan bagi jiwa,
Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali para raja dan cedekiawan yang rusak

Keempat, ujub dan ghurur (keterperdayaan).

Ujub dan ghurur merupakan dosa awal yang dimiliki Iblis, yaitu saat ia menolak  perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Sebab, ia merasa mempunyai kelebihan dibandingkan Adam. Ia merasa lebih baik, lebih kuat, dan lebih sempurna. Begitu lah halnya manusia yang memilki sifat ujub dan ghurur, ia merasa lebih segala-galanya dari pada orang lain. Ia akan lebih sibuk dengan urusan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri, dan ia merasa tidak butuh lagi untuk melakukan ekspansi kebaikan. Perasaan ujub dan ghurur yang mendominasi jiwa seorang muslim akan mematikan langkah-langkah kebaikannya, dan akan mengubur rasa jiddiyah (kerja keras) dalam usaha untuk menambah kesolehan pribadi.

“Apabila kamu melihat kekiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan takjub jika  semua orang mengikuti pendapatnya, maka selamatkanlah dirimu.” (HR at-Tirmidzi)

Bersamaan dengan ujub, akan muncul ridha kepada hawa nafsu. Ridha kepada hawa nafsu akan mengakibatkan banyak kekurangan dan penyakit, seperti ghurur, meremehkan orang lain, dan tidak pernah mengintropeksi diri. Oleh karenanya, Allah mencela sifat ini melalui berbagai ayat-ayat-Nya.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (at-Taubah: 25)

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mu’min. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (al-Hasyr: 2)

Kelima, lemahnya tarbiyah.

Rasulullah saw. diutus ke bumi dengan mengemban misi khusus, yaitu untuk membacakan ayat-ayat-Nya, serta mentazkiah dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada ummatnya. Hal ini dilakukan agar mereka memahami visi dan misi kehidupannya, agar mata mereka terbuka akan peradaban yang ada di sekitarnya, dan agar mereka menjadi saksi-saksi kebenaran dan kebaikan atas umat yang lain.
Maka, ketika taklim dan tarbiyah (pendidikan dan pembinaan), yang sesuai dengan minhaj salafus shalih tidak dilirik kembali oleh ummat Islam, dan bahkan ditinggalkan sama sekali, niscaya akan muncul syubhat pemikiran di tengah-tengah ummat, merajalelanya syahwat dalam kehidupan, dan kebodohan mewarnai masyarakat. Inilah fenomena masyarakat muslim ketika tarbiyah, taklim dan dakwah tidak berperan lagi dalam masyarakat, sebagaimana yang diisyaratkan ayat berikut ini.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Oleh karenanya, Allah menyerukan setiap mukmin untuk selalu melakukan amar makruf dan nahi munkar.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)

Keenam, dominasi syahwat

Kesesatan dan jauhnya seseorang dari jalan petunjuk dan kebenaran bisa disebabkan oleh salah satu diantara dua faktor ini, yaitu syubhat dan syahwat. Syahwat yang mendominasi kehidupan seseorang akan memasung akalnya, menjadi raja kecil dalam dirinya, dan akan menjadikannya tunduk kepada setiap perintahnya. Semua organ tubuhnya digerakkan oleh keinginan hawa nafsu dan harapan libidonya, sekalipun ia sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam.
Maka, tatkala dominasi syahwat sangat kuat dalam jiwa dan diri seseorang, niscaya cahaya kebaikan dan kesolehannya akan semakin redup, dan bahkan sama sekali tidak tampak. Ia akan berjalan di tengah-tengah masyarakatnya dengan kegelapan, kemaksiatan, dan kemungkaran. Sebaliknya, orang yang mampu menahan hawa nafsunya akan berjalan dengan cahaya kehidupan di tengah-tengah masyarakatnya. Hal ini telah Allah nyatakan dalam firman-Nya.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’aam: 122)

Rasulullah saw. mengkatagorikan  orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan hawa nafsunya, dan perhatikan lah pahala yang diberikan Allah kepada orang semacam ini.

“Orang yang cerdas ialah orang yang mampu menahan hawa nafsunya, dan beramal untuk hari sesudah kematiannya.”

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (an-Naazi’aat: 37-41)

Ketujuh, berlebihan dalam mencintai dunia.

Sepatutnya, seorang muslim selalu berharap dalam kehidupannya kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan hanya salah satunya saja. Ia hidup di dunia ini dan menikmati limpahan karunia serta rizki dari Allah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam. Ia menguasai dunia untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah-tengah masyarakatnya. Inilah suatu kebahagian tersendiri yang tidak pernah dirasakan hamba-hamba yang mengingkari kebenaran risalah ilahiah.

“Tidak boleh hasud, kecuali kepada dua orang ini, seorang yang diberikan Al-Qur`an oleh Allah, kemudian ia mengamalkannya setiap hari dan setiap malam, dan seorang hamba yang diberikan Allah harta, kemudian ia menginfakkannya setiap hari dan setiap malam.” (Hadits shahih)

Namun, ketika jiwa seorang muslim sangat mencintai dunia, maka hal tersebut  akan mematikan langkah-langkah kebaikannya. Ia akan memiliki pemahaman bahwa hidup adalah untuk mengumpulkan harta yang sebanyak-banyaknya, bahwa dunia adalah sesuatu yang pasti dan akhirat adalah sesuatu yang belum pasti, dan bahwa dunia adalah kenikamatan cash dan akhirat adalah kenikmatan yang tertunda. Pernyataan-pernyataan ini muncul karena adanya talbis iblis pada jiwa seorang muslim. Oleh karenanya, Rasulullah sangat menakutkan fitnah dunia ini menimpa ummatnya.

“Demi Allah, bukanlah ujian kefakiran yang aku takutkan terhadap kalian, tetapi  ujian kelapangan dunia sebagaimana yang telah diberikan kepada kaum sebelum kalian. Kamu semua akan berlomba-lomba mendapatkannya, seperti mereka dan ia akan menghancurkan kalian, sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (HR al-Bukhari Muslim)
Kedelapan, krisis identitas

Ketika kondisi keimanan seseorang dingin dan tidak memiliki energi untuk melakukan perubahan dalam dirinya, serta keimananannya tidak memiliki pengaruh dalam melahirkan amal ibadah, maka ia akan mengalami idzabatu syakhshiat islamiah (krisis identitas keislaman). Ia menjadi minder ketika disebut muslim, malu dan merasa terbelakang apabila ditanyakan tentang identitas dirinya sebagai muslim, ketika  seharusnya mereka berani menunjukkan dengan jelas apa identitas dan siapa mereka. Mengapa? Hal ini dikarenakan seorang muslim memiliki identitas yang khas, kepribadian independen, dan loyalitas yang jelas. Ia adalah pemilik risalah bumi, serta pemikul panji dakwah universal yang berkarekter rabbaniah, insaniah, dan akhlakiah.
Maka,  seorang muslim yang tidak memahami hal ini akan kehilangan arah dan pegangan hidupnya, dan ia merasa tidak berharga dalam masyarakatnya serta tidak percaya diri sebagai muslim. Secara otomatis, ia akan melakukan apa saja yang ia inginkan, tanpa berfikir apakah perbuatannya sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Ia beribadah sekadarnya, dan beramal islam ala kadarnya. Akhirnya, lama-kelamaan, ia akan jauh dari poros Islam, dan berjalan diluar bingkai keislaman yang sebenarnya.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

III.    SOLUSI

Untuk menyelamatkan umat dari kesesatan, penyimpangan dan degradasi kesolehan, maka semua muslim harus bersama-sama bahu-membahu dan berusaha keras untuk mengantisipasinya dengan cara sebagai berikut.

    Tarbiah imaniah

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab: 70-71)

    Ikhlas dan jujur kepada Allah

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.” (az-Zumar: 2)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  (saja)  mengatakan :”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji  orang-orang  yang  sebelum  mereka, maka   sesungguhnya   Allah   mengetahui   orang-orang  yang  benar  dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabuut: 2-3)

    Menguatkan ilmu pengetahuan

“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran.” (az-Zumar: 9)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya jati diri seorang pemuda, demi Allah, ada dalam  ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

    Takut akan keburukan akhir hidup (su’ul khatimah)

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi.  (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

“Sesungguhnya amal manusia itu ditentukan pada saat akhir kehidupannya.” (HR. Ibnu Hibban)

Dikisahkan bahwa Sufyan ats-Tsauri menangis sejak malam sampai pagi, dan seseorang bertanya kepadanya, “Apakah tangisan anda ini karena dosa-dosa yang anda perbuat? Sufyan ats-Tsauri lalu mengambil sehelai merang dari tanah seraya berkata, “Dosa-dosa itu lebih ringan daripada ini. Sesungguhnya aku menangis karena takut akan akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah)”
Oleh karena itu, dengan adanya rasa takut akan akhir hayatnya, setiap manusia muslim akan selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupannya, dan senantiasa terus menghiasi lembaran kehidupannya dengan sejuta warna kebaikan.

    Beramal shalih secara kontinyu

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 77-78)

MATI DAN KENGERIANNYA

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Maan ahabba liqaa Allah, anabballahu liqaa’ahu wamam karina liqaa Allahi karihallahu liqq’ahu bermaksud: Siapa yang suka bertemu kepada Allah, maka Allah suka menerimanya dan siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah, Allah juga tidak suka menerimanya.

Seseorang mukmin bila dalam sakaratul maut, mendapat khabar gembira bahawa ia diridhoi Allah s.w.t. dan akan mendapat syurga, maka ia lebih suka segera mati daripada terus hidup, maka Allah s.w.t. menyambutnya dengan limpahan kurnia rahmatNya dan sebaliknya orang kafir ketika melihat siksa Allah s.w.t. yang akan diterimanya, ia akan menangis dan enggan (tidak suka) mati dan Allah s.w.t. juga menjauhkannya dari rahmat dan akan menyiksanya.

Sufyan Atstsauri berkata: “Hadis ini tidak bererti bahawa kesukaan mereka untuk bertemu kepada Allah s.w.t. itu yang menyebabkan Allah s.w.t. kasih kepada mereka, bahkan bererti kesukaan mereka untuk bertemu dengan Allah s.w.t. kerana Allah s.w.t. kasih kepada mereka. Sebagaimana ayat Yuhibbuhum wayuhibbunahu (yang bermaksud) Allah kasih kepada mereka, maka mereka cinta kepada Allah juga. Juga didalam hadis: Idza ahabballahu abdan syagholahu bihi (yang bermaksud) Jika Allah kasih kepada seorang hamba, maka disibukkan dengan dzikir dan selalu ingat kepadanya.”

Ketika Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. tidak suka bertemu kepadanya. Sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kita semua tidak suka mati.” Jawab Rasulullah s.a.w. “Bukan itu, tetapi seorang mukmin bila akan mati datang Malaikat yang membawa khabar gembira kepadanya apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. sebaliknya orang kafir jika akan mati datang Malaikat yang mengancamnya dengan siksaan Allah s.w.t., yang akan dihadapi sehingga ia tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t.”

Abul-Laits dengan sanadnya dari Jabir r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Hadditsu an Bani Isra’il wala haraj, fa innahum qaumun qad kaana fahimul a’aajib (yang bermaksud) Kami boleh bercerita tentang bani Isra’il, dan tidak ada dosa, kerana pada mereka telah terjadi berita-berita yang aneh-aneh (ganjil-ganjil).

Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan: Terjadi serombongan Bani Isra’il keluar sehingga sampai diperkuburan, lalu mereka berkata: “Andaikata kita sembahyang disini kemudian berdoa kepada Tuhan supaya keluar salah seprang yang telah mati disini lalu menerangkan kepada kami bagaimana soal mati, maka sembahyanglah mereka kemudian berdoa, tiba-tiba ada orang telah menonjolkan kepalanya dari kuburan berupa hitam, lalu bertanya: “Hai kaum, apakah maksudmu, demi Allah saya telah mati sejak sembilan puluh tahun yang lalu, maka hingga kini belum hilang juga rasa pedihnya mati kerana itu berdoalah kamu kepada Allah untuk mengembalikan aku sebagaimana tadi, padahal orang itu diantara kedua matanya ada tanda bekas sujud.”

Abul-Laits berkata: “Siapa yang yakin akan mati maka seharusnya bersiap sedia menghadapinya dengan melakukan amal yang soleh (baik) dan meninggalkan amal kejahatan (dosa), sebab ia tidak mengetahui bilakah datangnya mati itu kepadanya, sedang Nabi Muhammad s.a.w. telah menerangkan pada umatnya supaya mereka benar-benar bersiap-siap untuk menghadapinya dan supaya mereka sanggup sabar dan tabah menghadapi penderitaan dunia, sebab penderitaan dunia ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan siksaan akhirat sedang maut itu termasuk dari siksaan akhirat.”

Abdullah bin Miswar Al-Hasyimi berkata: “Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: “Saya datang kepadamu supaya kau ajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang ganjil.” Ditanya oleh  Nabi Muhammad s.a.w.: “Kau telah berbuat apa terhadap pokok ilmu? Orang itu bertanya: “Apakah itu pokok ilmu?”  Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kau telah mengenal Tuhan Azzawajalla.? Jawabnya: “Ya.”  Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Maka apakah yang telah kau kerjakan pada haknya?” Jawabnya: “Masyaallah. (Yakni apa yang dapat dikerjakan). Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Laksanakan itu sebenar-benarnya, kemudian kamu kembali untuk saya ajarkan kepadamu ilmu yang ganjil-ganjil.” Kemudian setelah beberapa tahun ia datang kembali maka  Nabi Muhammad s.a.w. bersabda kepadanya: “Letakkan tanganmu didadamu (hati), maka apa yang kau tidak suka untuk dirimu, jangan kau lakukan terhadap saudaramu sesama muslim, dan yang kau suka untuk dirimu, lakukanlah sedemikian terhadap saudaramu sesama muslim, dan ini termasuk dari ghoro ibul ilmi (ilmu yang ganjil-ganjil).” Nabi Muhammad s.a.w. menjelaskan bahawa persiapan untuk maut itu termasuk pokok dari ilmu, kerana itu harus diutamakan sebelum lain-lainnya.

Abdullah bin Miswar berkata bahawasanya  Nabi Muhammad s.a.w. membaca ayat yang berbunyi: Faman yaridillah an yahdiyahu yasy-rah shadrahu lil islam, waman yurid an yudhillahu yaj’al shadrahu dhayyigan harajan, ka’ annama yash-sh’adu fissamaa’i. (yang bermaksud) Maka siapa yang dikehendaki mendapat hidayat, dilapangkan dadanya untuk menerima Islam, dan siapa yang dikehendaki oleh Allah kesesatan maka menjadikan dadanya sempit sukar, bagaikan akan naik kelangit. Kemudian  Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Nur Islam jika masuk kedalam hati maka lapanglah dada.” Nabi Muhammad s.a.w. lau ditanya: “Apakah ada tandanya?” Jawab  Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya, menjauh dari tempat-tempat tipuan dan condong pada tempat yang kekal dan bersiap-siap menghadapi maut sebelum tibanya.”

Ja’far bin Barqaan dari Maimun bin Mahran berkata bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. ketika menasihati seseorang bersabda yang bermaksud: “Pergunakanlah lima sebelum tibanya lima, Mudamu sebelum tu amu, sihat mu sebelum sakit mu, longgar mu (kelapangan) sebelum sibuk mu, kaya mu sebelum kekurangan mu (miskin) dan hidup mu sebelum mati mu.”

Dalam pelajaran ini Nabi Muhammad s.a.w. telah menghimpunkan ilmu yang banyak, sebab seseorang dewasa akan dapat berbuat apa yang tidak dapat dilakukan sesudah tua, pemuda jika biasa berbuat dosa, sukar baginya menghentikannya jika telah tua, maka seharusnya seorang pemuda membiasakan dirinya berbuat baik dimasa muda supaya ringan baginya melakukannya apabila telah tua. Demikian pula ketika sehat sebelum sakit, seharusnya masa sehat itu digunakan untuk lebih rajin berbuat amal soleh, sebab jika telah sakit pasti lemah badannya dan kurang kekuasaan dalam mempergunakan harta kekayaannya. Demikian dimasa luang sebelum sibuk, yakni diwaktu malam yang lapang, sedang diwaktu siang sibuk, kerana itu hendaklah sembahyang malam dan puasa siang terutama dimusim dingin sebagaimana sabda  Nabi Muhammad s.a.w. : “Musim dingin itu keutungan bagi seorang mukmin, panjang malamnya maka digunakan untuk sembahyang, dan pendek siangnya maka digunakan puasa.”

Dalam lain riwayat: “Malam itu panjang maka jangan kau singkat dengan tidurmu, dan siang itu terang maka jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu.” Demikian pula gunakan kesempatan masa kaya dan cukup sebelum masa berkurang dan miskin, yakni dimasa kau masih merasa serba kecukupan dan tidak berhajat kepada apa yang ditangan orang. Dan terutama masa hidup sebelum mati, sebab tiap detik dari hidupmu itu sebagai permata yang sangat besar harganya bila kau gunakan benar-benar untuk kesejahteraan dunia dan akhiratmu.

Ada peribahasa Persia yang demikian ertinya: Jika kau masih kecil bermain bersama anak-anak kecil dan bila telah remaja lupa kerana banyak hiburan, lalu bila tua lemah dan tidak kuat, maka bilakah akan beramal untuk Allah s.w.t, sebab bila telah mati tidak akan dapat berbuat apa-apa bahkan semua amal perbuatan telah terhenti, kerana itu harus kau gunakan benar-benar masa hidup untuk segala sesuatu yang akan membawa keselamatan dunia akhirat, dan bersiap-siap menghadapi maut yang sewaktu-waktu akan tiba kepadamu.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. melihat Malaikat Maut didekat kepala seorang sahabat Anshar, maka Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepadanya: “Kasihanilah sahabatku kerana ia seorang mukmin.” Jawab Malaikat Maut: “Terimalah khabar baik hai Muhammad, bahawa aku terhadap tiap mukmin sangat belas kasihan, demi Allah, ya Muhammad, aku mencabut roh seorang anak Adam, maka bila ada orang menjerit dari keluarganya, aku katakan: “Mengapa menjerit, demi Allah kami tidak berbuat aniaya dan tidak mendahului ajalnya, maka kami tidak ada salah dalam mencabut rohnya, maka bila kamu rela dengan hukum Allah kamu mendapat pahala, dan jika kamu murka dan mengeluh kamu berdosa, dan kamu usah mencela kami, sebab masih akan kembali maka berhati-hatilah kamu. Dan tiada penduduk rumah batu atau bambu, kain bulu didarat atau laut melainkan aku perhatikan wajahnya tiap kali lima kali, demi Allah ya Muhammad andaikan aku akan mencabut roh nyamuk tiada dapat kecuali bila mendapat perintah dari Allah s.w.t. untuk mencabutnya.”

Abu Said Alkhudri r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. melihat orang-orang yang tertawa maka Baginda s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Andaikan kamu banyak ingat mati yang menghapuskan kelazatan, nescaya kamu tidak sempat sedemikian.” “Sesungguhnya kubur itu adakalanya sebagai kebun dari kebun-kebun syurga atau salah satu jurang neraka.”

Umar r.a. berkata kepada Ka’ab: “Terangkanlah kepada kami tentang maut.” Ka’ab berkata: “Maut itu bagaikan pohon berduri dimasukkan kedalam tubuh anak Adam, maka tiap duri berkait dengan urat, lalu dicabut oleh seorang yang kuat sehingga dapat memutuskan apa yang terputus, dan meninggalkan apa yang masih tinggal.”

Sufyan Atstsauri jika ingat mati, maka ia tidak berbuat apa-apa sampai beberapa hari, bahkan jika ditanya masalahnya, ia hanya menjawab: “Tidak tahu.” Seorang hahim berkata: “Tiga macam yang tidak layak dilupakan oleh seorang yang sihat akalnya iaitu rosaknya dunia dan perubahan-perubahannya, dan maut, dan kerosakan-kerosakan apa yang didunia, yang tidak dapat dielakkan.”

Hatim al-Asham berkata: “Empat macam yang tidak dapat menilai dan merasakannya kecuali empat iaitu HARGA (NILAI) KEPEMUDAAN tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah tua, HARGA KESIHATAN tidak diketahui benar-benar oleh orang kecuali oleh orang-orang yang sakit, HARGA KESELAMATAN tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang kena bala dan HARGA NILAI HIDUP tidak diketahui benar-benar kecuali oleh orang-orang yang telah mati.”

Abul-Laits berkata: “Keterangan ini sesuai dengan hadis yang tersebut iaitu: Jagalah lima sebelum tibanya lima lawannya.”

Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Ayahku sering berkata: “Saya hairan kepada orang yang sihat akal dan lidahnya ketika dihinggapi maut mengapa tidak suka menerangkan sifat maut itu.” Kemudian ia dalam sakaratul maut itu sedang masih sedar akalnya saya berkata kepadanya: “Ayah, kau dahulu hairan terhadap orang yang sihat akal dan lidahnya mengapa tidak menceritakan tentang hal maut?” Jawab Amr: “Anakku, maut itu sangat ngeri dan dahsyat, tidak dapat disifatkan tetapi saya akan menrangkan sedikit kepadamu, demi Allah s.w.t., ia bagaikan bukit Radhwa diatas bahuku, sedang rohku seakan-akan keluar dari lubang jarum, sedang dalam tubuhku seplah-olah ada pohon berduri, sedang langit seakan-akan telah rapat dengan bumi sedang saya ditengah-tengahnya. Hai puteraku, sebenarnya aku telah mengalami tiga masa, pertama saya kafir dan berusaha benar untuk membunuh Nabi Muhammad s.a.w., maka alangkah celaka diriku sekiranya aku mati pada masa itu. Kkedua, kemudian aku mendapat hidayat sehingga masuk Islam dan sangat cinta pada Nabi Muhammad s.a.w. sehingga saya selalu diangkat menjadi pemimpin pasukan yang dikirimnya, alangkah bahagianya sekiranya saya mati ketika itu, nescaya saya akan mendapat berdoa restu Nabi Muhammad s.a.w., kemudian ketiga, kami sibuk dengan urusan dunia, kerana itu saya tidak ketahui bagaimana keadaanku disisi Allah s.w.t.” Abdullah berkata: Maka saya tidak bangun dari tempatnya sehingga mati disaat itu. Rahimahullah.”

Syaqiq bin Ibrahim berkata: “Orang-orang sependapat dengan aku dalam empat macam tetapi perbuatan mereka berlawanan. Pendapat aku yang pertama mereka mengaku hamba Allah tetapi berbuat seperti orang yang merdeka bebas, mereka mengaku Allah s.w.t. menjamin rezeki tetapi hati tidak tenang bila tidak ada kekayaan ditangan mereka, mereka mengaku akhirat lebih baik dari dunia tetapi mereka hanya mengumpulkan harta untuk dunia semata-mata dan mereka mengaku pasti mereka akan mati tetapi berbuat seperti orang yang tidak akan mati.”

Abud-Dardaa atau Salman Alfarisi atau Abu Dzar r.a. berkata: “Tiga macam mengkagumkan aku sehingga aku tertawa, dan tiga yang menyedihkan aku hingga aku menangis, adapun yang mentertawakan aku ialah, orang yang panjang angan-angan hidup padahal ia dikejar oleh maut, dan sama sekali tidak memikirkan akan mati, orang yang lupa terhadap maut padahal maut tidak lupa padanya dan orang yang tertawa padahal ia belum mengetahui apakah Allah s.w.t. ridha padanya ataupun murka. Adapun yang menangiskan aku ialah berpisah dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kawan-kawannya, memikirkan dahsyatnya maut bila tiba saatnya dan memikirkan kelak bila berhadapan kepada Allah s.w.t., akan diperintahkan kemana aku ini, apakah ke syurga atau keneraka.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Andaikan binatang-binatang itu mengetahui tentang mati sebagaimana yang kamu ketahui nescaya kamu tidak dapat makan daging binatang yang gemuk selamanya.”

Abu Hamid Allafaf berkata: “Siapa yang sering ingat mati, maka dimuliakan dengan tiga macam iaitu segera bertaubat dan terima terhadap rezeki (tidak tamak) dan tangkas beribadat. Sedangkan yang selalu lupa akan mati, terkena akibat tiga macam juga iaitu menunda-nunda taubat, tamak dalam rezeki dan malas beribadat.”

Nabi Isa a.s. biasa menghidupkan orang mati, maka ditegur oleh orang kafir dengan berkata: “Kau hanya dapat menghidupkan orang yang baru mati, kemungkinan belum mati benar orang itu, maka cuba hidupkan orang yang dulu-dulu itu.” Nabi Isa a.s. pun berkata: “Kamu pilih sendiri siapa yang kamu minta  saya hidupkan.” Mereka berkata: “Hidupkan Sam bin Nuh a.s..” Lalu nabi Isa a.s. pergi kekuburnya dan disana didirikan sembahyang dua raka’at dan berdoa kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. menghidupkan Sam bin Nuh a.s. dalam keadaan rambut dan janggutnya telah putih, maka ditanya oleh Nabi Isa a.s.: “Mengapa kamu berubah padahal pada waktu kamu mati dahulu belum ada uban?” Jawab Sam bin Nuh a.s.: ” Ketika aku dengar panggilan untuk keluar aku kira hari kiamat kerana itu rambutku langsung menjadi putih kerana ketakutan.” Lalu ditanya lagi: :Berapa lama kamu matu?” Jawab Sam: “Sejak empat ribu tahun yang lalu dan belum hilang rasa pedihnya maut!”

Tiada seorang mukmin mati melainkan ditawarkan kepadanya kembali hidup didunia, tetapi ia menolak kerana beratnya sakaratul maut, kecuali orang yang mati syahid, mereka tetap ingin hidup kembali didunia untuk berperang dan mati syadih lagi, sebab mereka tidak merasakan sakitnya sakaratul maut, juga kerana merasakan kebesaran kehormatan orang yang mati syahid disisi Allah s.w.t.

Ibrahim bin Ad’ham ketika ditanya: “Mengapakah kau tidak mengajar?” Jawabnya: “Saya masih sibuk dengan empat macam, bila selesai urusan empat macam itu saya dapat mengajar.” Ditanya lagi: “Apakah yang empat macam itu?” Jawabnya: “Saya sedang memikirkan yaumul mistaq ketika Allah s.w.t. menentukan Anak Adam. Mereka ini untuk syurga dan mereka ini untuk neraka, saya tidak mengetahui termasuk golongan yang mana satu. Saya juga memikirkan kejadian manusia ketika diperut ibunya ketika akan diberi roh dan Malaikat disuruh mencatat untung atau celaka, sayapun tidak mengetahui dari golongan manakah saya, saya juga memikirkan nanti dimasa malakulmaut datang kepadaku lalu bertanya kepada Allah s.w.t.: Apakah roh orang ini digolongkan orang muslimin atau bersama orang kafir, sayapun belum mengetahui bagaimana jawab Allah s.w.t. kepada malaikat itu dan yang terakhir saya memikirkan tentang ayat yang berbunyi Wan tazul yauma ayyuhal mujrimum. (Yang bermaksud) Berpisahlah kamu hari ini hai orang yang derhaka. Saya belum mengetahui dalam golongan manakah saya ini.”

Abul-Laits berkata: “Sungguh untung orang -orang yang diberi Allah s.w.t. pengertian dan disedarkan dari kelalaian, dan dipimpin sehingga berfikir bagaimana akhirnya mati. Semoga Allah s.w.t. menjadikan penghabisan umur kami dalam kebaikan, serta mendapat khabar gembira, sebab orang mukmin pasti mendapat khabar gembira ketika maut, iaitu dalam ayat Innal ladziina qaalu robbunallahu tsummas taqaamu tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhaafu wala tahzannu, wa absyiru biljannatillati kuntum tuu’adun. Nahnu auliyaa’akum fil hayaatiddunya wafil akhiroti. (Yang bermaksud) Sesungguhnya orang-orang yang beriman, percaya benar-benar kepada Allah dan Rasullullah, kemudian tetap istiqomah dalam menunaikan kewajipan dan meninggalkan larangan istiqamah dalam kata dan perbuatannya mengikuti benar-benar sunnatur Rasul, maka akan datang kepadanya Malaikat menyampaikan khabar gembira. kamu jangan takut dan jangan susah, dan bergibaranlah kamu akan mendapat syurga yang dijanjikan, kepadamu. Sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Khabar gembira itu terdapat dalam lima bentuk:

*

Untuk orang awam yang mukmin diberitahu: Jangan takut, kamu tidak akan kekal dalam neraka bahkan kamu tetap akan mendapat syafaat para Nabi-nabi dan orang-orang solihin, dan jangan sedih atau berduka atas kekurangan pahala dan kamu pasti masuk syurga.
*

Untuk orang yang ikhlas: Kamu jangan khuatir, kerana amalmu telah diterima, dan jangan sedih terhadap kekurangannya pahala, kerana kamu pasti mendapat pahala berlipat ganda.
*

Untuk orang-orang yang bertaubat: Kamu jangan khuatir terhadap dosa-dosamu, maka semua sudah diampuni, dan jangan sedih terhadap pahala, pasti kamu dapatkan atas amalmu sesudah taubat.
*

Untuk orang-orang yang zahid. Kamu jangan khuatir mahsyar atau hisab, dan jangan berduka sebab akan dikurangi pahalamu yang berlipat-lipat ganda itu, dan terimalah khabar gembira bahawa kamu akan masuk syurga tanpa hisab.
*

Untuk ulama yang mengajarkan kebaikan pada manusia. Kamu jangan takut dari dahsyat hari kiamat, dan jangan berduka sebab Allah s.w.t. akan membalas amalmu dengan syurga, juga orang-orang yang mengikuti jejakmu.

Dan sungguh untung orang yang mendapat berita gembira pada ketika matinya, sebab berita gembira hanya untuk orang mukmin yang baik amal perbuatannya maka turunlah Malaikat kepadanya lalu bertanya: “Siapakah kamu, kami tidak melihat muka yang lebih elok dari kamu dan yang lebih harum dari baumu?” Jawab Malaikat: “Kamu dahulu kawanku yang mencatat amalmu ketika didunia, dan kami juga menjadi kawanmu diakhirat.”

Maka seharusnya bagi orang yang berakal sedar dari kelalaiannya, dan tanda kesedaran itu ada empat iaitu:

*

Mengatur urusan dunia dengan tenang dan merasa masih banyak waktu.
*

Memerhatikan urusan akhirat dengan cermat dan sungguh kerana merasa waktunya mendesak dan tidak dapat ditunda.
*

Mengatur urusan agama dengan rajin-rajin mencari ilmunya.
*

Bergaul dengan sesama makhluk dengan saling nasihat dan sabar, dan yang paling utama ialah orang yang mempunyai lima sifat iaitu:
*

(1)Tekun beribadat kepada Tuhan
*

(2)Sangat berguna terhadap sesama manusia
*

(3)Semua orang merasa aman dari gangguan
*

(4)Tidak iri terhadap orang lain
*

(5)Selalu bersiap untuk menghadapi maut.

Ketahuilah saudara bahawa kami dijadikan untuk mati, dan tidak dapat lari daripadanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Innaka mayyitun mainnahum mayyitun Engkau akan mati dan mereka juga akan mati. Dan Firman Allah s.w.t. Qul lan yanta’akumul firaaru in farartum minal mauti awil qatli  katakanlah: (Yang bermaksud) Tidak akan berguna bagimu lari menghindari maut, jika kamu lari dari maut atau perang, kerana demikian keadaannya maka kewajipan seorang muslim harus siap-siap benar untuk maut sebelum tibanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Walan yatamannauhu abada in kuntum shadiqin (Yang bermaksud) Inginkanlah mati jika kau benar-benar dalam imanmu.Firman Allah s.w.t. lagi Walan yatamannauhu abada bima qoddammat aidihim.(Yang bermaksud) Dan mereka tidak akan ingin mati kerana mengetahui amal kejahatan dirinya.

Dalam kedua ayat ini maka nyatalah Allah s.w.t. menjelaskan bahawa seseorang yang benar-benar beriman dan ikhlas kepada Allah s.w.t. tidak gentar akan mati bahkan rindu kepada kematian untuk segera bertemu dengan Allah s.w.t. dan sebaliknya orang munafik, ia akan lari kerana merasakan amal perbuatannya sangat sedikit.

Abud-Dardaa r.a. berkata: “Saya suka kepada kemiskinan kerana itu sebagai tawadhu’ merendah diri kepada Tuhanku, dan aku suka penyakit sebab itu sebagai penebus dosa, dan aku suka kepada kematian kerana rindu kepada Tuhanku.”

Abdullah bin Mas’uud r.a. berkata: “Tiada seorang yang hidup melainkan mati itu lebih baik baginya, jika ia baik, maka firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Wama indallahi khoirun lil abrar (Yang bermaksud) Apa yang disediakan oleh Allah lebih baik bagi orang yang bakti taat. Dan bila ia derhaka, maka friman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Inamma numli lahum liyazdadu itsma walahum adzabun muhim. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Kami membiarkan mereka supaya bertambah dosa, dan untuk mereka bersedia siksa yang sangat hina.

Anas r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Almautu rahitul mu’min (Yang bermaksud) “Mati itu bagaikan kenderaan seorang mukmin. Ibn Mas’ud r.a. berkata: Nabi Muhammad s.w.t. ditanya: “Siapakah mukmin yang utama dan yang manakah yang terkaya?” Rasullullah s.a.w. menjawab: “Yang terbaik budi akhlaknya, dan mukmin yang terkaya ialah yang banyak ingat mati dan baik persediaannya.”

Nnabi Muhammassd s.a.w bersabda yang bermaksud: “Orang yang sempurna akal ialah yang selalu memeriksa dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedang yang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsunya, dan mengharapkan pengampunan Allah.”(Yakni tanpa amal).

TAUBAT

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata: “Adam a.s. berkata: “Ya Robbi, Engkau telah memenangkan Iblis atasku sehingga aku tidak dapat mengelakkan diri padanya kecuali dengan pertolonganMu.” Firman Allah s.w.t.: “Tiada lahir seorang anak keturunanmu melainkan telah aku datangkan kepadanya yang menjaganya dari tipu daya iblis, dan dari jin-jin yang jahat.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Jawab Allah s.w.t.: “Aku beri pahala setiap hasanat sepuluh lipat ganda dan ada harapan ditambah, sedang kejahatan satu lawan satu, dan ada harapan dihapuskan.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Firman Allah s.w.t.: “Taubat tetap diterima selama roh dikandung badan.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Firman Allah s.w.t.: “Qul ya ibadziyal ladzina asrafu ala anfusihim lataq nathu min rahmatillahi innallaha yagh firudzdzunuha jami’a, in nahu hauwal ghafururrahiem.” Yang bermaksud: “(Katakanlah: Hai hambaKu yang telah memboros dari menggunakan masa hidup untuk amal yang tidak berguna) kamu jangan putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampunkan semua dosa, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi penyayang.)”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: “Bahawasanya Wahsyi yang membunuh Hamzah r.a., pakcik Rasulullah s.a.w. menulis surat kepada Rasulullah s.a.w. dari Mekkah: “Sesungguhnya saya ingin masuk Islam tetapi terhalang oleh ayat (Yang berbunyi): Walladzina laa yad-una Allahi ilahanakhoro, wala yaqtuluna nafsallati harramallahu illa bilhaqqi walla yaznun, waman yaf’al dzalika yaiqa atsaamaa. (Yang bermaksud) Dan mereka yang tidak mempersekutukan Allah dengan tuhan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina, dan siapa yang berbuat itu maka ia menanggung dosa-dosa. Sedang saya telah berbuat semua itu, maka apakah ada jalan bagiku untuk taubat?”

Maka turun ayat yang berbunyi: “Illa man taba waamana wa amila amalan salihin fa ula ika yubaddilullahu sayyiantihim hasanaat.” (Yang bermaksud): Kecuali orang yang taubat dan beriman soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan dosa-dosa mereka dengan hasanat.

Maka Nabi Muhammad s.a.w. mengirim ayat tersebut kepada Wahsyi lalu dijawab oleh Wahsyi: “Bahawa didalam ayat ini ada syarat iaitu harus beramal soleh, sedang saya belum tahu apakah dapat melakukan amal soleh atau tidak.” Maka turun ayat (Yang berbunyi): “Inna Allah la yagh firu yusyroka bihi wayaghfiru ma dunia dzalika liman yasya’u.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni pada siapa yang mempersekutukanNya dan mengampuni semua dosa selain syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.”

Ayat ini dikirimkan kepada Wahsyi. Jawab Wahsyi: “Didalam ayat ini juga ada syarat dan saya tidak mengetahui apakah Allah s.w.t. hendak mengampuni saya atau tidak.” Maka turun ayat (Yang berbunyi): “Qul ya ibadiyalladzina ala antusikum, laa’ taqnathu min rahmatillahi innallah yagh firudz dzunuba jami a innahu huwal ghafurrahiem.” (Yang bermaksud): “Katakanlah: Hai hambaKu yang telah memboros diri, janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampuni semua dosa, sungguh Allah maha pengampun lagi penyayang.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Sufyan berkata: “Muhammad bin Abdulrahman Assulami menulis surat kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku: Saya duduk dekat Nabi Muhammad s.a.w. diMadinah, lalu ada seorang diantara mereka berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa yang taubat sebelum mati setengah hari, maka Allah s.w.t. memaafkan padanya. Lalu saya bertanya: Benarkah kau mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda demikian? Jawabnya: Ya. Tiba-tiba ada lain sahabt berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum matinya sekira sesaat, maka Allah s.w.t. memaafkan baginya. Kemudian ada yang lain berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum tercabut nyawa dari tenggoroknya maka Allah s.w.t. memaafkan baginya.”

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Mutharrif berkata: “Allah s.w.t. berfirman: Amboi, anak Adam berbuat dosa lalu minta ampun, maka Aku ampunkan tetapi kemudian ia mengulangi dosanya lalu minta ampun, maka Aku ampunkan, amboi kasihan, ia tidak dapat meninggalkan dosanya tetapi ia pula tidak putus harapan dari rahmatKu, hai para MalaikatKu, Aku persaksikan kepada kamu bahawa Aku telah mengampuni baginya.”

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-a’masy dari seorang dari Mughits bin Sumai berkata: “Ada seorang pada ummat-ummat yang dahulu, ia selalu berbuat maksiat, maka pada suatu hari ketika ia sedang berjalan, teringat pada perbuatan-perbuatannya yang lalu, maka ia berdoa: Allahumma ghufranaka (Yang bermaksud) Ya Allah, aku harap ampunanMu sebanyak tiga kali, mendadak ia mati, maka Allah s.w.t. mengampuni baginya.”

Muhammad bin Ajlan dari Makhul berkata: “Saya mendapat keterangan bahawa Nabi Ibrahim a.s. ketika diperlihatkan oleh Allah s.w.t. alam malakut dilangit, ia melihat hamba Allah dibumi yang sedang berzina, maka ia berdoa sehingga binasalah hamba itu, kemudian ia melihat orang yang sedang mencuri, maka ia berdoa sehingga dibinasakan oleh Allah s.w.t., lalu Allah s.w.t. berkata kepadanya: “Ya Ibrahim, biarkan urusan hambaKu kerana hambaKu itu diantara ia bertaubat maka Aku memaafkan atau akan melahirkan turunan yang ibadat kepadaKu atau ia memang celaka, maka untuknya telah tersedia jahannam untuk tempatnya dihari kemudian.”

Abul-Laits berkata: “Berita ini sebagai dalil bahawa seorang hamba bila bertaubat maka Allah s.w.t. menerima taubatnya dan mengampuninya, kerana itu seharusnya manusia tidak putus harapan dari rahmat Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Innahu layaiasu min rouhillah illal qaumul kafirun.” (Yang bermaksud) “Sesungguhnya tidak akan patah dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.”

Di lain ayat pula berbunyi: “Wahuwalladzi yaqbalut taubata an ibadihi waya’fu annissanyyi ati.” (Yang Bermaksud): ” Dialah Allah yang menerima taubat hamba-hambaNya dan memaafkan perbuatan-perbuatan yang jelek (dosa): (Surah: Assuya ayat 25)

Maka seharusnya bagi seorang yang sempurna akal bertaubat pada tiap waktu supaya tidak tergolong pada orang-orang yang dalam derhaka, sebab seorang yang selalu bertaubat tidak dianggap selalu didalam dosa meskipun ia mengulangi dosa itu sehari sampai tujuh puluh kali, sebagaimana riwayat Abubakar Assidiq r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dianggap terus menerus berbuat dosa orang yang selalu membaca istighfar (minta ampun) meskipun ia mengulangi dalam sehari tujuh puluh kali. Rasulullah s.a.w. juga bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah tiap hari seratus kali.”

Ali bin Abi Talib r.a. berkata: “Saya bila mendengar langsung dari Rasulullah s.a.w. maka saya pergunakan dan bila diberitahu oleh lain orang maka saya sumpah jika ia berani sumpah saya percaya. Abu bakar r.a berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak seorang hamba yang berdosa kemudian ia wudhu dengan sempurna kemudian sembahyang dua rakaat dan membaca istisgfar (minta ampun) kepada Allah melainkan diampunkan oleh Allah baginya. Kemudian Rasulullah s.a.w. membaca ayat (Yang berbunyi): “Wa man ya’mal su’an yadh lim nafsa hu tsumma yas tagh firillah yajidillaha ghafura rahiema. (Yang bermaksud): Dan siapa berbuat kejahatan atau aniaya pada diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang.”

Dilain riwayat Rasulullah s.a.w. memperdengarkan ayat: “Walladzina idza fa’lahu fahisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastagh faru lidzu-nubihim, waman yagh firudzdzunuba illa Allah, walam yashirru ala maa fa’alu wahum ya’lamun (135) Ula’ika jazaa’uhum maghdiratun min robbihim wa jannatun tajri min tahtihal anharu kholidina fiha wani’ma ajrul amilin (136). (Yang bermaksud): “Dan mereka yang bila berbuat kekejian atau zalim terhadap siri sendiri, langsung ingat kepada Allah lalu minta ampun dari dosa mereka, mengerti benar-benar bahawa tiada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak merahajalela dalam dosanya, sedang mereka mengetahui. Untuk mereka tersedia pengampunan Tuhan dan syurga yang mengalir dari bawahnya beberapa sungai, ekkal mereka didalamnya, sebaik-baik pahala bagi yang beramal.” (Surah: Al-Imran 135-136)

Al-Hasan Albashri berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Ketika Allah s.w.t. menurunkan iblis laknatullah ia berkata: Demi kemuliaanMu, saya tidak akan melepaskan anak Adam sehingga ia terpisah dengan rohnya, maka dijawab Allah s.w.t.: Demi kemuliaan dan kebesaranKu, saya tidak akan menutupkan jalan taubat dari hambaKu sehingga rohnya berada ditenggoroknya (hampir mati).”

Al-Qasim meriwayatkan dari Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Malaikat yang dikanan lebih kuasa terhadap malaikat yang dikiri, maka bila seseorang berbuat kebaikan, langsung dicatat olehnya sepuluh hasanat dan apabila berbuat kejahatan lalu akan ditulis oleh malaikat kiri, diperingatkan oleh yang dikanan, tahan dahulu kira-kira enam atau tujuh jam, maka bila ia membaca istighfar (minta ampun) atau dicatat apa-apa, dan jika tidak membaca istighfar, lalau dicatat satu kejahatan (sayyi’at).”

Abul-Laits berkata: “Ini sesuai dengan hadis (Yang berbunyi): “Atta’ibu minzda-dzanbi kaman la dzanba lahu.” (Yang bermaksud): “Orang yang taubat dari dosa bagaikan tidak berdosa.” Dilain riwayat pula berbunyi: “Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, tidak segera dicatat sehingga berbuat dosa yang lain, kemudian jika berbuat dosa lagi, juga tidak ditulis sehingga berbuat dosa yang ketiga, maka jika berkumpul lima dosa, sedang yang lima digantinya lima dosa itu. Maka disitu iblis laknatullah menjerit: Bagaimana saya akan dapat membinasakan anak Adam, sedang saya telah berusaha untuk menjerumuskan lima kali, tiba-tiba dibatalkan dengan satu hasanat, maka hilang semua usahaku itu.”

Shafwan bin Assaal Almuradi r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Disebelah barat ada pintu gerbang besar yang dibuat oleh Allah untuk pintu taubat lebarnya sekira perjalanan 40-70 tahun, tetap terbuka dan tidak ditutup sehingga matahari terbit dibarat.” Said bin Almusayyab mengertikan ayat (Yang berbunyi): “Innahu kaana awwabina ghafura.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah bagi orang yang selalu kembali kepadaNya maha pengampun.” Iaitu orang yang berdosa kemudian bertaubat kemudian berdosa lagi dan bertaubat.

Seorang ahli hikmah berkata: “Sifat orang aarif (yang menegnal Allah s.w.t.) ada enam iaitu:

*

Jika ingat kepada Allah s.w.t. maka dia berbangga.
*

Jika ingat pada dirinya maka dia merasa rendah.
*

Jika melihat ayat-ayat Allah s.w.t. maka dia mengambil iktibar.
*

Jika ingin bermaksiat maka dia menahan diri
*

Jika ingat maafnya Allah s.w.t. maka dia gembira
*

dan Jika ingat dosa-dosanya maka minta ampun

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Azzuhri r.a. berkata: ” Pada suatu hari Umar masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w. sambil menangis. maka ditanya:” Ya Umar, mengapakah kau menangis?.” Jawabnya: “Ya Rasulullah, dimuka pintu ini ada seoarng pemuda telah membakar hatiku sambil menangis.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Ya Umar, masukkan dia kepadaku.” Maka dimasukkan sambil menangis dan ditanya Nabi Muhammad s.a.w.: “Hai pemuda, apakah yang menyebabkan kau menangis?” jawabnya: “Ya Rasulullah, saya menangis kerana dosa-dosaku banyak sedang aku takut kepada Tuhan yang maha perkasa sedang murka kepadaku.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kau mempersekutukan Allah s.w.t., hai pemuda?” Jawabnya: “Tidak.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Apakah kau membunuh jiwa tanpa hak?” Jawab pemuda itu: “”Tidak.” Sabda Nabi Muhammad s.a.w. “Maka Allah s.w.t. akan mengampunkan dosamu walaupun sebesar tujuh petala langit dan bumi dan bukit-bukit.” Jawab pemuda itu: “Ya Rasulullah, dosa ku lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukit.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Dosamu lebih ataukah alkursi?” Jawab pemuda itu: “Dosaku lebih besar.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Dosamu lebih besar ataukah arsy?” Jawab pemuda itu: “Dosaku leboh besar.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Dosamu lebih besar atau maafnya Allah s.w.t.?” Jawab pemuda itu: “Maafnya Allah s.w.t. lebih besar.” Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: “Sungguh tidak dapat mengampunkan dosa besar kecuali Allah s.w.t. yang maha besar, yang maha maaf dan ampunanNya. Hai pemuda beritakan kepadaku, apakah dosamu itu?” Jawab pemuda itu: ” Jawabnya: “Saya malu dari engkau, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. menekan: ” Beritakan kepadaku apakah dosamu itu?.” Jawab pemuda itu: ” Ya Rasulullah, saya tukang gali kubur sejak tujuh tahun lalu dan pada suatu hari saya menggali kubur gadis dari kaum Ansar dan setelah saya telanjangi dari kafannya, saya tinggalkan tetapi tidak jauh bangkit hawa nafsuku, maka saya kembali dan mensetubuhi mayit gadis itu hingga puas lalu saya tinggalkan, belum jauh tiba-tiba gadis itu bangkit dan berkata: “Celaka kau hai pemuda, tidakkah malu engkau dari Tuhan yang akan membalas pada hari pembalasan kemudian, bila tiba masanya tiap orang zalim akan dituntut oleh orang yang dianiaya, kau birkan saya telanjang dan kau hadapkan aku dihadapan Allah sebagai orang janabat.” Nabi Muhammad s.a.w. mendengar keterangan itu segera bangkit bagaikan terdorong dari belakang sambil berkata: “Hai fasik, alangkah layaknya engkau masuk neraka, keluarlah dari sini.” Maka keluarlah pemuda itu bertaubat kepada Allah s.w.t. selama empat puluh hari dan pada malam keempat puluh ia melihat kelangit sambil berkata: “Ya Tuhannya Nabi Muhammad, Nabi Adam dan ibu Hawwa, jika Engkau telah mengampunkan aku maka beritahulah kepada Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, jika tidak maka kirimkan pada aku api dari langit dan bakarlah aku didunia ini, dan selamatkan aku dari siksa akihirat.” Maka turun malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan sesudah memberi salam ia berkata: “Ya Muhammad, Tuhanmu memberi salam kepadamu.” Jawab Nabi Muhammad s.a.w. “Dialah Assalam, dan daripadanya salam kepadamu dan kepadaNya segala keselamatan.” Jibril berkata: “Allah bertanya, apakah kau menjadikan makhluk?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w. “Bahkan Allah yang menjadikan aku dan semua makhluk.” Lalu ditanya: “Apakah kau memberi rezeki kepada mereka?” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Bahkan Allah memberi rezeki kepadaku dan mereka.” Kemudian ditanya lagi: “Apakah kau memberi taubat kepada mereka?.” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Bahkan Allah memberi taubat kepadaku dan mereka.” Lalu Jibril berkata Allah s.w.t. berfirman: ” Maafkanlah hambaKu itu kerana Aku telah memaafkan padanya.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. segera memanggil pemuda itu dan memberitahu padanya bahawa Allah s.w.t. telah menerima taubat kepadanya dan memafkannya.”

Abul-Laits berkata: “Seharusnya orang yang berakal memperhatikan kejadian ini dan mengerti bahawa zina dengan yang masih hidup itu lebih besar dosanya daripada zina dengan mayit. Juga harus bertaubat yang betul (sungguh-sungguh) sebagaimana pemuda itu ketika taubatnya benar-benar maka Allah s.w.t. memaafkannya.”

Ibn Abbas r.a. ketika menerangkan ayat (Yang berbunyi): “Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha.” (Yang bermaksud): “Hai orang yang beriman, taubatlah kamu kepada Allah taubat yang nashuh (Sesungguh-sungguhnya).” Iaitu menyesal dalam hati dan istighfar dengan lidah dan niat tidak akan mengulangi lagi selamanya. Ada riwayat bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Istighfar hanya dengan mulut sedang tetap terus berbuat dosa bagaikan mempermainkan Tuhannya.”

Rabi’ah al-Adawiyah berkata: “Istighfarkami ii memerlukan kepada istighfar yang banyak, iaitu istighfar dengan lidah sedang hatinya niat akan mengulangi perbuatan dosanya, maka taubatnya ialah taubat orang yang dusta dan ini tidak bernam taubat sebab syarat taubat ini ada tiga iaitu:

*

Menyesal dalam hati
*

Istighfar dengan lidah
*

dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Jika demikian maka pasti Allah s.w.t. mengampunkan baginya walau bagaimana besarnya dosa itu sebab Allah s.w.t. itu suka memaafkan pada hambaNya.

Pernah terjadi pada suatu masa dahulu raja Bani Israil diberitahu bahawa ada seorang ahli ibadah yang taat, maka raja itu tertarik sehingga ia memanggil orang ibadat itu dan diminta supaya suka menjadi sahabat raja dan sering datang keistana. Maka oleh orang ibadat itu menjawab: “Tawaran tuan raja itu baik tetapi bagaimana andaikan pada suatu hari saya bermain-main dengan babu raja, bagaimana tuan raja akan berbuat terhadap aku?” Tiba-tiba raja itu menjadi marah dan berkata: “Hai pelacur, kau berani berbuat itu didepabku?” Lalu ahli ibadat itu berkata: “Saya telah mempunyai Tuhan yang sangat pemurah, andaikan saya berbuat tujuh puluh kali dosa, nescaya tidak murka dan tidak mengusir aku bahkan tidak dikurangi rezekiku, maka bagaimana saya akan meninggalkan pintu Tuhan dan pindah pada orang sudah marah kepadaku sebelum aku bersalah, maka bagaimana kalau benar0benar engkau melihat aku telah berbuat salah (dosa) itu.” Kemudian dia keluar dari istana raja itu.

Abul-Laits berkata: “Dosa ada dua macam iaitu dosa antara kamu dengan Allah s.w.t. dan dosa antara kamu dengan semua manusia. Adapun antara kamu dengan Allah s.w.t. maka syarat taubatnya ada tiga iaitu:

*

Menyesal dalam hati
*

Istighfar dengan lidah
*

dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Maka siapa yang melakukan tiga syarat ini, tidak bangun dari tempatnya melainkan sudah diampunkan oleh Allah s.w.t. kecuali jika ia meninggalkan salah satu fardhu yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. maka tidak berguna taubatnya selama belum menyelesaikan kewajipan terhadap dirinya itu, lalu menyesal dan istghifar. Adapun dosa yang terjadi antaramu dengan sesama manusia maka selama mereka belum menghalalkan, maka tidak berguna bagimu taubat.”

Seorang ulama tabi’in berkata: “Adakalanya seorang yang berdosa, selalu teringat akan dosa dan menyesal serta minta ampun sehingga ia masuk syurga, sehingga syaitan laknatullah mengeluh: Celaka diriku, andaikan aku tahu nescaya tidak aku jerumuskan ia kedalam dosa itu.”

Abubakar Alwasithi berkata: “Sabar tidak keburuan dalam segala perbuatan itu baik kecuali dalam tiga macam iaitu:

*

Ketika tiba waktu sembahyang maka harus segera dilaksanakan
*

Ketika kematian harus segera diselesaikan dan dikuburkan secepat mingkin dan
*

Ketika akan taubat dari dosa maka jangan ditunda

Seorang Hakiem berkata: “Taubat seorang akan ternyata dalam empat macam iaitu:

*

Jika telah dapat mengendalikan lidahnya daripada dusta, ghibah dan kata-kata yang tidak penting baginya
*

Jika sudah tidak ada rasa hasud, dengki, iri hati terhadap semua manusia
*

Jika telah menjauhi teman-teman yang busuk dan
*

Selalu siap menghadapi maut, rajin dalam taat dan selalu istighfar menyesali dosa.

Seorang Hakiem ditanya: “Apakah ada tanda bahawa taubat itu telah diterima?” Jawabnya: “Ya, ada empat tanda iaitu:

*

Putus hubungan dengan kawan-kawan yang tidak baik dan bersahabat dengan orang-orang solihin
*

Menghentikan semua maksiat dan rajin melakukan taat
*

Hilang rasa kesenangan kepada dunia kepada hatinya dan selalu ingat kesusahan akhirat
*

Percaya pada jaminan Allah s.w.t. dalam soal rezeki, lalu sibuk mengerjakan perintah Allah s.w.t.

Maka bila terdapat semua sifat itu ia termasuk pada ayat yang berbunyi: “Innallaha yuhibbuttawwabina wa yuhibbul metathahirin. (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah kasih pada orang yang taubat dan kasih pada orang yang suka bersuci.” Kemudian ia berhak dari orang-orang empat macam iaitu:

*

Mereka cinta kepadanya kerana Allah telah cinta kepadanya
*

Mereka akan memeliharanya dengan selalu mendoakannya
*

Mereka lupa terhadap dosa-dosanya yang lalu
*

Mereka selalu mendekat dan membantu serta mendekatinya

Dan Allah s.w.t. akan memuliakannya dengan empat macam perkara iaitu:

*

Melepaskannya dari dosa sehingga seolah-olah tidak pernah berdosa
*

Dicintai Allah s.w.t.
*

Dipeliharanya dari gangguan syaitan laknatullah
*

Diamankan dari rasa takut sebelum keluar dari dunia

Seperti mana firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhafu wala tahzanu, waabsyiru bil jannatillati kuntum tu’adun.” (Yang bermaksud): “Akan turun kepada mereka malaikat yang memberitahu supaya jangan takut dan jangan susah dan sambutlah khabar baik kamu akan masuk syurga yang telah dijanjikan untukmu.”

Khalid bin Ma’dan berkata: “JIka orang-orang yang taubat itu telah dimasukkan kesyurga mereka bertanya: “Tidakkah Tuhan berjanji bahawa kami akan melewati neraka sebelum masuk syurga?” Maka dijawab: “Ketika kamu melaluinya ia sedang padam.”

Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Ketika selesai melaksankan hukum rejam terhadap wanita yang berzina sehingga mati, lalu menyembahyangkannya, ditegur oleh sebahagian sebahat Rasulullah s.a.w.: Ya Rasulullah, engkau yang menghukum rejam kemudian kamu sembahyangkannya?” Jawab Rasulullah s.a.w.: Sungguh ia telah taubat yang andaikan ia berbuat tujuh puluh kali seperti itu nescaya diampunkan Allah, yakni ia telah taubat benar-benar dan taubat yang benar-benar itu pasti diterima meskipun bagaimana besarnya dosa, tetap akan diampunkan.”

Juga diriwayatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang mengejek seorang mukmin kerana dosa, maka ia bagaikan yang mengerjakannya danlayak bila Allah menjerumuskannya kedalam dosa itu. Dan siapa yang mengejek orang mukmin kerana suatu dosa, maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga melakukan dosa itu dan terbuka rahsianya dimuka umum sehingga merasakan malunya.”

Abul-Laits berkata: “Seorang mukmin tidak sengaja berbuat dosa sebab Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Wa karraha ilaikumul kufra walfusuqa wal ishyan.” (yang bermaksud): “Ddan Allah membencikan kepadamu kekafiran, kefasikan dan maksiat.” Kerana itu seorang mikmin tidak mungkin sengaja berbuat dosa tetapi boleh terjadi padanya disaat ia lalai, tidak kuat menahan nafsu syahwat yang sedang meluap, kerana itu tidak boleh dicemuhkan, jika ia telah bertaubat.

Ibn Abbas r.a. berkata: “Jika seorang hamba taubat dan diterima oleh Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. melupakan malaikat yang mencatat amal apa yang telah mereka tulis, juga anggota badannya pun lupa apa yang pernah dilakukan dari dosa, juga Allah s.w.t. melupakan bumi dimana ia berbuat dosa diatasnya, supaya ia datang pada hari kiamat dan tiada sesuatupun yang menyaksikan perbuatan yang pernah dilakukan itu.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tertulis dikeliling arsy sebelum dijadikan makhluk sekira empat ribu tahun: “Wainni laghaffarun liman taba wa aamana wa amila shaliha tsumahtada. (Yang bermaksud): Sesungguhnya Aku (Allah s.w.t.) maha pengampun bagi siapa yang taubat dan beriman dan beramal soleh dan mengikuti petunjuk.”

Abil-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan bab pintu taubat, lalu ditanya oleh Umar bin Alkhoththob: “Apakah pintu taubat itu, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Pintu taubat itu dihujung barat, mempunyai dua daun pintu dari emas bertaburkan mutiara dan yaqut, antara kedua tiang pintu itu sejauh perjalanan empat puluh tahun bagi orang yang berkenderaan kencang (cepat) dan pintu itu tetap terbuka sejak dijadikan Allah hingga malam yang akan terbit matahari pada paginya, dan tiada seorang hamba yang taubat benar-benar melainkan masuk taubatnya dari pintu itu. Mua’dz bin Jabal r.a. bertanya: “Ya Rasulullah, apakah taubat nashuh itu?” Jawab Rasulullah: “Ialah menyesal atas perbuatan dosanya dan niat tidak akan mengulangi lagi, kemudian minta mapun kepada Allah s.w.t. Kemudian matahari dan bulan terbenam dipintu itu, lalu tertutup kedua daun pintu itu bagaikan tidak ada retaknya, maka ketika itu tidak lagi diterima taubat dan tidak diterima amal yang baru sesudah tertutup pintu itu, dan semua orang menurut keadaannya sebelum itu, jika ia baik maka dilanjutkan kebaikannya, sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi):Yauma ya’ti ba’dhu aayati robbika la yanfa’u nafsan imanuha lam takun amanat min qablu au kasabat fi imaniha khoiro. (Yang bermaksud): “Pada saat tibanya sebahagian ayat-ayat Tuhanmu, maka tidak berguna bagi seseorang iman yang baru, bila tidak beriman sejak sebelumnya, atau telah berbuat dimasa imannya dahulu kebaikan.”

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Taubat nashuh itu ialah sesudah taubat tidak mengulangi lagi, dan pintu taubat itu yeyap terbuka dan diterima dari siapapun kecuali tiga iaitu:

*

iblis laknatullah iaitu induk semua kekafiran
*

Qabil iaitu induk dari semua yang sial dan celaka dan
*

orang yang membunuh nabi

Sedang pintu taubat itu disebelah barat lebarnya kira-kira perjalanan emapt puluh tahun tidak akan ditutup sehingga ternit matahari daripadanya (dari barat).

Abul -laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Taubat itu tergantung diudara, berseru siang malam tidak berhenti-henti: Siapa yang akan menerima aku, tidak akan tersiksa dan keadaan itu selamanya, sehingga matahari terbit dari barat, maka apabila matahari telah terbit dari barat, maka ia terangkat.”

Semua keterangan ini menganjurkan supaya bertaubat dan siapa yang bertaubat akan diterima taubatnya sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Wa tubu ilallahi jami’a ayyuhal mu’minun la’allakum tuflihun.” (Yang bermaksud): “Dan taubatlah kamu semua hai orang-orang mukminun supaya kamu bahagia. Selamat dari siksaNya dan mencapai rahmatNya.” Sesungguhnya taubat itu pembuka dari segala kebaikan dan menyebabkan keselamatnnya dan kebahagiaan tiap mukmin. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha, asa rabbukum an yukaffira ankum sayyiatikum, wa yud khilkum jannatin tajri min tahtihal anharu.” (Yang bermaksud): “Hai orang-orang yang beriman, taubatlah kamu dengan sungguh-sungguh kepada Allah, semoga Tuhan menghapuskan dosa-dosamu dan memasukkan kamu kesyurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.” (Surah: Attahrim: ayat 8)

Dan ayat yang lain pula berbunyi: “Walladzina idza fa’alu fa hisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastaghfaru lidzunubihim, waman yaghfirudz dzunuba illallahu, walam yashirru ala ma fa’alu wahum ya’lamun.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang bila berbuat dosa besar yang keji atau aniaya pada dirinya (berbuat dosa kecil), lalu ingat kepada Allah dan minta ampun untuk dosanya, kerana tidak ada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak tetap selalu berbuat dosa, sedang mereka mengetahui akan dosa maksiat.” (Surah Al-Imran ayat 135)

Said bin Abi Burdah meriwayatkan dari ayahnya dari neneknya berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya saya membaca istighfar minta ampun dan taubat tiap hari seratus kali.” Dilain riwayat pula: “Hai manusia, taubatlah kamu kepada Allah, maka saya bertaubat kepada Allah tiap sehari semalam seratus kali.”

Apabila Nabi Muhammad s.a.w. beristighfar dan taubat tiap hari seratus kali, padahal telah diampuni oleh Allah s.w.t. semua dosanya yang lalu dan yang akan datang, maka bagaimana kita yang belum mengetahui apakah diampunkan atau tidak? Apakah tidak selayaknya taubat tiap waktu dan tidak berhenti-henti membaca istighfar.

Ibn Abbas r.a. ketika mentafsirkan ayat yang berbunyi: “Bal yuridul insanu liyafjura amamah.” (Yang bermaksud): “Bahkan manusia itu mengutamakan dosanya dari menunda-nunda taubatnya.” Ia selalu berkata: “Kelak akan taubat sehingga tibalah maut dalam keadaan yang sejelek-jeleknya ia mati.”

Juwaibir meriwayatkan dari Adhdhahhak dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Pasti akan binasa orang yang menunda-nunda (Yang selalu berkata kelak saya akan taubat).”

Maka seharusnya tiap manusia taubat pada tiap waktu sehingga bila tiba maut ia sudah taubat, sedang Allah s.w.t. telah berjanji dalam ayatNya yang berbunyi: “Wahuwalladzi yaqbaluttaubata anibadihi waya’fu anissayyi’at.” (Yang bermaksud): “Dialah Allah yang menerima taubat hambaNya dan memaafkan segala kesalahan (kejahatan) Yakni asalkan bertaubat dan minta ampun, maka Allah akan mengampunkan.

Abdullah bin Mas’uud r.a. berkata: “Siapa yang membaca (ayat yang berbunyi): “Astaghfirullahal adhiem alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atu bu ilaihi.” (Yang bermaksud) Saya mohon ampun kepada Allah yang maha agung, yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang hidup berdiri sendiri mengatur makhlukNya dan bertaubat kepadaNya.” sebanyak tiga kali maka akan diampunkan semua dosa-dosanya meskipun sebanyak buih dilaut.

Ayyub meriwayatkan dari Abu Qabilah berkata: “Ketika Allah s.w.t. mengutuk iblis laknatullah maka ia minta ditunda, maka Allah s.w.t. meluluskan permintaannya, maka iblis laknatullah berkata: “Demi kemuliaanMu, aku tidak akan keluar dari dada hambaMu sehingga keluar rohnya. Dijawab Allah s.w.t.: “Demi kemuliaan dan kebesaranKu, tidak akan aku tutup pintu taubat pada hambaKu sehingga keluar rohnya.” Maka perhatikan bagaimana kasih rahmat Allah s.w.t. pada hambaNya, tetapi menamakan mereka orang-orang mukminin sesudah mereka berdosa sebagaimana ayat 31, surah Annur (Yang berbunyi): “Wa tubu ilallahi jami’a ayyuhal mukminun la’allakum tuflihun.” (Yang bermaksud): “Dan taubatlah kamu semua kembali kepada Allah, hai orang-orang muminin supaya kamu untung selamat dan bahagia.”

Dan Allah s.w.t. menyatakan kasih kepada orang yang bertaubat didalam ayat yang berbunyi: “Innal-laha yubih buttawwabina wayuhibbul mutathohhirin.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada orang yang taubat dan suka pada orang yang bersuci.”

Rasulullah s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): “Atta’ibu minadzdzanbi kaman ladzanba lahu.” (yang bermaksud): “Orang yang taubat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak berdosa.”

Ali bin Abi Thalib r.a. diberitahu oleh orang: “Saya telah berbuat dosa.” Ali berkata: “Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi.” Lalu orang itu berkata: “Saya telah taubat tetapi saya ulangi lagi.” Ali berkata: “Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi lagi.” Orang itu bertanya: “Sampai bilakah?” Jawab Ali r.a.: “Sehingga syaitan laknatullah yang kecewa dan menyesal.”

Mujahit ketika menerangkan ayat yang berbunyi: “Innamattaubatu alallahi lilladzina ya’malunassu’a bijahalatin tsumma jatubuna min karib.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya taubat itu terhadap mereka yang berbuat dosa dengan kebodohan kemudian bertaubat tidak lama.” (surah Annisa ayat 17) Mujahid berkata: “Asalkan belum mati, maka ia bererti segera dan tidak lama.”

Abuhurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika seorang berbuat dosa lalu berkata: “Ya Tuhan, saya telah berbuat dosa maka ampunkan bagiku. Allah s.w.t. menjawab: “HambaKu telah berbuat dosa, tetapi ia sedar mengetahui bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampunkan atau menuntut dosanya maka Aku ampunkan baginya.”

Ini kerana kehormatan Rasulullah s.a.w. Sedang pada ummat-ummat yang dahulu jika berbuat dosa maka diharamkan apa yang tadinya halal dan bila seorang berbuat dosa maka langsung dipintu rumahnya ada keterangan Fulan bin Fulan telah berbuat dosa atau dibadannya. Dan cara taubatnya harus berbuat sebegini.

Bagi ummat Rasulullah s.a.w. dimudahkan dengan ayat yang berbunyi: “Waman ya’mal su’an au yadh nafsahu tsumma yastagh firillaha yajidil-laha ghafura rahiema.” (Yang bermaksud): “Dan siapa yang berbuat dosa atau kesalahan bagi dirinya, kemudian minta ampun kepada Allah, tentu ia mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang.”

Keran itu maka tiap muslim harus bertaubat kepada Allah s.w.t. tiap pagi dan petang. Mujahid berkata: “Orang yang tidak bertaubat tiap pagi dan petang maka termasuk orang yang zalim (aniaya) terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana wajib juga menjaga sembahyang lima waktu sebab Allah s.w.t. menjadikan sembahyang lima waktu itu sebagai penyuci dosa-dosa kecil yang terjadi sehari-hari dan tidak terasa.”

Alqamah dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Seorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasulullah, saya tadi bertemu wanita dalam kebun, maka saya peluk dan saya berbuat padanya segala sesuatu hanya tidak saya zina.” Rasulullah s.a.w. diam sejenak kemudian turunlah ayat yang berbunyi: “Wa aqimis sholata tharafayinnahari wa zulafa minallahi, innal hasanati yudz hibnassayyi’at, dzalika dzikra lidzdzakirin.” (Yang bermaksud): “Tegakkan sembahyang pada waktu siang dan malam, sesungguhnya amal kebaikan itu dapat menghapuskan sayyi’at kejahatan (dosa), ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang sedar taubat (bagi orang yang akan bertaubat ” Surah Hud ayat 114)

Maka dipanggil oleh Rasulullah s.a.w. dan dibacakan ayat itu padanya, Umar r.a. bertanya: “Ya Rasulullah, apakah khusus buat dia sendiri atau umum buat semua manusia? ” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Bahkan umum buat semua orang.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata: “Pada suatu malam sesudah sembahyang bersama Rasulullah s.a.w. saya keluar, tiba-tiba saya bertemu dengan seorang wanita yang kudung berdiri ditengah jalan, lalu ia berkata: “Hai Abuhurairah, saya telah berbuat dosa yang sangat besar, apakah ada jalan untuk taubat?” Saya bertanya: “Apakah dosamu?” Jawabnya: “Saya telah berzina sehingga mendapat anak lalu sayu bunuh anak itu.” Abu Hurairah r.a. berkata: “Celaka kau dan telah membinasakan, demi Allah, tiada jalan untuk taubat.” Maka ia menjerit sehingga pingsang, lalu saya tinggalkannya, akan tetapi timbul perasaanku: Saya memberi fatwa padal Rasulullah s.a.w. masih hidup ditengah-tengah kami, dan pagi harinya saya telah pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasulullah, semalam saya diminta fatwa dalam hal ini dan saya fatwakan kepadanya begini.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Demi Allah hai Abuhurairah, engkaulah yang binasa dan membinasakan, dari manakah engkau hai Abuhurairah?.” Dari ayat: “Walladzina layad’una ma Allahi ilaha akhara wala yaqtulunnafsal lati har-ramallahu illa bilhaqqi wala yaznuna, waman yaf’al dzalika yalqa atsama, yudha’af lahul adzabu yaumal qiyamati wayakhludz fihi muhana, illa man ta ba wa amana wa amila amalan shaliha fa ula’ika yubaddilullahu sayyi’atihim hasanat, wakanallahu ghafura rahima.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang tidak menyeru kepada Tuhan yang lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina dan siapa yang melakukan semua itu mendapat dosa, bahkan akan dilipat gandakan siksa mereka, dan kekal dalam siksa itu hina dina kecuali orang yang taubat, beriman dan melakukan amal yang soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan semua dosa-dosa mereka dengan kebaikan dan adanya Allah maha pengampun lagi pengasih.” (Surah Alfurqan ayat 68-70)

Maka saya segera keluar berjalan dikota Madinah sambil bertanya-tanya: “Siapakah yang dapat menunjukkan aku pada wanita yang tadi malam minta fatwa kepadaku mengenai soal ini dan itu, sehingga anak-anak mengatakan: “Abuhurairah telah.” Sehingga pada malam harinya saya bertemu dengan wanita itu ditempat yang kelmarin itu, maka segera saya terangkan kepadanya apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. bahawa ia dapat bertaubat, maka ia menarik nafas besar kerana ia gembira lalu berkata: “Hai Abu Hurairah, saya mempunyai sebuah kebun dan kini saya sedekahkan untuk orang-orang miskin sebagai penebus dosa saya.” Sesungguhnya seorang hamba jika taubat, maka semua dosa-dosanya yang lalu itu berubah menjadi kebaikan hasanat. Demikian pengertian ayat 70 surah Alfurqan itu.

Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Pada hari kiamat jika seorang hamba melihat dalam suratan amalnya pada permulaannya ada maksiat dosa, lalu diakhirnya hasanat kebaikan, lalu diulang dari mulanya, tiba-tiba terlihat semuanya hasanat kebaikan. Demikian pula riwayat Abu Dzar Alghifari r.a. dari Rasulullah s.a.w. serupa dengan ini dan inilah ertinya: “Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan hasanat.”

Sebenarnya tidak ada dosa yang lebih besar dari kekafiran tetapi Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Qul lilladzina in yantahu yugh far lahum maa qad salafa.” (Yang bermaksud): “Katakanlah kepada orang-orang kafir: Jika kamu menghentikan kekafiran, maka akan diampunkan bagi kamu apa-apa yang telah lalu.”

Alhasan berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Andaikan seorang itu berbuat dosa sehingga memenuhi apa yang diantara langit dan bumi, kemudian taubat nescaya Allah s.w.t. mengampunkannya.”

Abu Yazid Arraqqasyi berkata: “Ketika Abu Hurairah r.a. berkhutbah diatas mimbar Rasulullah s.a.w. berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adam adalah makhluk yang paling mulia disisi Allah pada hari kiamat. Allah menyatakan alasan udzurnya tiga macam iaitu:

*

Hai Adam, andaikan Aku tidak mengutuk orang-orang yang dusta dan membenci dusta serta mengancam siksa atasnya dan telah menjadi putusanKu akan mengisi penuh neraka jahannam dengan jin dan manusia semuanya, nescaya Aku memberi rahmat kepada turunanmu semua pada hari ini.
*

Hai Adam, sungguh Aku tidak menyiksa turunanmu dengan api neraka kecuali orang yang Aku ketahui bahawa sekiranya Aku kembalikan ia kedunia pasti ia akan kembali kepada kejahatannya dan tidak bertaubat.
*

Hai Adam, Aku jadikan kau sebagai hakim antaraKu dengan anak cucumu, berdirilah kau didekat timbangan, perhatikan apa yang terlihat padamu dari amal, maka siapa yang lebih berat amal kebaikannya meskipun hanya seberat semut, maka ahli syurga, supaya kau ketahui bahawa Aku tidak memasukkan kedalam neraka kecuali orang yang zalim.

Aisyah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Suratan amal itu tiga perkara iaitu

*

Suratan amal yang diampunkan oleh Allah s.w.t.
*

Suratan amal yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t.
*

Suratan amal yang tidak ditinggalkan sedikitpun daripadanya

Adapun yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t., maka syirik mempersekutukan Allah s.w.t.. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Innahu man yusyrik billahi faqad harrama Allah alaihil janna ta wama’wahunnar.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan padanya syurga dan tempatnya didalam neraka. Adapun yang diampunkan oleh Allah maka dosa seseorang terhadap Allah antara dia dengan Allah. Adapun yang tidak ditinggalkan sedikitpun maka dosa seseorang terhadap sesama manusia maka harus dibalas dan dikembalikan tiap hak kepada yang berhak.”

Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiap hak harus dikembalikan kepada yang berhak pada hari kiamat sehingga diberi kesempatan bagi kambing yang tidak bertanduk untuk membalas kambing yang bertanduk untuk menanduknya. Kerana itu jika dosaku dengan sesama manusia, maka hendaklah diselesaikan dengan baik didunia, adapun kalau antara dia langsung dengan Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. maha pengampun lagi mudah memaafkan asalkan mahu bertaubat. Sebab tiap hak sesama manusia harus dikembalikan, jika tidak dikembalikan didunia maka harus dibayar (diganti) dengan hasanat kebaikan amal yang telah dilakukan pada hari kiamat.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tahukah kamu siapakah yang pailit dari ummatku? Jawab sahabat: “orang yang pailit itu ialah habis bersih harta kekayaannya dan belum terbayar semua hutangnya sehingga tidak punya harta dan perkakas (perabut rumah). Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Orang yang pailit dari ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan lengkap sembahyang dan puasanya tetapi ia telah mencaci maki si ini dan menuduh pada si itu dan makan harta si ini dan menumpahkan darah si itu, maka semua orang yang telah habis hasanahnya sebelum terbayar semua orang yang dianiaya itu dan ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilempar kedalam neraka.”

Kami mohon kepada Allah s.w.t. semoga Allah s.w.t. memberi taufiq untuk tetap pada taubat.

Muhammad bin Sirin berkata: “Awaslah, jangan sampai kau berbuat kebaikan kemudian kau tinggalkan, sebab tidak ada seorang yang taubat lalu kembali kepada dosanya beroleh keuntungan. Kerana itu yang telah taubat hendaklah mengingati selalu pada dosanya, seakan-akan dimuka matanya, supaya tetap bertaubat, banyak membaca istighfar dan mensyukuri nikmat Allah s.w.t. hanya kepadaNya dapat bertaubat, juga memikirkan apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. daripada nikmat diakhirat bagi orang yang beramal soleh, supaya rajin beramal soleh dan menjauhi dosa.”

Zaid bin Wahb dari Abu Dzar r.a. berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah, beritahukan kepada kami apa yang tercantum dalam Suhuf Musa?” Rasulullah s.a.w. berkata: “Didalamnya ada enam kalimat iaitu:

*

Saya hairan terhadap orang yang yakin adanya neraka, bagaimana ia dapat tertawa?
*

Saya hairan pada orang yang yakin akan mati, bagaimana dapat bergembira?
*

Saya hairan pada orang yang yakin akan adanya hitungan amal, bagaimana ia melakukan dosa?
*

Saya kagum pada orang yang percaya pada takdir (ketentuan Allah s.w.t.), bagaimana ia bersusah payah?
*

Saya kagum pada orang yang melihat segala perubahan dunia, bagaimana ia condong kepadanya?
*

Saya ajaib pada orang yang yakin pada syurga, bagaimana ia tidak berbuat baik?
La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Pada suatu hari Abdullah bin Mas’ud r.a. berjalan-jalan dikota Kufah, tiba-tiba bertemu dengan orang-orang fasiq sedang berkumpul minum khamar dan ada penyanyinya bernama Zadan. Ia memukul rebana sambil bernyanyi dengan suara yang merdu. Abdullah bin Mmas’ud berkata: “Alangkah merdunya suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran.” dan Abdullah terus berjalan. Tiba-tiba Zadan terdengar apa yang dikatakan oleh Ibn Mas’ud itu lalu ia bertanya kepada orang-orang: “Siapakah orang itu?” Dijawab oleh orang-orang: “Itu Ibn Mas’ud, sahabat Rasulullah s.a.w..” Lalu ia berkata apakah?” Tanya Zadan. Jawab orang-orang itu: “Ia berkata, alangkah merdu suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran.”

Perkataan itu benar-benar meresap dalam hati Zadan sehingga segera ia berdiri dan membuang rebana yang ada ditangannya lalu lari mengejar Ibn Mas’ud dan mengikat saputangan dilehernya sendiri sambil menangis dihadapan Ibn Mas’ud, maka dipeluk oleh Abdullah bin Mas’ud dan bersama-sama menangis, kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bagaimana saya tidak akan sayang pada orang yang disayangi Allah s.w.t.” Lalu ia tetap taubat dan selalu mendekati Abdullah bin mas’ud untuk belajar ilmu Al-Quran sehingga menjadi orang alim yang banyak meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Mas’ud r.a..

Abul Laits berkata: “Saya mendapat cerita dari ayahku, bahawa dimasa Bani Iisrail dahulu ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik dan ia selalu duduk diatas dipan didalam rumah yang selalu terbuka pintunya, sehinggakan tiap orang yang berjalan dimuka pintunya pasti tertarik kepada kecantikannya dan siapa yang akan masuk diharuskan membayar sepuluh dibar. Maka pada suatu hari ada ahli ibadat berjalan dimuka pintunya dan ketika menoleh kedalam pintu terlihat olehnya kecantikan wanita itu yang sedang duduk didipannya, maka ia sangat tertarik pada wanita itu, tetap ia berdoa semoaga Allah s.w.t. menghilangkan kerisauan hatinya yang selalu teringat pada wanita itu. akan tetapi oleh kerana perasaan hatinya tidak hilang akhirnya ia berusaha mencari wang sehingga terpaksa menjual beberapa kainnya dan setelah terkumpul sepuluh dinar ia datang kemuka pintu itu tetapi oleh wanita pelacur itu disuruh menyerahkan wangnya kepada wakilnya dengan janji supaya ia datang pada waktu yang ditentukan.

Maka tepat pada waktunya ia datang, sedang wanita itu telah berhias dan duduk menantikannya diatas ranjangnya, maka masuklah orang abid itu dan duduk bersama wanita itu diatas ranjang dan ketika sedang menghulurkan tangan pada wanita itu, tiba-tiba ia teringat bahawa Allah s.w.t. sedang melihatnya dalam perbuatan yang haram, yang mungkin akan menggugurkan semua amal perbuatan ibadat yang telah lalu itu, seketika itu juga ia gementar dan pucat mukanya, maka ditanya oleh wanita itu: “Mengapa kau berubah pucat, terkena apakah engkau?” Jawabnya: “Saya takut kepada Tuhanku kerana itu izinkan aku keluar.” Wanita itu berkata: “Celaka kau, banyak orang ingin mendapat seperti kau ini, maka apakah yang menyebabkan kau begini?” Jawabnya: “Saya takut kepada Allah s.w.t., sedang wang yang sudah saya berikan kepadamu itu halal, izinkan saya keluar dari sini.” Maka ditanya: “Apakah engkau belum pernah berbuat begini?” Jawabnya: “Belum pernah.” Lalu ditanya: “Siapa namamu dan dari manakah engkau?” Lalu diberitahu nama dan tempat daerahnya, lalu diizinkan keluar, maka keluarlah abid itu dari tempat itu sambil menangis dan melatakkan tanah diatas kepalanya, sehingga terpengaruh wanita itu ketika melihat abid itu menangis dan berkata dalam hatinya: “Ini orang pertama kali akan berbuat dosa sudah merasa takut sedemikian dan saya berbuat dosa bertahun-tahun, padahal Tuhannya iaitu Tuhanku, maka seharusnya aku lebih takut daripadanya.” Maka sejak itu wanita itu taubat dan menutup pintu rumahnya dari segala orang, untuk melakukan ibadat semata-mata, kemudian setelah ia ibadat, timbul perasaan dalam hatinya: “Sekiranya saya pergi kepada iorang abid itu, kalau-kalau ia mahu mengahwini aku sehingga aku dapat belajar agama darinya dan membantu saya dalam beribadah.” Lalu ia bersiap-siap membawa harta dan budak-budaknya sehingga sampai kedusun si abid itu, dan ketika diberitahukan kepada abid itu ada wanita mencarinya, maka keluarlah abid itu untuk menemui tamunya, dan ketika wanita itu melihat abid itu segera ia membuka tudung mukanya supaya segera dikenal, tetapi ketika abid itu melihat wanita itu, teringat akan kelakuannya dahulu, maka ia menjerit sekuatnya sehingga mati ketika itu juga. Maka wanita itu tinggal sedih dan berkata: “Saya ini datang kemari untuknya dan kini telah mati, apakah ada keluarganya yang mahu kawin kepadaku?” Dijawab: “Ada saudaranya seorang soleh tetapi tidak punya apa-apa (miskin).” Berkata wanita itu: “Tidak apa sebab saya cukup harta.” Maka dikawin oleh saudaranya abid itu sehingga mendapat tujuh anak laki-laki yang kesemuanya menjadi nabi-nabi Bani Israil. Wallahu a’lam.

Seruan Kubur

Kubur Setiap Hari Menyeru Manusia Sebanyak Lima (5) Kali …

1. Aku rumah yang terpencil,maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
2. Aku rumah yang gelap,maka terangilah aku dengan selalu solat malam.
3. Aku rumah penuh dengan tanah dan debu,bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
4. Aku rumah ular berbisa,maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka banyaklah bacaan
“Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah”, supaya kamu dapat jawaban kepadanya.
Lima Jenis Racun dan Lima Penawarnya ……

1. Dunia itu racun,zuhud itu obatnya.
2. Harta itu racun, zakat itu obatnya.
3. Perkataan yang sia-sia itu racun,zikir itu obatnya.
4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
5. Seluruh tahun itu racun, Ramadhan itu obatnya.

(Kirimkan Untuk Rakan-Rakan Muslim Anda Yang Lain Sebagai Tanda Sahabatnya Sedang Mengingatinya …)
Nabi Muhammad S.A.W bersabda:

Ada 4 di pandang sebagai ibu “, yaitu :

1. Ibu dari segala OBAT adalah SEDIKIT MAKAN.
2. Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERBICARA.
3. Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BUAT DOSA.
4. Ibu dari segala CITA CITA adalah SABAR.

Berpesan-pesanlah kepada kebenaran dan kesabaran.
Beberapa kata renungan dari Qur’an :
Orang Yang Tidak Melakukan Solat:

Subuh : Dijauhkan cahaya muka yang bersinar
Zuhur : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
Asar : Dijauhkan dari kesehatan/kekuatan
Maghrib : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya.
Isya : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya

SEDERHANA BUKAN SENGSARA

Seseorang bercerita kepada Husain bin Ali bahwa sahabat besar Abu Dzar Al Ghifari pernah berkata, “Kemiskinan lebih kucintai dari kekayaan. Sakit lebih kusenangi daripada sehat”. Husain menjawab, “Semoga rahmat Allah tercurah atas Abu Dzar Al Ghifari. Namun ayahku (Ali bin Abi Tholib) justru berkata, “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah dengan semua keputusan-Nya dan tidak berangan-angan di luar kehendak-Nya, adalah lebih baik dari yang terbaik”
Melalui ungkapan ini Ali bin Abi Tholib menjelaskan hakikat kaya dan miskin atau senang dan susah bukanlah teletak pada banyak atau sedikitnya harta, tetapi sikap bertawakkal kepada Allah dengan tanpa angan-angan yang berlebihan tentang dunia. Dalam Islam ditekankan sikap sederhana tetapi bukan harus sengsara dan papa. Apa pun ketentuan Allah, baik atau buruk, hendaknya diterima seorang muslim dengan keridhaan. Muslim yang baik tidak menolak menjadi kaya dan tidak menampik menjadi miskin. Dia tidak keberatan memegang kedudukan dan juga tidak patah karena patah kedudukannya. Sebab kesemuanya itu merupakan ujian Allah belaka,
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan (rizki itu). Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar Rum 37)
Pada hakikatnya menikmati kehidupan dengan segala warna-warninya bukanlah pantangan dalam agama. Seperti mendengarkan kicau burung, meresapi gemercik air di atas batu-batu pegunungan, melihat ikan berenang-renang di kolam yang bening. Juga meregup dunia dan perhiasannya. Semua diperbolehkan sepanjang tidak keluar dari koridor akhlaq dan syariat islamiyah. Orang-orang soleh terdahulu sering mengatakan, “Simpanlah dunia di genggaman tangan Anda dan jangan masukkan ke hati Anda”.
Ada orang yang hatinya begitu terpincut dunia, jiwanya takluk kepada keindahan dunia, padahal itu hanay kesenangan menipu. Hidup di dunia itu memang dipenuhi dengan perhiasan dan keindahan yang menggoda. Namun kita tidak boleh lupa bahwa yang di sisi Allah lebih baik dan kekal.
Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga).
Katakanlah, “Inginkah aku kabarkan kepada-mu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang- yang bertaqwa kepada Allah, pada sisi Rabb mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15)
Untuk memperoleh kecukupan hidup di dunia diperlukan harta kekayaan. Untuk mendapatkan pendamping dan teman hidup yang menyenangkan diperlukan isteri yang solihat. Untuk memandang masa depan dengan lebih optimis diperlukan anak-anak yang soleh. Islam memerintahkan kita mengejar semua itu dengan tanpa berlebih-lebihan…
Namun karena dunia ini tidak kekal (fana) maka semua itu bersifat sementara dan ada batasnya. Setiap muslim harus menerima apa adanya keputusan Allah tentang apa yang dia peroleh dalam hidupnya. Artinya, dalam segala perkara; menyenangkan atau tidak menyenangkan – sikap ridha dan qanaah wajib disemaikan, dipelihara, dan ditingkatkan. Setiap muslim wajib memelihara kebersihan hati dan kesucian jiwa yang akan mengantarnya memperoleh keutamaan di sisi Allah. Bagi orang-orang yang mendayagunakan hidupnya untuk ibadah kepada Allah, senantiasa berdakwah dan berjihad di jalan Allah telah disediakan kesenangan Akhirat yang jauh lebih nikmat daripada yang diperolehnya di Dunia.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam syurga-syurga itu , mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang seruapa dan untuk mereka di dalanyaada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (Al baqarah: 25)
Membangun Sikap Ridha
Bersifat qanaah dan ridha terhadap apa yang diperoleh merupakan tuntutan dalam hidup di dunia. Namun tentu saja ini tidak boleh menghambat kita untuk terus bekerja demi mencapai cita-cita. Karena Islam memberikan nilai ibadah bagi para pekerja yang bersungguh-sungguh… Pernahkah Anda melihat seekor burung yang terbang pagi-pagi dalam keadaan lapar kemudian pul;ang di sore hari dalam keadaan kenyang? Dia hanya mencari sekadar yang diperlukan tanpa terpusingkan dengan dapat atau tidaknya!
Salah seorang ulama sufi, Yahya bin Ma’arif, mengulas ancar-ancar ridha yang benar adalah apabila seseorang telah mencapai empat pokok sifat utama yakni: Menerima apa yang diberikan, tetap tabah jika disingkirkan, memelihara ibadah meskipun dikecewakan, dan hidup sederhana dalam kejayaan”.
Kerakusan acapkali menelungkupi pandangan batin kita yang pada gilirannya mengajak kita pada kemelaratan tiada penghabisan. Kemiskinan ternyata bukan hanya dalam kepapaan harta, tetapi lebih banyak dlam kenistaan jiwa yang dipenuhisyhwat dan ketamakan. Nabi Isa diriwayatkan pernah berkata, “Pencinta dunia yang berlebihan itu ibarat orang-orang kehausan yang meminum air laut. Semakin banyak ia meminumnya makin dahaga ia dibuatnya sampai kemudian ia mati karenanya”.
Tiada lahan yang paling subur bagi syaitan kecuali hati yang sarat dengan loba dan tamak. Pangkal utama dari segala penyakit rohani yang disemaikan syaitan adalah jika manusia hanya melihat dunia sebagai satu-satunya sumber kesenangan. Tidak heran bila Nabi kita mengatakan, “Hubbud dunya ro-su kulli khoti’ah” (Mencintai dunia adalah biang segala dosa”
Lantas bagaimanakah agar dunia tidak memenjarakan kita? Memilih cuma yang halal, menjauhkan segenap yang haram itulah jalan terbaik menuju kebersihan diri. Jangan sampai kita mengorbankan kebahagiaan Akhirat yang abadi untuk memperoleh kesenangan dunia yang fatamorgana. Apa yang kita cari lalu kita nikmati bila berasal dari yang haram akan menjadi perkara di masa depan. Setiap sel daging yang tumbuh, atau setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuh dari yang haram akan dimintai pertanggungjawabannya.
Syaikhul Islam Al Ghazaly pernah menjelaskan bahwa para waliyullah mempunyai hati yang bercahaya terang bukan karena pengetahuan dan ilmu yang mendalam, melainkan oleh ketidak terikatan mereka dengan duniawi. Hati mereka tidak lagi disibukkan oleh rangsangan-rangsangan materi. Lantaran yang bergaung dalam dadanya dari saat-ke saat hanyalah kecintaan kepada Allah. Inilah keselamatan mereka dari kungkungan kefanaan memasuki jalan indah keabdian. Adakah kenikmatan yang lebih agung dari kekayaan jiwa?
Seorang muslim tidak perlu menyiksa diri, tak perlu meninggalkan pekerjaannya, tidak perlu memusuhi dunianya. Cukup baginya meninggalkan dosa, tidak terpengaruh dunia, dan giat dalam ibadah. Allah akan menjamin kekayaannya di dunia dan di akhirat.
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Tholaq: 2-3)
Manfaatkan Sawah Ladang
Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam menggambarkan hakikat dunia secara indah, “Ad Dunya mazru’atul akhirah” (Dunia itu sawahladangnya akhirat). Manusia bagaikan petani. Sebagai petani dia berhak bercocok tanam, merawat dan memelihara ladangnya dengan sungguh-sungguh. Petani yang baik akan bersabar menunggu hasilnya. Dia percaya bahwa menuai dan memanen tidak akan terjadi esok atau lusa tetapi akan ada saatnya nanti… Siapa menanam pohon kebaikan di muka bumi dia akan memetik buah pahala di akhirat. Siapa yang menanam pohon keburukan dia akan memperoleh buah berupa azab sengsara di akhirat. Akhirat adalah akhir kesudahan sedang Dunia hanya sarana dan jalan.
Isteri yang solihat disebut oleh Rasulullah sebagai perhiasan Dunia yang terbaik, “Ad Dunya mata’ wa khoiru mata’iha al marataus sholihat” (Dunia itu perhiasan dan sebaik-baik perhiasan Dunia adalah wanita yang solehat)”. Oleh karena itu, milikilah isteri sepanjang dia pendamping yang solihat dan membawa Anda ke syurga. Islam tidak membenarkan seseorang sengaja hidup membujang meskipun dengan lasan mendekatkan diri kepada Allah. Justru dalam kehidupan berkeluarga ada ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Isteri pun oleh Allah diibaratkan sebagai “hartsu lakum” (ladang kamu). Karenanya perlu dirawat dan dipelihara sehingga menghasilkan buah kebaikan di Dunia dan Akhirat. Ibadah orang-orang yang sudah berumahtangga nilainya lebih besar dari ibadah seorang bujangan.
Kebaikan Dunia terletak pada fungsinya sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan Akhirat. Inilah yang disebut dengan hasanah dunia dimana setiap muslim berdoa untuk memperolehnya “Robbanaa atinaa fid dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah. Waqinaa adzabannaar” (Ya Rabb kami karuniakanlah kepada kami kebaikan Dunia dan kebaikan Akhirat serta hindarkanlah kami dari adzab neraka)
Apa yang kita miliki akan bernilai ukhrawi manakala digunakan untuk ibadah kepada Allah. Carilah harta kekayaan agar Anda dapat berzakat, infaq dan shodaqoh sebanyak-banyaknya. Milikilah rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan agar dapat Anda gunakan untuk dakwah fi sabilillah.
Jangan sengsarakan diri Anda yang karenanya Anda tidak bisa berbuat untuk orang lain. Bukankah dengan demikian Anda lalai dari melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang kini tengah dilanda krisis sosial dan ekonomi.

Urgensi dan Keutamaan Qiyamul Lail

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya) dan itu setiap malam.” (H.R. Muslim dan Ahmad)

 

Qiyamul lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat di kala munajat  dengan penciptanya, ia berdoa, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya

 

Qiyam al-lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat dikala munajat dengan penciptanya, ia berdo’a, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya yang maha pengasih lagi maha penyayang mempermudah semua aspek kehidupan hambanya baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula aspek da’wah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Dia akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati sesama dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.

 

QIYAM AL-LAIL MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

 

Orang yang kontinyu mengerjakan qiyam al-lail pasti dicintai dan dekat dengan Allah

lazimkan dirimu untuk shalat malam, karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit dan pencegah dari dosa

(HR. Ahmad)

 

Dapat dipahami bahwa qiyam al-lail selain medekatkan diri kepada Allah  dapat mencetak keshalihan dan selamat zhahir dari penyakit dan batin dari lumuran dosa.

 

Dari sahal bin Sa’ad ra, ia berkata :

“Malaikat Jibril  as datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Wahai Muhamad hiduplah sebebas-bebasnya akhirnyapun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mu’min dapat diraih dengan melakukan shalat malam dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain”.

 

Seorang diri ingin mulia disisi Allah dan disisi manusia hendaknya ian membiasakan qiyam al-lail, bahkan akan berwajah ceria, karena dia bermunajat dengan ar-rahman maka terpancarlah nur dari wajahnya.

 

QIYAM AL-LAIL PENYEBAB MASUK SURGA

 

Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin salam dari Nabi SAW beliau bersabda :

“Wahai manusia sebarkanlah salam, berikanlah makanan dan shalt malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian kan masuk surga dengan selamat”.

 

Seorang da’i yang ingin berhasil da’wahnya harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan dan silatu al-rahim dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyam al-lail , namun mereka yang kontinyu melaksankan qiyam al-lail sangat sedikit jumlahnya, semoga kita termasuk kelompok ini yang dapat masuk surga tanpa dihisab.

 

Rasululah SAw bersabda :

“Seluruh manusia dikumpulkan ditanah lapang pada hari qiyamat . Tiba ada panggilan dikumandangkan dimana orang yang meninggalkan tempat  tidurnya, maka berdirilah mereka jumlahnya sangat sedikit , lalu masuk surga tanpa hisab, baru kemudaian seluruh manusia diperintah untuk diperiksa”.

 

KIAT-KIAT MEMPERMUDAH QIYAM AL-LAIL

 

Qiyam al-lail memerlkan kesungguhan dan kebulatan tekad, jika demikian akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah, berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat dengan yang maha pengasih.

1.      Memprogram aktivitas 24 jam

2.      Memaham kebutuhan jasmani, aqli dan ruhani dan diberikan dengan seimbang

3.      Menghindari ma’siat. Sufyan Ats-tsauri berkata : “saya sulit sekali melakukan qiyam al-lail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan”

4.      Megetahui fadhilah dan keistimewaannya

5.      Mempunyai perasaan bermunajat dengan Allah yang maha kasih sayang

 

Inilah yang dapat disajikan kepada ikwan-akhwat tentang urgensi , keutamaan dan kiat-kiat qiyam al-lail. Semoga memberikan motivasi kepada kita menjadi orang yang dekat  dengan Allah, mulya disisi Allah dan disisi manusia yang akhirnya menjadi penghuni surga.

JANGAN SEPERTI QORUN

Bila kita mendengar seseorang menyampaikan berita “Telah ditemukan Harta Karun!!” mungkin kita akan sangat tertarik. Secara bahasa itu artinya harta  yang banyak berlimpah dan ditemukan di dasar laut atau di dalam gua atau digali dari dalam tanah. Pendeknya, bukan diperoleh dari hasil kerja berat. Sebenarnya istilah harta karun berhubungan dengan seorang kaya raya di zaman Bani Israil yang namanya Qorun. Dia hidup di zaman Nabi Musa Alaihis Salaam.
Pada mulanya Qorun hanyalah seorang pemuda miskin yang taat beribadah. kagum melihat ketekunannya beribadah dan kasihan melihat kemiskinannya, Nabi Musa  memberi Qorun ilmu kimia sehingga dia memiliki keahlian mengolah emas. Dari keahliannya itulah Qarun yang miskin berwira usaha sehingga menjadi seorang yang kaya raya.
Kekayaan rupanya mengubah perilaku Qarun. Dia tidak bersyukur, tetapi malah luntur dan lama-lama menjadi kufur. Dia mulai meninggalkan kebiasaannya  beribadah dan sifat-sifat buruknya pun mulai tampak. Dalam hidupnya sehari-hari, dia sangat tamak  dan aniaya, berlagak seperti raja, lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Orang-orang pun mulai memperingatkan Qarun, namun ia tidak menggubris sedikit pun karena telah mabok harta kekayaan,
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata, “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang suka membangga-banggakan diri. ( Al Qash shas: 76)
Pelajaran Dari Kisah Qarun
Cerita tentang Qarun adalah kisah nyata yang bisa kita tarik menjadi pelajaran. Berapa banyaknya orang-orang seperti Qarun di sekitar kita. Mereka orang-orang yang melupakan karunia Allah yang dirizkikan kepadanya. Mereka terkena sifat qarun atau “qarunisme” yang biasanya menjangkiti orang-orang kaya. Para penganut qarunisme sekarang ini hidupnya jauh lebih mewah daripada Qarun di zaman Musa Alaihis Salaam. Bila Qarun di masa lalu hanya naik kereta kencana yang ditarik kuda maka di zaman sekarang para penganut Qarunisme naik mobil mewah yang serba luks. Mereka turun naik pesawat terbang yang mengantar mereka ke manca dunia untuk menikmati kehidupan serba glamour.  Mereka habiskan uang untuk foya-foya, berjudi, dan berzina di atas penderitaan bangsanya.  Kita lihat, para pejabat Indonesia yang menangguk kekayaan dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) serta  konglomerat yang menari-nari di atas penderitaan rakyat adalah para pengikut qarunisme. Mereka hidup bersenang-senang padahal rakyat kecil menderita dan utang negara bertumpuk-tumpuk seperti sekarang ini terjadi…..
Boleh jadi kita pun terkena sifat qorunisme yang berbahaya ini. Agar kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa Qarun ini perhatikanlah sabda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam berikut ini,
“Ada tiga hal yang mencelakakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan kebanggan manusia pada dirinya sendiri”. (Al Hadits)
Dalam hadits di atas,  Nabi kita tercinta mengingatkan kita bahaya tiga hal. Bahaya ini dapat membuat siapa pun menjadi seperti Qarun. Itulah tiga hal yang menyeret manusia memiliki sifat qarunisme,
1.    Kikir yang diperturutkan
Qarun sangat kikir dengan harta yang dimilikinya. Dia ingin menikmatinya sendirian atau paling banter dengan keluarga yang dicintainya. Dia enggan berbagi dengan orang lain. Qarun sangat pelit, tidak mau memberi kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Padahal hidupnya bergelimang dalam kemewahan dan kesenangan duniawi yang tak kunjung henti. Orang kikir sesungguhnya menghalangi rahmat Allah yang dikucurkan-Nya kepada manusia, sebab Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya melalui tangan hamba-Nya yang lain.
Orang seperti Qarun menjadikan harta untuk pamer kemewahan dan membuat orang lain menjadi iri sehingga terperangkap angan-angan,
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan menunjukkan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Qashas: 79)
2.    Hawa nafsu yang diikuti
Qarun mempunyai keinginan yang tidak terbatas, dapat satu ingin dua, dapat dua ingin tiga,  dan seterusnya. Dengan kata lain dia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Segala cara dilakukan untuk memperoleh yang diinginkannya, tak peduli halal haram, baik atau buruk labrak terus. Allah menggambarkan bahwa mengikuti hawa nafsu dalam harta duniawi tak akan ada habisnya,
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu, dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (At  takatsur: 1-4)
3.    Kebanggaan manusia pada diri sendiri.
Qarun sangat bangga dengan keahliannya mengais rizki. Dia malah menganggap semua kekayaan yang diperolehnya karena keahliannya mengelola emas bukan anugerah Allah Ta’ala.  Perasaan dan anggapan Qarun biasanya sangat dihayati oleh orang-orang kaya yang terkena qarunisme. Seperti katanya sendiri,
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu , karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan ummat-ummat sebelumnya  yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang berdosa tentang dosa-dosa mereka. (Al Qasshas: 78)
Sungguh berbahaya tiga sifat itu bagi kehidupan manusia baik kaya atau pun miskin. Sebab mungkin saja ada orang miskin yang juga sombong dan enggan menyadarai bahwa rizki itu sebenarnya bersumber dari Allah. Orang kaya yang lupa daratan, enggan memberi dan berkorban untuk orang fakir miskin bila terkena sifat ini akan mengalami kehancuran seperti Qarun,
Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya satu golongan pun  yang  yang bisa menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya”. . (QS.Al Qashsas: 81) )
Orang miskin ada juga yang bercita-cita seperti Qarun. Mereka menganggap bahwa orang kaya hidup dengan bahagia dan senang-senang. Khayalan mereka akan menemui kegagalan dan kekecewaan. Mereka malah menjadi orang yang merugi karena tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Jika mereka mengikuti sifat-sifat Qarun tentu saja mereka akan celaka.
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata, “ Aduhai benarlah Allah melapangkan rizki  bagi siapa yang Dia kehendaki  dari hamba-hamba_nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar (Dia) telah membenamkan kita pula. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah”. (Al Qash sas: 82)

Sebagai muslim, Kita perlu berhati-hati terkena berbagai penyakit hati yang dapat menggerogoti keimanan dan merusak kepribadian. Penyakit qarunisme biasanya menghinggapi kita dikala kekayaan datang kepada kita, tetapi bukan mustahil penyakit ini pun melanda orang-orang miskin yang berangan-angan panjang ingin jadi orang kaya tanpa payah-payah bekerja. Agar tidak menyesal seperti Qarun, dari sekarang kita wajib menghindarkan diri dari penyakit-penyakit Qarunisme… Di antara indikasi adanya penyakit qarunisme ini adalah.
1.    Mengagumi diri sendiri sebagai ahli dalam mendapatkan harta kekayaan.
2.    Merasa gembira bila isi kantongnya atau rekening banknya bertambah dan merasa sedih bila berkurang, sambil tidak perduli asal harta kekayaannya, apakah haram atau tidak, yang penting selalu bertambah.
3.    Lalai dalam bersyukur terhadap Allah ataupun berterimakasih terhadap orang-orang yang berjasa kepadanya.
4.    Pelit atau bakhil, enggan mengeluarkan harta untuk membantu fakir miskin, dan orang-orang yang memerlukan atau membiayai perjuangan di jalan Allah.
5.    Suka mengoleksi barang-barang yang tidak perlu di rumahnya, sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya kaya.
6.    Membiasakan isteri dan anak-anaknya hidup dalam kemewahan dan tidak mendidik mereka untuk sederhana  dan pandai memberi kepada orang lain.
7.    Tidak merasa cukup dengan harta kekayaan yang telah dimilikinya dan selalu memandang ke atas.  Angan-angannya sering mengatakan, “Kapan aku lebih kaya seperti orang itu”.
8.     Bila melihat orang kekurangan dia menganggap rendah orang tersebut dan hatinya berkata, “Kamu menjadi miskin begitu disebabkan malas berusaha”.
9.    Membiasakan diri mengikuti trend kehidupan orang-orang yang serupa dengan dia dalam berpakaian, berkendaraan, model rumah, tempat-tempat hiburan, dan sebagainya.
10.    Enggan mengoreksi kesalahannya dalam berinteraksi dengan masyarakat, sulit untuk dinasihati, enggan mendengarkan perkataan orang lain.

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.