PROBLEMATIKA UMMAT ISLAM

Setiap muslim harus dapat memahami dengan benar nilai-nilai yang terkandung dalam Dinul Islam serta menghayatinya. Selanjutnya, ia harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke dalam seluruh ruang kehidupannya. Ia harus tunduk dan menyerah kepada Allah SWT, baik lahir maupun batin, dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, ia telah memasuki rumah Islam secara kaaffah (sempurna): tidak ada sisi kehidupannya yang tidak ia warnai dengan nilai-nilai luhur Islam. Oleh karenanya, Allah berfirman dalam sebuah ayat-Nya, sebagai berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)

Di saat seorang Muslim mampu menerapkan syariat Allah dalam seluruh dimensi kehidupannya: aqidah, ibadah, akhlak, politik, ekonomi, pendidikan, militer, dan sosial budaya, maka ia menjadi salah satu dari “khairu ummat”. Ia termasuk golongan “ummatan wasathan” (umat yang selalu menegakkan nilai kebenaran dan keadilan), dan niscaya ia menjadi salah satu dari “al-Mu’minuuna haqqan” (manusia-manusia Mukmin yang sebenarnya). Inilah identitas seorang muslim apabila telah mampu menyerap seluruh nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Perhatikanlah beberapa ayat Allah di bawah ini.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.…” (al-Baqarah: 143)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.…” (Ali ‘Imran: 110)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (al-Anfaal: 74)

Di sini, seorang Muslim memiliki izzah (kemuliaan) dan kekuatan di hadapan manusia-manusia lain. Sebab, izzatul-Islam dan kemuliaan kaum Muslimin tidak mungkin dicapai kecuali dengan kembali kepada ajaran Islam itu sendiri, yaitu dengan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupan. Umar bin Khaththab r.a. berkata, “Kami dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allah menjadikan kami mulia dengan Islam. Jadi, manakala kita mencari kemuliaan dengan selainnya, yang Allah menjadikan kita mulia dengannya, maka Allah tentu akan menjadikan kita hina” (dikeluarkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan disepakati pula oleh adz-Dzahabi dalam Talkhis-nya).
Namun fenomena indah yang digambarkan ayat-ayat Allah di atas, dewasa ini semakin tidak nampak, cahaya keindahan nilai-nilai Islam dari ke hari semakin redup dan bahkan sirna sama sekali dan menghilang dari ruang kehidupan ummat. Ummat mulai kehilangan arah tujuan hidup dan bahkan sebagian mereka telah menggantikan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai jahiliah.
Di sisi lain, virus-virus moral, budaya dan tsaqofah islamiah yang pernah diwariskan para orientalis dan penjajah masih tumbuh kuat dalam jiwa ummat ini. Dan nilai-nilai ini terus mengakar dalam kehidupan ummat sampai saat ini. Begitu juga kekuatan-kekuatan musuh Islam skala internasional seperti Fremansory, Lion Club, Rotary Club dan LSM-LSM lain yang memiliki tujuan membrangus nilai-nilai Islam terus bergerak ke jantung ummat. Sementara ummat semakin asing dengan nilai-nilai agamanya sendiri dan tidak berdaya berhadapan dengan tantangan-tantangan global.
Oleh karenanya, untuk mengantisipasi merebaknya virus-virus ummat dan gerakan musuh-musuh Islam, kita bisa memulainya dengan meyakini kembali nilai-nilai kebenaran Islam dan menyerapnya ke dalam seluruh ruang kehidupan. Dengan keyakinan ini, diharapkan dalam diri kita lahir kembali kesadaran penuh tentang agama ini, dan selanjutnya bertebaran buah amal islami di bumi kehidupan kita.

II.    PERSOALAN INTERNAL UMMAT

Problem yang dihadapi ummat Islam dewasa ini meliputi seluruh dimensi kehidupan. Persoalan-persoalan inilah yang mengakibatkan ummat mengalami stagnasi dalam segala bidang dan akhirnya sangat mudah ummat Islam terjebk dalam jaring-jaring persengkongkolan atau konspirasi musuh-musuh Islam. Keloyoan, kelemahan dan keterbelakangan yang ada dalam tubuh ummat Islam dewasa ini menyebabkan mereka tidak merasa memeliki izzah kembali dengan nilai-nilai luhur yang pernah dipegang oleh Salaf sholeh sebelumnya. Persoalan dan problematika ummat saat ini bisa kita konklusikan dalam beberapa point-point berikut ini;

•    Iman

Apabila manusia muslim imannya lemah ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman tersebut. Ia senantias terombang-ambing dalam panggung kehidupannya dan ia tidak memiliki jati diri lagi sebagai muslim yang sebenarnya. Sebaliknya manusia muslim yang memiliki kekuatan iman yang sebenarnya bukan hanya sebatas keyakinan saja, ia akan mersa ketentraman, kedamaian, percaya diri dan bahkan mampu melukiskan karya-karya besar dalam kanvas kehidupannya. Dan inilah hamba-hamba Allah yang dijanjikan mewarisi bumiNya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(an-Nuur: 55)

“Yang selalu merasakan nikmat iman dalah orang rela menjadikan Allah sebagai Robb, menjadikan Islam sebagai agama dan Muhamad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)

“Tiga perkara yang dimana seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari pada yang lain, Seorang yang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya kecuali Allah dan orang yang benci dikembalikan ke dalam kekufuran sebgaimana ia benci dilemparkan ke dlam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

•    Ibadah dan Akhlak

Melemahnya ibadah dan akhlak di kalangan ummat Islam akan mengakibatkan ketidakberdayaan ummat mempertahankan eksistensi dirinya di dunia ini. Padahal setiap ibadah yang diwajibkan Islam kepada ummatnya mengandung nilai-nilai filosofis yang tinggi dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Perhatikan beberapa ayat-ayat Allah SWT berikut ini;

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…” (al-‘Ankabuut: 45)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (al-Hajj: 77)

“Umar bin Khattab ra berkata dalam suratnya kepada Amr bin al-Ash, “Wahai Amr, sesungguhnya kita hanya dapat menglahkan orang-orang kafir itu karena ketakwaan kita dan kekafiran mereka. Maka ketika kita berdosa kepada Allah, tiada lagi sumber kemenangan yang kita miliki, sebab-sebab orang-orang kafir selalu melebihi kita dalam sarana perang dan jumlah pasukan. Maka, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”
Jauhnya generasi muda Islam dari agamanya merupakan cita-cita tinggi yang diimpikan oleh para orientalis yang notabane menjadi musuh-musuh besar Islam. Samuel Zweimer, Direktur organisasi missi pada konferensi para misionaris di kota Al-Quds tahun 1935 berkata, “Misi utama yang dibebankan negara-negara Kristen kepada kita bukanlah menjadikan kaum muslimin sebagai orang Kristen, karena hal itu adalah soal hidayah dan kemuliaan. Misi utama kita ialah mengeluarkan muslim dari ajaran Islam, agar menjadi orang yang tidak memiliki hubungan lagi dengan Allah, sehingga ia tidak mempunyai ikatan akhlak sebagai pegangan hidup umat Islam….”
Yang akhirnya mereka menyaksikan generasi-genarasi muda muslim terombang-ambing dalam dunia maya kemaksiatan, mengekor pada permainan libido yang menguasai seluruh ruang kejiwaannya dan jauh dari akhlak mulia Islam. Allah berfirman;

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

•    Sosial

Beberapa persoalan yang terus terjadi dan menghantui kehidupan social ummat adalah hilangnya persatuan, masalah seksual, narkoba, Perdagangan ABG dan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang semakin marak dewasa ini. Perhatikan beberapa peringatan dari ayat-ayat Allah dan hadits Nabi;

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfaal: 46)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (al-Maaidaah: 91)

عَنْ عَبْدِ اللهِ ْبنِِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ َيقُوْلُ يَا مَعْشَرَ اْلمُهَاجِرِيْنَ حِصَالٌ خَمْسٌ إِنْ اُبْتُلِيْتُمْ  ِبهِنَّ وَنَزَلْنَ بِكُمْ أَعُوْذُ بِا للهِ أَنْ تُدِْركُوْهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ فَاحِشَةٌ ِفيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلاَّ  فَشَا فِيْهِمْ اَلأَوْجَاعُ اَلَّتِي لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ ولَمْ يَنْقُصُوْا الْمِكْيَالَ وَاْلمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالِّسِنْينَ وَشِدَّةِ اْلمُؤْنَةِ وَجَوِْر الُّسلْطَانِ وَلمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَ عَهْدَ َرسُوْلِهِ إِلاَّ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ اْلعَدُوُّ مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذَ بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ ولَمْ يَمْنَُوْا زَكَاةَ أَمْوَاِلهِمْ إِلاَّ مُنِعُوْا القُطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلََوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ رَوَاهُ التُرْمُذِيْ  وَابْنُ مَاجَةَ وَاْلَبْيَهِقْي

Dari Abdillah ibnu Umar  ra. berkata, “Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Wahai, Kaum Muhajiriin,  ada lima hal yang aku khawatirkan jika menimpa serta menguji kalian, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mendapatkannya. Tidaklah perzinahan merajalela pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan  menyebar  penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada umat yang sebelumnya, dan tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran, kecuali akan ditimpa  paceklik serta mahalnya harga kehidupan ditambah dengan pemimpin yang tiran…” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

•    Pendidikan, Pembinaan, dan Dakwah

Rasulullah saw. diutus ke bumi dengan mengemban misi khusus yaitu membacakan ayat-ayat, mentazkiah dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada ummatnya agar mereka memahami visi dan misi kehidupannya, agar mereka melek peradaban yang ada di sekitarnya dan agar mereka menjadi saksi-saksi kebenaran dan kebaikan atas umat yang lain.
Maka ketika ta’lim dan tarbiah (pendidikan dan pembinaan) yang sesuai dengan minhaj salaf sholih tidak dilirik kembali oleh ummat Islam dan bahkan ditinggalkan sama sekali, niscaya akan muncul syubhat pemikiran di tengah-tengah ummat, merajalelanya syahwat yang mendominasi dalam kehidupan dan kebodohan mewarnai masyarakat. Inilah fenomena masyarakat muslim ketika tarbiah, ta’lim dan dakwah tidak berperan lagi dalam masyarakat sebagaimana yang diisyaratkan ayat ini;

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Oleh karenanya, Allah menyeru kepada setiap mukmin untuk selalu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)

•    Ilmu Pengetahuan dan Tsaqafah Islamiyah

Kekuatan yang dimiliki ummat dan kemenangan yang selalu dijanjikan Allah SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi aqidah atau ibadah saja dan tanpa diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan ekspansi kebaikan atau amal islami dalam kehidupannya. Namun, kekutan dan kemenangan itu tegak kokoh di atas tiga pilar yang satu sama lain tidak boleh terpisahkan yaitu, iman, ilmu dan amal (ibadah), dan saat ini, ketika ummat mulai meninggalkan tsaqafah islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat, maka kekuatan dan kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang dan pada akhirnya digantikan dengan ketidakberdayaan serta kelemahan. Sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya.

“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran.” (az-Zumar: 9)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

mengenai hal ini, Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya jati diri seorang pemuda—demi Allah—ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

•    Politik dan Hukum

Dalam masalah politik dan hukum,  kita bisa merenungkan beberapa ayat Allah dan hadits nabi, sebagaimana berikut ini.

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maa-idah: 44)

“…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (al-Maa-idaah: 45)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maa-idaah: 50)

“…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

وَلمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَ عَهْدَ َرسُوْلِهِ إِلاَّ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ اْلعَدُوُّ مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذَ بَعْضَ مَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ ولَمْ يَمْنَُوْا زَكَاةَ أَمْوَاِلهِمْ إِلاَّ مُنِعُوْا القُطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلََوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ (رواه الترمذي)

“…Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah  dan rasul-Nya,  kecuali mereka akan dikuasai oleh musuh dari luar  yang akan mengambil sebagaian harta yang mereka miliki, dan tidaklah mereka menahan diri dari menunaikan kewajiban zakat harta mereka, kecuali  mereka akan terhalang dari curah hujan, dan seandainya saja tidak ada binatang ternak niscaya tidak akan turun hujan kepada mereka. Adapun  selama para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah, maka konflik dan pertempuran akan terjadi diantara mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

•    Militer

Ummat Islam dewasa ini tidak memiliki kekuatan militer yang ditakuti dan diperhitungkan musuh-musuh Islam. Keberadaan kekuatan militer sangat diperlukan untuk meninggikan kalimat Allah dan menebarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di tengah-tengah manusia, sebagaimana yang terjadi pada masa-masa kejayaan Islam. Di masa itu, banyak bangsa-bangsa lain yang sangat merindukan kehadiran militer Islam di tengah-tengah mereka untuk melindungi dan mengayomi mereka, seperti kisah Sa’ad bin Abu Waqqas yang menarik pasukannya dari wilayah kekuasaannya.  Karena, wilayah itu tidak mungkin lagi dipertahankan oleh beliau dan ia mengembalikan semua upeti yang ditarik dari penduduk setempat pada waktu itu. Inilah kesan militer yang damai, menjunjung nilai keadilan dan menegakkan hak-hak rakyat
Selanjutnya, ummat kehilangan identitasnya sebagai khairu ummat, ummatan wasathan, serta syuhada ‘ala an-naas, dan sebaliknya menjadi ummat yang terbelakang dan kekuatan tidak diperhitungkan lagi oleh musuh-musuh Islam. Kekutan dan kualitas mereka bak “ghutsa” (buih) di lautan. Rasulullah bersabda dalam hadistnya.

“Nanti ummat ini akan dikepung oleh bangsa-bangsa lain. Sebagaimana orang yang makan itu mengepung nampan nasinya. Sebagian shbat bertnya: “Apakah jumlah kita sedikit pada waktu itu? Beliau menjawab: “Tidak, bahkan jumalah kamu banyak sekali pda waktu itu, akan tetapi (kualitas) kamu seperti buih, buih arus. Dan sungguh Allah akan mencabut dari jiwa musuh-musuh kamu rasa takut dari kamu. Dan selanjutnya Dia menanamkan penyakit “wahn” pada hati kamu. Sebagian sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa wahn itu? Beliau bersabda: “Hubbud dunya (cinta dunia) dan benci kematian.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Fenomena di atas bermuara pada kecendrungan manusia yang suka menyimpang dan berpaling dari kebenaran, watak manusia yang selalu menentang ayat-ayat Allah kerena kebodohannya dan hawa nafsu yang mendominasi kehidupannya. Hal ini sebagaimana yang jelaskan ayat-ayat quraniah berikut ini;

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (ash-Shaff: 5)

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)  mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya.  Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (al-A’raaf: 146)

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada duniadan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya sepertianjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.  Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. ” (al-A’raaf: 176)

III.    PROBLEMATIKA KONTEMPORER

Problematika-problematika ummat, yang sifatnya kontemporer, bisa diklasifikasikan menjadi tiga bagian.

    Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tubuh ummat.
    Penyakit ummat sebagai dampak dari penjajahan.
    Kekuatan musuh dengan gerakan “Ghazwul Fikr”.

•    Penyimpangan-penyimpangan

Penyimpangan dan kesewenang-wenangan yang terjadi dalam tubuh ummat ini, bisa disebabakan oleh kekuasan tangan-tangan besi dan tiran, bisa muncul dari sebuah kebaikan yang semu, bisa lahir dari kelompok penyeru dan para du’at yang mempunyai kepentingan-kepentingan pribadi dan bisa lahir pula dari diri seorang muslim yang telah terjangkit virus-virus iaman dan moral. Hal ini bisa kita perhatikan dari beberapa Hadits Rasulullah sebagai berikut;

“Muncul masa kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Kemudian, muncul masa khilafah yang lurus selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Selanjutnya muncul raja-raja secara turun-temurun selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Lalu muncul masa kediktatoran selama masa yang Allah kehendaki, kemudian berakhir. Kemudian akan muncul masa kekhilafahan yang lurus kembali yang tegak di atas minhaj nubuah yang meliputi seluruh dunia.”

Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Semua manusia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan yang mana aku takut menemuinya. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dulu berda dalam kejahiliaan dan keburukan, lalu Allah memberikan kepada kami kebenaran ini. Maka apakah setelah kebaikan ini akan muncul keburukan? Beliau menjawab: “Ya”. Aku bertanya kembali: “Dan apakah setelah keburukan ini akan ada kebaikan kembali? Beliau menjawa: “Ya, (akan tetapi) di dalamnya ada kerusakan.” Aku bertanya: “Apa kerusakannya?” Beliau menjawab: “Kaum yang menunjukkan dengan selain petunjukku, kamu mengenal mereka dan kamu juga mengingkarinya.” Aku bertanya kembali: “Maka apakah setelah kebaikan yang demikian ini ada keburukan lagi?” Beliau menjawab: “Ya, para da’I yang berada di pintu-pintu Jahannam, barang siapa yang meresponnya maka ia akan terjerumus di dalamnya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah jelaskan kepada kami sifat-sifat mereka. Beliau bersabda: “Mereka dari jenis kulit (golongan) kita dan mereka berkata dengan lisan-lisan kita.” Aku berkata: “Apa yang Engkau intruksikan kepadaku apabila menemuiku? Beliau bersabda: “Kamu harus bergabung bersama jamaatul muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya kembali: “Kalau sekiranya tidak ada jamaah dan imam? Beliau berkata: “Jauhilah semua firqoh yang ada, meskipun kamu menggigit akar pohon sampai datangnya kematian dan kamu tetap begitu.” (HR. al-Bukhari)

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ جُعِلَ بَأْسُهُمْ بَيْنَه (رواه الترمذي)

“…ِAdapun  selama para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitab Allah, maka konflik dan pertempuran akan terjadi diantara mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Beberapa hadits di atas, menjelaskan kepada kita tentang fitnah, penyimpangan, dan kesewenangan yang harus dihadapi umat ini ke depan, sebagaimana disebutkan di bawah ini.
Pertama, Penguasa diktator.
Mereka muncul setelah tumbangnya Khilafah Utsmaniah pada tahun 1924, dan mereka semua menjadi boneka-boneka musuh Islam seperti Musthafa Kamal at-Taturk, yang dengan gerakan westernisasinya, dijuluki Bapak Turki, padahal ia adalah orang yang pertama kali menghancurkan pilar-pilar dan simbol-simbol Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiah di Turki. Selain Musthafa, ada banyak deretan nama dari para penguasa diktator ini, yaitu sebagai berikut: Jamal Abdun Nashr, Husni Mubarak, Hafidz asad, Shaddam Husain, dan beberapa penguasa lain yang saat ini memegang kekuasan di dunia Islam

Kedua, Kebaikan yang berpenyakit
Manusia-manusia munafik yang menampakkan kebaikan secara lahiriah, tetapi dalam jiwanya bersemayam kebencian, kedengkian, dan keinginan untuk merusak. Manusia-manusia ini banyak kita jumpai di tengah-tengah masyarakat muslim. Ketika mereka melakukan ekspansi kebaikan, mereka melakukannya bukan karena ikhlas untuk Allah SWT, tetapi karena kepentingan-kepentingan pribadi yang disembunyikan. Oleh karenanya, Rasulullah saw.mengomentari mereka dengan sabdanya, “Mereka berjalan tanpa petunjukku, dan tidak pernah menjalankan sunnahku.”

Ketiga, Para penyeru Neraka Jahannam
Tantangan berikutnya yang harus dihadapi ummat ini adalah muncul para da’i gadungan, yaitu da’i yang menjerumuskan umat. Mereka bukannya membimbing manusia ke jalan yang benar, jalan kebaikan, jalan persatuan dan jalan kedamaian, tetapi mengajak umat untuk berjuang mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadi, menyeru kepada perpecahan, keonaran, dan kerusakan. Rasulullah menjuluki mereka sebagai da’i-da’i yang berada di pintu-pintu Neraka Jahannam, dan manusia-manusia yang berhati iblis, namun berjasad manusia. (Riwayat Abu al-Aswad, Fathul Baary, dan Ibnu Hajar al-Asqalani)

Keempat, Terurainya ikatan Islam

Kelima, Ditinggalkannya hukum Islam
Fenomena umat Islam sekarang ini, sangat jelas bagi kita bahwa banyak umat yang telah meninggalkan nilai-nilai ajaran agamanya baik sengaja maupun karena kebodohannya setelah tumbangnya Khilafah. Para penguasa enggan berpeganteguh pada tali-tali agama dan bahkan merasa bangga ketika menerapkan hokum-hukum produk para penjajah. Lihat hokum kita di Indonesia, bagaimana kita bisa samapai saat ini bangga dengan hokum-hukum Belanda? Logikanya, kalau hokum Belanda bisa dipakai oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam, kenapa hokum Allah tidak pernah diuji dan diterapkan dalam kehidupan kita? Padahal para penguasa dan pejabat semenjak merdeka adalah orang-orang muslim. Sementara Allah menegaskan dalam firmanNya tentang kebenaran dan kebaikan hokum-hukumnya;

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maa-idaah: 50)

•    Penyakit umat sebagai dampak dari penjajahan

Pertama, Adanya LSM dan yayasan-yayasan sebagai musuh-musuh Islam

Sebenarnya, negara-negara Islam belum sepenuhnya keluar dari cengkeraman para negara egresor dan penjajah, seperti Indonesia, Tunisia, Siria, Mesir, dan negeri-negeri yang lainnya. Mereka masih terjajah. Tidak kah mereka membawa empat slogan yang selalu didengung-dengungkan? Yaitu, God (Tuhan atau penyebaran agama), Gold (Emas), Gospel (kekayaan), dan Glory (kejayaan). Empat tujuan ini masih mereka nikamati, meskipun mereka telah hengkang dari negeri-negeri jajahannya.
Maka meskipun secara fisik dunia Islam tidak terjajah, namun setiap dimensi kejidupan ummat masih dalam cengkeraman konspirasi mereka. Dan konspirasi mereka inilah yang dewasa ini dikerjakan oleh tangan-tangan LSM-LSM dan Yayasan-yayasan yang digerakkan oleh anak-anak muslim yang sudah dicuci otaknya dan yang didanahi oleh mereka, para penjajah. Seperti Freemansory, Rotary Club, Lion Club, LSM sosialis komunis dan yang lainnya. Mereka bergerak sesuai keinginan donatur-donatur mereka yang semuanya ingin memberangus kebenaran Islam.

Kedua, Keterbelakangan umat dari IPTEK dan industri

Setelah peperangan usai dan para penjajah hengkang dari bumi ummat Islam, namun negara-negara ketiga yang notabane negeri muslim semakin hari semakin terbelakang dan terpuruk dalam bidang iptek dan industri. Ini juga merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan pihak Barat dan musuh-musuh Islam yang tidak pernah ingin melihat ada satu negara muslim yang berkembang dan mengalami kemajuan. Mari kita renungkan beberapa komentar dan pernyataan para orientalis berikut ini;

    Salah seorang pejabat pada Kementerian Luar Negeri Perancis pada tahun 1952 mengatakan: “Bahaya yang sebenarnya mengancam kita adalah Islam. Untuk itu marilah kita beri apa yang dibutuhkan oleh dunia Islam serta menanamkan pada diri mereka perasaan ketidakmampuan untuk menjadi negara industri. Apabila kita lemah dalam pelaksanan strategi tersebut, maka kemungkinan besar ummat Islam mencapai kemajuan dan menjadi salah satu kekuatan raksasa di dunia untuk ke dua kalinya.”

    Bekas dictator Portugal, Salazar berkata: “Saya kuwatir akan muncul di tengah umat Islam seorang tokoh yang mampu menyatukan poyensi mereka dan mengarahkannya kepada kita.”

Mungkin kita bisa bertanya; dimanakah posisi negara-negara muslim dewasa ini? Di sasat negara-negara  modern telah berbicara tentang berbagai revolusi besar yang hendak dijalankan; revolusi teknologi, revolusi biologi (geneologi, cloning, penemuan peta gen manusia dan sejenisnya), revolusi elektronik, revolusi ruang angkasa, revolusi komunikasi, informasi dan seterusnya. Di mana posisi kita di tengah negara maju ini?

Ketiga, Paradigma berfikir yang salah

Dalam bidang pemikiran, para penjajah melahirkan antek-antek mereka dari anak-anak negeri untuk mempengerahui ummat Islam tentang cara berfikir yang benar. Mereka mengajak kembali kepada paradigma yang dimiliki oleh para penjajah tersebut bukan kembali kepada Islam. Dengan dalih mereka telah menemukan kemajuan dan sementara dunia Islam dalam kegelapan ilmu pengetahuan. Jadi mereka menyerukan genarasi-generasi muslim untuk berkiblat kepada nilai-nilai yang diyakini para penjajah. Dan nilai-nilai ini bersandarkan kepada keyakinan, filsafat dan adat istiadat yang berkembang di tengah mereka.
Bahkan kita melihat banyak dari kalangan umat ini yang bangga dengan referensi Barat dalam bidang keilmuan yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan sebagai referensi maupun rujukan utama. Seperti dalam bidang psikologi yang mengacu kepada pendapat Sigmun Freud, bidang sosiologi dan moral.
Seharusnya, umat ini ketika menjadikan Islam sebagai referensi utama, mereka harus kembali kepada Al-Quran, Al-hadits, Ijma’, Aqwalu Sahabat, Aqwalu Tabi’in dan dalil-dalil yang dibenarkan dan diakui dalam terminology istinbat dan ijtihad.

Keempat, Krisis identitas

Dari hasil kerja para penjajah sebelum mereka meninggalkan negara-negara jajahannya adalah keterbelahan jiwa ummat dalam memegang tali Allah SWT. Mereka menjadi minder ketika disebut muslim, mereka malu dan merasa terbelakang apabila ditanyakan tentang identitas dirinya sebagai muslim. Padahal seharusnya mereka berani menunjukkan dengan jelas apa identitas mereka dan siapa mereka? Hal ini dikarenakan seorang muslim memiliki identitas yang khas, kepribadian independen dan loyalitas yang jelas. Ia adalah pemilik risalat bumi dan pemikul panji dakwah universal yang berkarekter rabbaniah, insaniah dan akhlakiah.

•    Ghazwul Fikri

Ghazwul Fikri (Invasi pemikiran) adalah sebuah sarana musuh-musuh Islam untuk membrangus nilai-nilai Islam lewat media-media mereka yang tersebar di tengah-tengah umat Islam. Seperti media cetak, elektronik dan audio visual. Bisa kita lihat pandangan pornografi di semua lini media diatas. Mulai dari iklan, film, buku, kaset dan situs yang ada di tengah-tengah ummat. Ghazul fikri ini dilakukan dengan tujuan untuk mencuci otak para generasi muslim dengan pemikiran-pemikiran yang destruktif negatif.

Target dan sasaran ghazul fikri

Adapun sasaran dan terget ghazwul fikri bisa dikonklusikan sebagai berikut.

A.    Mencegah ruh Islam tersebar ke seluruh persada bumi

    Menyebarkan berbagai kebohongan tentang syari’at Islam
    Mengangkat segi-segi kelemahan yang ada di berbagai negara Islam dan membebankannya kepada Islam
    Memberikan gambaran bahwa Islam agama kekerasan dan pertunpahan darah
    Menampilkan berbagai keistimewaan Islam sebagai kelemahannya
    Menuduh Islam merusak daya cipta dan kecerdasan pengikutnya

Inilah ungkapan-ungkapan mereka tentang Islam;

Misionaris Takly berkata, “..Kita harus menjelaskan kepada umat Islam bahwa apa yang benar di dalam Al-quran bukanlah sesuatu yang baru. Aka tetapi sesuatu yang baru di dalam Al-Quran belumlah tentu benar.”
Orientalis Perancis berkata, “Agama Muhammad adalah semacam penyakit lepra yang mewabah dan dapat memusnahkan umat manusia secara dahsiat. Siap yang menganut Islam ia akan ditimpa penyakit lemah dan malas…”
Sebagian yang lain berkata, “Kuburan Muhammad bagaikan aliran tiang listrik yang mengalirkan arus kegilaan ke dalam jiwa orang-orang Islam. Hal inilah yang menyebabkan mereka melakukan hal-hal aneh; seperti mengulang-ulang kata “Allah” tanpa batas, dan menghidupkan kebiasaan lama seperti mencaci daging bai, alcohol dan musik…”

B.    Menghancurkan Islam dari dalam

Mereka menikam Islam dari dalam dengan menggunakan budak-budak atau antek-antek mereka untuk menebarkan pemikiran-pemikiran yang negatif destruktif. Dengan menggunakan anak-anak negeri jajahan, diharapkan ghozwul fikri bisa berjalan mulus tanpa ada rintangan yang berarti. Sebagaimana yang kita saksikan dewasa ini tentang gerakan femenisme yang berkembang di berbgai negara Islam yang seolah-olah tidak rela akan kodratnya yang diciptakan beda dengan pria. Mereka mendengungkan slogan emansipasi wanita yang sesungguhnya adalah eksploitasi wanita yang berlebihan dan bertentangan dengan fitarh wanita itu sendiri.
Anehnya dalam Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang diadakan di Kairo pada tahun 1994, Konferensi yang didukung oleh Barat dan PBB memutuskan sebuah resolusi yang aneh dalam membatasi jumlah penduduk dengan cara-cara sebagai berikut;

    Melegalisasi aborsi
    Mengusulkan kebebasab sex education dan sex information
    Mendorong hubungan seksual ekstra-material
    Mendukung ekonomi pasar penyebaran alat-alat kontrasepsi

IV.    SOLUSI DARI BERBAGAI PROBLEMA

Untuk menghadapi berbagai problematika umat dewasa ini, baik yang bersifat permanen dan inheren maupun yang bersifat kontemporer karena faktor eksternal, maka seluruh Umat Islam harus membangun kembali kesadaran akan agamanya dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupannya.
Ada tiga fokus yang sangat mendasar, dimana setiap individu muslim harus memperbaiki dirinya dalam hal ini.

Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan.

“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran.” (az-Zumar: 9)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya jati diri seorang pemuda—demi Allah—ada dalam  ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

Kedua, Tarbiah secara kontinyu.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)

Ketiga, Berjihad sepanjang masa.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 77-78)

Akhirnya, kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga kita termasuk orang-orang yang memulai untuk berbenah diri dalam menghadapi berbagai problematika ummat sekarang ini. Wallahu a’lam bish-shawwab.

URGENSI PEMBINAAN UMAT

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka”
(QS. Ar Ra’du, 13:11)

I. Sejarah Yang Gemilang

Sejarah mencatat bahwa kurang lebih 15 abad umat Islam memiliki supremasi yang gemilang Sejak kebangkitan bangsa Arab saat menerima Islam, penyebaran dakwah sampai ke Afrika, Eropa dan negeri-negeri jauh di Asia Timur, sampai runtuhnya kekhalifahan Islam pada tahun 1924, Islam telah benyak memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia. Paling tidak kemajuan Barat dewasa ini tidak lepas dari jasa Islam.

Umat Islam generasi awal, di bawah pimpinan Rasulullah saw berhasil memegang kendali dunia dalam kurun waktu yang relatif singkat:

    Seluruh Jazirah Arab (sekarang negara Saudi Arabia) dibebaskan dari pengaruh penyembahan berhala (syirik) dan diislamkan hanya dalam waktu kurang lebih 23 tahun.

    Di bawah kepemimpinan Khulafaur Rosyidin (Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik, Umar bin Al Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radiyallohu ‘anhum) daerah Islam diperluas ke luar Jazirah Arab, sampai daerah Syam (sekarang negara Yordania, Syiria, Irak dan Palestina, yang pada masa itu dijajah oleh imperium Romawi Timur yang beribukota di Konstantinopel/Istambul). Sampai juga ke daerah-daerah di Afrika Utara seperti Mesir, Sudan. Kemudian ke selatan seperti daerah Yaman, juga takluknya Persia (Iran) yang pada waktu itu merupakan salah satu negara super power di belahan Timur.

    Di bawah kekhalifahan Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah, Islam menjadi satu-satunya kekuatan dunia, yang daerahnya sampai ke Selatan yang mencakup sebagian besar Afrika, ke Timur ke daerah-daerah Asia (afghanistan, India dan Cina), ke Utara  yaitu Uni Sovyet, dan ke Barat yaiytu derah-daerah Eropa seperti Spanyol (Andalusia), Bulgaria, Hongaria, Yugoslavia, Yunani, dan Perancis selatan. Kekhalifahan-Kekhalifahan Islam terus berlangsung hingga runtuhnya Kekhalifahan Utsmani Turki pada tahun 1924 M.

Selama kurun waktu tersebut, tidak kecil sumbangan Islam bagi peradaban dunia. Pada abad ke 12 M misalnya, saat orang-orang Eropa (Barat) masih menganggap bahwa penyakit yang menimpa seseorang adalah bagian dari dirinya yang berasal dari Tuhan yang tidak boleh diobati, maka ilmu pengetahuan kedokteran Islam sudah menggunakan alat-alat medis untuk melakukan pembedahan/operasi orang sakit. Teori-teori kedokterannya Ibnu Sina, yang di Barat dikenal dengan Avicienna, saat ini masih dijadikan bahan rujukan bagi ilmu-ilmu kedokteran kontemporer (Barat)

Pada puncak kemajuan peradaban Islam di Eropa, banyak mahasiswa dan pemuda dari negeri-negeri Barat belajar dan menuntut ilmu di universitas-universitas Islam di Cordova dan Andalusia. Mereka menerjemahkan Al Qur’an dan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Mereka berguru kepada sarjan-sarjana Muslim, terutama di bidang ilmu pengetahuan alam, kedokteran dan filsafat.

Karena itulah Renaissance (kelahiran baru) bangsa Eropa yang menjadi titik tolak kemajuan Barat sekarang ini, yang lahir dari sikap kritis para ilmuwan terhadap dogma-dogma gereja yang kaku dan tidak logis, hingga terjadi revolusi industri, juga tidak lepas dari pengaruh peradaban Islam. Barat sesungguhnya berhutang kepada Islam, dan ini diketahui oleh para ilmuwannya, seperti Maurice Bucaille, dan yang lainnya.

II. Realita Sekarang

Memprihatinkan. Inilah yang mungkin bisa dikatakan saat melihat fenomena umat Islam dewasa ini. Label yang buruk-buruk seakan sudah menjadi trade mark kaum Muslimin. Bodoh, miskin, terbelakang, tidak berperadaban, kurang pergaulan, lemah, tertindas dan teraniaya, adalah sebagian dari idiom-idiom yang seakan sudah menyatu dengan umat, dan tidak terpisahkan. Umat saat kini, walaupun dari segi kwantitas besar (mayoritas) akan tetapi dari segi kwalitas justru minoritas. Minoritas di segala lapangan. Ini adalah dampak logis dari lepasnya kendali kepemimpinan politik dunia dari tangan umat Islam.

III. Sebab-Sebab Kemunduran Umat

Ada 2 sebab utama, yang pertama adalah sebab-sebab yang muncul dari dalam diri kaum Muslimin sendiri (sebab internal). Dan yang kedua yang datang dari luar (sebab eksternal).

A. Sebab-Sebab Internal

1.    Jauh dan bodohnya  kaum Muslimin dari sumber-sumbernya yang orsinil, yaitu Al Quranul   Karim dan Sunnah Rasulullah saw
2.    Rendah diri sebagai Muslim hingga hilang kepercayaannya terhadap Islam
3.    Sikap taklid buta tanpa reserve dan ikut-ikutan yang merata dikalangan kaum Muslimin.
4.    Berpecah belah dan lemahnya ikatan solidaritas serta persaudaraan Islam antar sesama kaum Muslimin.
5.    Tertinggal dan terkebelakang dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (science  dan iptek).

B. Sebab-Sebab Eksternal

1.    Serangan tentara Salib yang berlangsung hampir 2 abad (abad 10 hingga 12 M)
2.    Gerakan orientalis dan orientalisme-yang awalnya dipelopori oleh para rahib-rahib Yahudi dan pastor-pastor Nasrani- yang mempengaruhi pola berfikir pada sebagian sarjana-sarjana Muslim.
3.    Munculnya gerakan nasionalisme dan kebangsaan yang sempit menyebabkan terpecah-belahnya dan saling bermusuhan antara negeri-negeri Islam.
4.    Imbasnya pemikiran pemisahan antara agama dan negara dan adopsi secara penuh sistem sekuler pada sebagian besar bidang kehidupan kaum Muslimin, baik itu politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan, pemberitaan dan pers, penerangan, hukum ataupun perundang-undangan.
5.    Gerakan penjajahan negeri-negeri Islam oleh negara-negera Barat yang membawa misi Gospel (Kristenisasi dan misionaris), Gold (kekayaan dan rempah-rempah) dan Glory (kekuasaan politik dan teritorial)
6.    Emansipasi wanita yang berlebih-lebihan.

IV. Pembinaan Umat: Satu Keharusan.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa-apa yang umat terdahulunya menjadi baik’. Kata kunci dari pepatah ini tidak lain adalah bahwa umat harus dibina dan didaur ulang, sebagaimana generasi awal dari umat ini.
Munculnya generasi awal umat ini yang oleh Asy Syahid Sayid Qutb diistilahkan dengan ‘Generasi Qur’ani yang Unik’ itu tidak datang begitu saja laiknya sulap. Tidak, bahkan ia melalui sebuah proses yang disebut dengan ‘At Takwin wat Tarbiyah’ atau Pembinaan dan Pendidikan. Beberapa alasannya:

1.    Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Tuhanku telah mendidikku maka Dia didik aku dengan sebaik-baik pendidikan”.
2.    Pendidikan dan pembinaan yang dilakukan Alloh SWT terhadap rasul-Nya ini    tidak lain adalah dengan diturunkannya wahyu suci berupa ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Al Quranul Karim. Proses ini berjalan selama kurang lebih 23 tahun.
3.    Rasulullah saw adalah orang yang tidak bisa membaca (Ummiyun) yang hidup di tengah-tengah bangsa dan masyarakat yang sebgian besarnya juga seperti itu (Ummiyuuna).
4.    Sejak lahir Rasulullah saw sudah yatim bapak, dan pada usia 7 tahun dia yatim ibu. Para ahli siroh menerangkan bahwa makna dibalik itu semua adalah agar calon Insan Kamil ini tidak terkontaminasi dan terpengaruh sentuhan manusia khususnya kedua orang tuanya dalam proses pembinaan dan pendidikannya. Biarlah Alloh saja yang mengambil alih seluruh proses itu. Karenanya di saat usia 7 tahun, dimana inilah usia seorang anak mendapat sentuhan pendidikan pertama kalinya, justru ibundanya diwafatkan oleh Alloh SWT.
5.    Ketika diangkat menjadi nabi dan rasul, di saat beliau berusai 40 tahun, berlangsunglah proses ‘At takwin wat Tarbiyah’ ini secara resmi dari Alloh kepadanya dengan turunya wahyu yang berbicara tentang segala hal, dari masalah akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hukum-hukum, soisal, politik, bahkan masalah kenegaraan. Dan ini berlangsung terus selama 2 periode, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah.
6.    Paralel dengan itu, para sahabat melakukan pula proses ini sehingga dalam waktu yang relatif singkat, muncullah generasi baru manusia, yang asalnya adalah dari satu bangsa yang primitif, nomaden, dan jahiliyah menjadi generasi yang Alloh SWT katakan sebagai sebaik-baik umat (Khoira ummatin ukhrijat linnasi).
7.    Selanjutnya terjadi proses Islamisasi seluruh Jazirah Arab, kemudian ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. (lih. Sejarah Yang Gemilang).

V. Langkah-Langkah Pembinaan

1.    Pembinaan Basis Iman, bahwa iman itu tidaklah cukup dengan sekedar keyakinan atau pengakuan lisan saja, akan tetapi ia harus dibuktikan dengan amal. Dengan demikian ada 3 unsur yang harus dipenuhi agar iman itu sempurna. Unsur hati sebagai tempat keyakinan, unsur lisan sebagai tempat pengakuan dan unsur amal sebagai tempat pembuktian. Al Qur’anul Karim menggambarkan tipe-tipe manusia berdasarkan unsur-unsur itu sebagai berikut:

Tipe    Hati     Amal    Lisan    Dalil
Mukmin    Ada    Ada    Ada    QS 2:1-5, 285-286;  24:51;
33:36
Kafir    Tidak    Tidak    Tidak    QS 2:6-7
Munafik    Tidak    Ada    Ada    QS 2:8-10;  4:142-145
63:1-2

2.    Pembinaan Basis Ibadah, bahwa Alloh telah jadikan bahwa beribadah kepada-Nya saja merupakan tujuan hidup manusia. Secara simbolik manusia diperintahkan untuk melaksanakan ritualnya seperti sholat, haji, zakat, puasa dan sebagainya. Juga melambangkan hubungan vertikal yang harmonis antara seorang Muslim dengan Tuhannya. Hubungan inilah yang akan menjadi daya kontrol yang lekat pada dirinya sehingga terbentuk bangunan kontrol yang tangguh. Dari sinilah akan lahir berbagai bentuk kebajikan yang produktif bagi kehidupan manusia secara umum. Dengan sholat seorang Muslim tidak akan melenceng dari tujuan hidupnya. Dengan zakat seorang Muslim mempunyai tingkat rasa solidaritas yang tinggi. Karena itu Alloh SWT mensyaratkan keduanya bagi orang-orang yang ingin diberikan kekuasaan.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Alloh-lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj:41).

Kesimpulannya bila kaum Muslimin kuat beribadah dengan baik dan benar Alloh akan memberi kekuatan sehingga memiliki rasa percaya diri yang kuat menghadapi tantangan-tanatangan kehidupan, bahkan bisa menghantarkannya kepada kejayaan dunia.

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ(1)قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا(2)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا(3)أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا(4)إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا(5)

“Hai orang yang berselimut (Muhammad) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari pada seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”  (QS. Al Muzzammil, 73:1-5)

3.    Pembinaan Basis Akhlak, karena ajaran Islam sangatlah memperhatikan masalah akhlak. Kehancuran satu bangsa sangatlah ditentukan oleh sejauh mana baik dan buruk akhlak bangsa yang bersangkutan, Karenanya salah satu misi diutusnya Rasulullah saw adalah untuk menyempurnakan akhlak, Akhlak juga meruopakan buah kongkrit baiknya keimanan dan ibadahnya seseorang, karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda: “Jika kamu tidak merasa malu perbuatlah apa saja yang kamu sukai”.

Kenapa Harus Berakhlak?

Pertama: Manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukannya. Bila ia mau ia akan lakukan. Bila tidak ditinggalkan. Terlepas dikerjakan atau ditinggalkan, namun semua itu haruslah ada aturannya.
Kedua:  Manusia bertanggung jawab dari apa yang dilakukannya, baik terhadap Alloh SWT ataupun terhadap manusia. Apa yang dilakukannya pastilah terkait dengan keduanya. Bahkan terkait dengan hak azasi manusia/HAM atau ‘al huquuqul basyariyah’ lebih banyak lagi.
Ketiga: Berkaitan dengan itulah maka Alloh SWT Yang Maha Luas Ilmu-Nya menetapkan seperangkat aturan dan hukum bagi manusia.

سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya” (QS. An Nuur:1).

Namun apa yang dilakukan oleh manusia pastilah akan ada perhitungan baik secara vertikal kepada Alloh ataupun secara horizontal sesama manusia.

Keempat: Islam menetapkan bahwa sumber akhlak mulia adalah Al Qur’anul Karim, dan prototype manusia berakhlak mulia sekaligus sebagai suri tauladannya, dialah Rasulullah Muhammad saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap  (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh”  (QS. Al Ahzaab:21)

Kelima: Islam mewajibkan bagi setiap Muslim untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Baik tidaknya umat ini tergantung dari komitmennya pada gerakan ini.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh” (QS. Ali Imraan:110)

Asas Akhlak Islam: Adil dan Ihsan

Ada 3 lingkup adil:

    Adil kepada Alloh SWT yaitu dengan senantiasa berusaha melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
    Adil kepada diri sendiri, yaitu berusaha untuk tetap berada di dalam pedoman yang telah Alloh tetapkan.
    Adil kepada manusia yakni berusaha untuk berbuat baik, menghilangkan kezaliman dan tidak berkhianat.

Sedangkan ihsan maknanya adalah senantiasa berusaha sebaik-baiknya dalam beribadah kepada Alloh, merasakan kehadiran dan pengawasan-Nya, dan berusaha semaksimal mungkin berbuat kebajikan bagi manusia.

Tujuh Perkara Yang Membahayakan:

Iman Al Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairoh ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Jauhilah tujuh yang mencelakakan!” Para sahabat bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Jawab rasul saw: “Syirik kepada Alloh, melakukan sihir, membunuh manusia yang diharamkan Alloh untuk dibunuh kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan dari dari medan pertempuran dan menuduh zina wanita mukminah yang tidak pernah ada keinginan untuk itu”.

4.    Pembinaan Basis Ilmu. Ilmu adalah kekuatan, siapa yang yang paling unggul ilmunya dialah yang memimpin. Sekarang peradaban yang menguasai dunia adalah peradaban Barat. Ini logis, sebab Baratlah yang menguasai iptek dan science. Berkaitan dengan inilah tatkala Alloh SWT memberikan isyarat tentang pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Kitab Suci-Nya, Dia mengkhitob/menyeru tidak secara khusus ditujukan kepada orang-orang beriman, namun khitob-Nya dilakukan secara umum kepada seluruh jamaah jin dan manusia, sehingga siapa yang lebih dahulu melakukan observasi, kajian dan pengembangan, maka dialah yang  mendapatkannya (QS. Ar Rahman, 55:33).

Pada masa silam para ulama umat Islam selain memiliki penguasaan terhadap ilmu-ilmu agama – atau ‘Kitab Kuning’ menurut Pak AM Saefuddin, mereka juga menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum yang berorientasi pada pengembangan sarana kehidupan – atau ‘Kitab Putih’. Sebagai contoh Ibnu Sina misalkan, yang di Barat disebut dengan Avecienna, selain seorang ulama yang pakar dalam bidang kedokteran sesungguhnya dia juga menulis buku-buku tentang fiqih, tafsir dan akidah.

Dengan penguasaan terhadap kedua bidang ilmu, maka umat Islam di masa yang silam berjaya. Karena umat Islam dewasa ini hendaknya juga memiliki penguasaan yang cukup pada kedua macam ilmu tersebut, baik yang berorientasi pada Kitab Kuning atau Kitab Putih.  Bila hanya menguasai ilmu Kitab Kuning, umat akan menjadi jumud dan tidak dinamis, yang pada gilirannya tertinggal dari umat yang lainnya. Namun bila hanya berorientasi pada penguasaan kitab Putih saja, tanpa peduli pada nilai, norma, etika dan panduan hidup Al Qur’an, umat akan terperosok dalam kehidupan yang sekuler materialistik.

Al Qur’an sebagai Way of Life orang-orang Islam, padanya paling tidak ada 3 tipe ayat, yang apabila kaum Muslimin mensikapinya secara benar dan proporsional, bisa jadi akan menghantarkannya pada kejayaan, kemajuan dan supremasi. Ketiga tipe ayat itu adalah:

Pertama, ayat-ayat tentang keimanan dan keyakinan kepada yang ghaib, seperti iman kepada Alloh, malaikat, takdir/qodho, hari Kiamat, pahala, dosa, surga, neraka dan sebagainya.  Terhadap masalah yang seperti  ini pendekatan yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan hati, yaitu iman.
Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan isyarat-isyaratnya. Terhadap masalah ini pendekatannya adalah dengan menggunakan akal, yaitu dipikirkan, diobervasi, dikaji, dan dikembangkan sehingga lahirlah science dan teknologi.
Ketiga, ayat-ayat tentang hukum dan undang-undang. Terhadap ayat-ayat yang seperti ini kewajiban umat Islam adalah melaksanakan dan menegakkannya.

Pendekatan yang benar dan proporsional akan melahirkan umat yang memiliki keimanan yang kokoh, cerdas dan berilmu pengetahuan dan percaya diri dan bangga dengan identitas dirinya. Inilah modal utama ke arah kejayaan dan supremasi Umat Islam.

Dalam kenyataannya umat ini justru mengalami kelemahan dalam hal itu semua. Walhasil umat sekarang dalam keadaan hina, mundur dan terkebelakang, sebagai konsekwensi jauhnya mereka dari tuntunan dan pedoman hidupnya:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat besar. Alloh tidak lengah dari apa yang mereka perbuat.” (QS. Al Baqarah:85)

5.    Pembinaan Basis Ekonomi

Islam tidak menginginkan umatnya menjadi umat yang miskin sehingga tergantung pada orang lain. Bila ini terjadi maka selain kehinaan yang menimpa setiap kaum muslimin, juga umat akan kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan fungsinya sebagai saksi dan umta terbaik bagi manusia. Karena itulah masalah kerja, produktivitas dan ekonomi sangat diperhatikan oleh Islam.

ANJURAN BEKERJA DAN MENDAPATKAN MATA PENCAHARIAN

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagi kalian di muka bumi itu (sumber penghidupan), amat sedikitlah kalian bersyukur” (QS. Al A’raaf, 7:10)

“Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabiyulloh Daud juga makan dari kerja tangannya sendiri” )HR. Bukhori)

Ibnu Abbas ra bekata: “Adam menjadi petani, Nuh menjadi tukang kayu, Idris menjadi penjahit, Ibrahim dan Luth menjadi petani, Dhalih menjadi pedagang, daud pandai besi, Musa, Syu’aib dan Muhammad menjadi penggembala”.

Dalam berbagai atsar disebutkan bahwa Lukamul hakim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, perhatikanlah mata pencaharian yang halal. Karena jika seseorang menjadi miskin, maka dia terkena salah satu dari tiga perkara: “Kelemahan dalam agamanya, kelemahan dalam akalnya dan kepribadiannya menurun. Yang terbesar dari tiga perkara ini adalah adanya orang lain yang menganggap remeh terhadap dirinya.”

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: “Apa komentar anda tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumahnya atau di masjid, sambil berkata: , ‘Aku tak perlu bekerja apapun, toh rezekiku akan datang sendiri.’ Iman Ahmad menjawab; “Dia adalah orang yang tidak mengetahui ilmu. Apakah di atidak pernah mendengar sabda Nabi saw: “Sesungguhnya Alloh menjadikan rezekiku di bawah lindungan tombakku”, beliau juga pernah bersabda tatkala melihat seekor burung, ‘Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang pada sore hari.’

Para shahabat Rasulullah saw juga berdagang di daratan maupun di lautan, menggarap tanah, dalan sebagainya.”

MENGAPA MUSLIM HARUS BEKERJA?

Dalam pandangan Islam seorang Muslim haruslah bekerja. Ada banyak penjelasan di dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang dapat dijadikan dasar pijakannya. Ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang berkaiatan dengan manusia dan bekerja dijelaskan dalam gambaran sebagai berikut:

1. Implementasi misi manusia sebagai khalifatullah fi’l ardh.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Al Baqarah, 2:30)

Manusia tidak mungkin menjadi penguasa dan memakmurkan bumi kecuali dengan bekerja, berkarya dan berprestasi. Untuk itu  Alloh SWT memberi fasilitas:

Bumi/alam semesta, akal dan ilmu:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan” (Al A’raaf:10)

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” (An Nahl:78)

2. Pemeliharaan prinsip keseimbangan (tawazunitas)

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah yang kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” (Al Muluk:3)

3. Tidak sama orang yang bekerja dengan orang yang tidak bekerja:

يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tdiak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwanya. Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat” (An Nisaa:95)

4. Rezeki dari Alloh tidak datang dengan sendirinya

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (Al Muluk:15)

5. Produktivitas ditentukan oleh kerja.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan  dan agar Alloh mencukupkan bagi mereka balasan pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan” (Al Ahqaaf:19)

6. Kematian dan kehidupan adalah ujian siapa yang paling baik kerjanya

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al Muluk:2)

7. Aktivitas ekonomi adalah ibadah dan jihad

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan msush Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya” (Al Anfaal:60)

8. Urgensi dan nilai waktu dalam hidup Muslim

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 1-3)

RUANG  LINGKUP KERJA MUSLIM

Dari pandangan tersebut diatas maka kerja dan bekerja bagi seorang Muslim adalah suatu keharusan. Karena seorang Muslim mempunyai kewajiban bekerja dalam ruang lingkup sebagai berikut:

1.    Bekerja untuk mencukupi kebutuhan sendiri.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Turmudzi dari Abu   Hurairoh, Rasulullah saw bersabda: “Sungguh pagi-pagi seseorang berangkat, lalu membawa kayu bakar di atas punggungnya, ia bersedekah dengannya, dan mendapatkan kecukupan dengannya sehingga tidak meminta-minta kepada orang lain, adalah jauh lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau menolaknya. Hal inikarena tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah, danmulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu”.

2.    Bekerja untuk kepentingan keluarga.

Dari Ka’ab bin ‘Ajrah, ia berkata: “Rasulullah saw melewati seorang lelaki, para sahabat melihat kekerasan tangan dan aktifitasnya. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah andaikan itu digunakan di jalan Alloh?”. Jawab Rasulullah saw: “Jika ia keluar bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka termasuk di jalan Alloh. Jika ia keluar bekerja untuk kepentingan kedua orang tuanya yang sudahrenta, maka ia termasuk di jalan Alloh. Jika ia keluar bekerja karena riya’ dan sombong maka ia termasuk jalan syaithon”. (HR. An Nasaai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dari Anas).

3.    Bekerja untuk masyarakat.

Seorang sahabat yang bernama Abu Darda ra, menanam sebatang pohon, padahal ia sudah tua renta. Ada orang yang lewat dan bertanya kepadanya; “Kenapa anda menanam pohon ini padahal anda orang yang sudah tua renta, dan pohon ini tidak akan berbuah kecuali setelah sekian tahun?”. Abu Darda menjawab; “Aku pasti akan mendapatkan pahalanya, meskipun orang lain yang memakannya”.

4.    Bekerja untuk kehidupan dan semua makhluk secara umum.

Sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman atau menumbuhkan suatu tumbuh-tumbuhan, lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, kecuali ia mendapatkan pahala shodaqoh” (HR. Bukhori dan Muslim dari Anas)

5.    Bekerja untuk memakmurkan bumi.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (Huud:61)

6.    Bekerja untuk pekerjaan itu sendiri.

Sabda Rasulullah saw: “Jika hari Kiamat datang dan pada tangan seseorang di antara kamu terdapat sebuah bibit tanaman, jika ia mampu menanamnya sebelum datangnya kiamat, maka hendaklah ia menanamnya” (HR. Ahmad dan Bukhori)

KEHARUSAN DALAM BEKERJA

1.    Bekerja dengan Ikhlas karena Alloh SWT

Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya amal/kerja itu tergantung pada niyatnya, dan sesungguhnya orang itu tergantung dari apa yang diniyatkannya itu” (HR. Muslim)
2.    Bekerja sesuai dengan aturan

Sabda Rasulullah saw: “Muslim itu sesuai dengan syarat-syaratnya (yang telah disepakati)” (Al Hadits)

3. Bekerja dengan sebaik-baiknya (Ihsanul amal)

Sabda Rasulullah saw; “Sesungguhnya Alloh mewajibkan ihsan (baik) dalam segala hal. Jika kalian membunuh (hewan) maka bunuhlah dengan baik. Jika menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah seseorang di antara kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya’ (HR. Muslim)

4. Bekerja dengan penyelesaian yang baik (Itqonul amal)

Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya Alloh mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan maka dilakukannya secara itqon (profesional)” (HR. Baihaqi)

TUJUAN KERJA

A.    Memenuhi kebutuhan individu

Dalam kehidupan ekonomi manusia ada 4 tingkatan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Pertama:  tingkatan darurat, yaitu kondisi dimana manusia hidup di bawah standar kecukupan.
Kedua: tingkatan yang lebih baik dari hal tersebut di atas, yaitu tingkatan pas-pasan.
Ketiga: tingkatan yang oleh ahli fiqih disebut sebagai “terpenuhinya kecukupan”.
Keempat: di atas semua itu itu adalah tingkatan mewah dan megah.

Islam tidak rela umatnya hidup pada tingkatan kehidupan yang rendah dan berkekurangan. Tingkatan kelayakan yang sedapat mungkin dicapai ialah terpenuhinya unsur-unsur berikut ini:

1.    Makanan yang cukup, untuk mensuplai jasmani agar memiliki kekuatan dalam melaksanakan kewajiban kepada Tuhan. Rasulullah saw menetapkan bahwa bagi badan ada hak yang tidak boleh tidak harus dipenuhi, sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya bagi badanmu ada hak yang merupakan kewajiban bagimu” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Amr)

2. Air yang cukup untuk minum, kebersihan dan bersuci. Sabda Rasulullah saw:

“Adalah hak (wajib) bagi setiap muslim pada setiap tujuh hari ada satu hari yang dipergunakan untuk membersihkan rambut dan jasadnya” (HR. Ahmad dari Abi Sa’ad)

3.    Pakaian untuk menutupi aurat, menjaga diri dari udara panas/dingin dan untuk memperindah penampilan di hadapan manusia. Firman Alloh Ta’ala:

يَابَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan: (QS. Al A’raaf:26)

4.    Tempat tinggal yang sehat, yang mencerminkan;

a.    Arti ketentraman tempat tinggal yang merupakan karunia Alloh:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا

“Dan Alloh menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak” (QS. An Nahl:80)

b.    Unsur keluasan rumah, yang merupakan salah satu dari pilar kebahagiaan dunia, sebagaimana sabdanya:

“Tiga hal termasuk unsur kebahagiaan manusia muslim di dunia, yaitu tetangga yang saleh, tempat tinggal yang luas, dan kendaraan yang nyaman” (HR. Ahmad)

c.    Unsur perlindungan dari bahaya alam.
d.    Unsur kemandirian, sehingga tidak tampak auratnya bagi orang yang melihatnya, baik yang datang ataupun yang pergi. Kemandirian ini nampak jelas diungkapkan oleh AlQur’an:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat’ (QS. An Nuur:27)

Ibnu Hazm mengemukakan hal ini sebagai suatu kewajiabn yang harus dipenuhi oleh setiap muslim: “Dan rumah yang melindungi mereka dari matahari, hujan, dan pandngan orang yang berlalu lalang”.

Para Ulama berpendapat bahwa setiap orang harus memiliki rumah dan bukan menyewa.

Islam menentukan kelayakan tempat tinggal, seperti luas dan cukup perabotannya, sehingga menjamin pelaksanaan perintah Nabi saw untuk memisahkan anak-anak di tempat tidur masing-masing apabila umurnya telah mencapai sepuluh tahun.

Dalam rumah tersebut mesti ada kamar tamu yang disebut kamar musafir. Imam Muslim dalam shahihnya mengemukakan sabda Nabi saw:

“Satu hamparan (kamar) bagi suami, satu hamparan bagi isterinya, satu hamparan untuk tamu……………..” (HR. Muslim dari Jabir ra).

e.    Sejumlah harta yang bisa ditabung untuk melakukan pernikahan dan membentuk keluarga muslim, memenuhi perintah Nabi saw:

“Wahai golongan pemuda, barangsiapa di antara kamu sekalian sudah mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan” (HR. Jamaah dari Ibnu Mas’ud)

f.    Sejumlah harta yang dapat membantunya untuk mencari ilmu, memenuhi perintah Nabi saw:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

g.    Sejumlah harta untuk berobat jika sakit, memenuhi seruan Nabi saw:

“Wahai hamba Alloh, berobatlah kamu sekalian, sesungguhnya Alloh tidaklah menurunkan suatu penyakit, kecuali memberikan pula obatnya” (HR. Ahmad)

h.    Kelebihan harta yang ditabung untuk keperluan ibadah haji ke Baitulloh, sesuai perintah Alloh SWT:

“Padanya terdapat tanda-tandaa yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrohim. Barangsiapa memasukinya (Baitulloh) itu maka amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulloh. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran, 3:97).

B.    Mewujudkan kemandirian umat.

Bila secara individu, setiap  muslim bekerja dan produktif maka akan lahirlah satu umat yang memiliki perekonomian yang kuat. Maka umat akan mandiri tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian umat akan memiliki izzah, mampu merealisasikan  kemerdekaan dan kepemimpinannya, keteladanan dan kesaksian bagi umat yang lainnya.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al Baqarah, 2:143)-

6.    Pembinaan Basis Politik

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia tidak lain adalah pertarungan antara  kebenaran melawan kebatilan, keimanan versus kekufuran, Islam bertarung dengan kejahiliyahan, tentara Alloh versus tentara iblis dan syaitan.  Genderang  peperangan ini sudah ditabuhkan jauh sebelum umat manusia berkembang-biak sebanyak sekarang ini. Perhatikan firman Alloh Ta’ala:

“Alloh berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. Alloh berfirman: “Maka keluarlah engkau dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkta: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Alloh berfirman: “Sesunguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab; “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad, 38:75-82).

Lebih lanjut, Al Qur’an menterjemahkan pertarungan ini dengan istilah ‘sunnah tadaafu’ yang tujuannya justru dalam rangka memelihara eksistensi dan keberadaan manusia dan kehidupannya. Sunnah in dengan demikian berlangsung secara kontinyu sehingga ia adalah pertarungan dan pergulatan yang terjadi sejak dahulu, kini dan yang akan datang, hingga terjadi hari Kiamat (All Time Confrontation):

“Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam” (QS. Al Baqarah, 2:251)

Dalam konteks inilah Al Qur’an menegaskan bahwa perang itu adalah wajib dengan memakai kata kerja fi’-il majhul ‘kutiba’ yag artinya diwajibkan.  Padahal kata ini biasanya didahului dengan ungkapan ‘yaa ayyuhal ladziina aamanu’ (hai orang-orang yang beriman), namun dalam masalah ini Al Qur’an meninggalkannya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;  Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah, 2:216)

Politik dan pertarungannya bisa jadi bagian dari sunnah tadaafu’, sebab dalam politik pertarungan terjadi dalam rangka merebut, mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Dengan demikian kekuasaan politik mau tidak mau harus melewati pergulatan dan konfrontasi dalam sunnah ini, untuk akhirnya keluar dan unggul sebagai pemenang dan berkuasa. Perhatikan firman Alloh Ta’ala:

“Telah diidzinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Alloh, banar-banar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Alloh”. Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebgaian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak disebut nama Alloh. Sesungguhnya Alloh pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi (kekuasaan politik), niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Alloh-lah kembali segala urusan” (QS. Al Hajj, 22:39-41)

Dari penjelasan yang tersebut di atas, maka umat Islam sesungguhnya adalah pelaku politik yang utama. Secara teoritis, kekuasaan itu seharusnya berada di tangan umat Islam. Sebab dengan politik dan kekuasaan, misi dakwah yang berupa amar ma’ruf dan nah-yi munkar akan dapat terlaksana secara optimal dan effisien. Namun apa mau dikata, umat Islam sekarang ini, hanyalah obyek dan target kebijakan politik, bukan sebagai pelaku utama yang memegang peranan dalam membuat dan memutar kebijakan.
Dalam arena politik dewasa ini, lebih banyak orang munafiknya yang menjual umat dan ayat-yata suci demi obsesi dan ambisi politik praktisnya ketiimbang benar-benar memperjuangkan Islam dan kemuliaaan umatnya. Partai Islam tidak lebih dari sekedar merek manis untuk menjaring suara umat yang ditinggal dan diacuhkan aspirasinya setelah partai tersebut mendapat kedudukan secara politis.

Apa yang bisa dilihat dari fenomena Pemilu yang baru lalu, menunjukkan hal itu. Bila dicermati, Pemilihan Umum tahun 1999 telah menyuguhkan kenyataan politis ideologis yang cukup mengejutkan hati para pemimpin partai politik Islam. Yaitu bahwa umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia telah menjadi minoritas dalam kesadaran politik keislamannya. Umat Islam yang memiliki kesadaran ideologis Islam kurang lebih hanya 11%, umat Islam yang sekedar Islam Kultural sekitar 27%, umat Islam yang beraliran Sekuler Toleran 26%, dan gabungan umat Islam dengan yang lainnya yang beraliran Sekuler Ekstrim mencapai 36%.  Apa sebabnya?

Pertama, karena sebagian beasr umat Islam belum benar-benar memahami nilai-nilai luhur ajaran Islam dan pandangan hidup muslim secara integral dan komprehensif. Hal ini dikarenakan belum adanya kesatuan sistem dan program pendidikan keumatan yang intensif, tidak adanya perencanaan dakwah Islam yang berskala nasional-integral dan tidak proaktivnya operator dakwah menjemput persoalan-persoalan umat.

Kedua, umat Islam belum mewujudkan kehidupan kejamaahannya baik berupa kejamahaan lingkungan hidup (territorial dan kewilayahan) maupun kejamaahan kultural dan ekonomi sesuai dengan pengertian jamaah, yaitu kebersamaan dalam menyelenggarakan kepentingan hidup dan kehidupan bersama di atas prinsip keikhlasan, persaudaraan Islami, persamaan, musyawarah, tolong-menolong dan gotong royong, senasib sepenanggungan. Kejamaahan ini berpusat kepada institusinya yang paling murni, yaitu masjid yang merupakan rumahnya orang-orang yang bertakwa. Sementara kejamaahan yanga ada, lebih merupakan kelompok-kelompok faham, sehingga lebih nampak sebagai firqah dengan ikatan yang abstrak. Hal ini berakibat pada segala perbedaan faham dan masalah-masalah khilafiyah yang seharusnya diproses dalam Majlis Syuro untuk melahirkan kesepakatan jamaah, akhirnya dipakai dan menjadi simbol pembentukan golongan.

Ketiga, karena pembinaan umat selama ini masih bersifat ta’lim, yaitu satu metode pendidikan yang bersifat normatif yang tidak bertanggung jawab mengenai aplikasinya dan cakupannya juga masih bersifat normatif-formalistik. Pembinaan umat belum menerapkan metode takwin (kaderisasi), taujih (pengarahan dan instruksi) dan tadbir (perencanaan) yang semuanya mengarah pada mengaktualisasikan ajaran Islam bagi kesejahteraan hidup dan kehidupan umat.

Keempat, semua faktor tersebut di atas bermuara pada lemahnya sumber daya manusia dan kepemimpinan umat, yakni belum mampu menciptakan pemimpin yang berkualitas dan berkapasitas sebagai imam jamaah yang memiliki kemampuan dalam taklim, takwin, taujih dan tadbir serta berwawasan pembangunan dan memenuhi kebutuhan luas wilayah kejamaahn umat Islam yang meliputi kurang lebih 300.000 lingkungan hidup/pemukiman, 66.000 desa/kelurahan, 310 daerah tingkat II, 27 propinsi dan tingkat nasional dengan kesatuan visi, persepsi, misi dan aktualisasi.

Sementara para pemimpin yang ada lebih menampilkan sosok sebagai muallim, muballigh atau guru agama daripada sebagai socio-religius leasers, yang dalam melaksanakan tugasnya saling tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Mereka belum punya manajemen dalam placement. Umat Islam belum memiliki kesatuan konsep, sistem dan perencanaan pendidikan kepemimpinan umat secara nasional.

7.    Pembinaan Basis Kejama’ahan.

Alloh SWT telah memprogramkan siklus tahuan bagi pembinaan kejamaahan kaum Muslimin. Terdapat kaitan kausalistik antara puasa Ramadhan, ibadah Haji dan bulan Muharram. Seandainya umat Islam – terutama para pemimpinnya – mau mengambil dan mengimplementasikan hikmah ibadah puasa Ramadhan, ibadah Haji dan spirit bulan Muharram, niscaya umat Islam tidak kalang kabut, kaget dan panik dengan terjadinya krisis moneter dan ekonomi yang menghantam secara tiba-tiba dan tidak akan terperangkap oleh strategi dan tipu daya lawan serta insya Alloh akan sanggup mengatasinya.

1.    Ibadah puasa Ramadhan mempunyai fungsi kuratif, rehabilitatif dan pengembangan kepribadian muslim, sehingga dapat menemukan kembali jatidirinya sebagai khalifah Alloh di bumi yang memiliki nilai-nilai insan kamil (manusia paripurna) dan kepribadian yang utuh (integrated personality). Dengan puasa Ramadhan, setiap pribadi Muslim, terutama para ulama dan zu’ama, seyogyanya dapat meraih nilai-nilai dan kekuatan spiritualnya yang tertinggi yang terumuskan ke dalam satu kalimat Al Ikhlashu Lillahi.

2.    Setelah melaksanakan puasa ramadhan, umat diberi kesempatan oleh Alloh selama 3 bulan (Syawwal, Dzul qo’dah dan dzulhijjah) untuk mengkonsntrasikan potensi kejamaahannya dengan jalan meraih dan mengaktualisasikan nilai-nilai moral sosialnya yang tertinggi, yang terumus dalam kalimat yang pendek “Al Ishlah Bainan Naas”, yakni mewujudkan kesatuan dan kerukunan, keharmonisan dan kedamaian antar sesama umat manusia, khususnya kaum Muslimin dalam wujud kesatuan kejamaahan yang solid,  bagaikan satu  bangunan yang kokoh, baik dalam kejamaahan kehidupan kulturalnya maupun dalam kehidupan kjeamaahan sosial ekonominya. Maka dalam waktu 3 bulan itu, dengan melaksanakan silaturrahmi yang proaktif, kaum Muslimin diharapkan dapat mengkosolidasikan :

a.    Kesatuan kejamaahan sekeluarga.
b.    Kesatuan kejamaahan sekampung.
c.    Kesatuan kejamaahan sekelurahan/desa
d.    Kesatuan kejamaahan sekecamatan
e.    Kesatuan kejamaahan sekabupaten
f.    Kesatuan kejamaahan sepropinsi
g.    Kesatuan kejamaahan setanah air
h.    Kesatuan kejamaahan sedunia/global

Pada waktu melaksanakan ibadah Haji, hendaknya Umaraul Hajj dari tiap negara mengangkat pemimpin mereka untuk memimpin diskusi-diskusi mengenai urusan umat Islam sedunia. Maka dengan ibadah haji itu umat Islam seluruh dunia dipersatukan dan dijama’ahkan di dalam kesatuan lembaga kejamaahan Alloh yang tersusun secara piramidal sebagai berikut:

a.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh sedunia, yaitu pada baitullah/ Masjidil Haram dan Imamnya
b.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat nasional dan imamnya.
c.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat propinsi dan imamnya.
d.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kabupaten/kodya dan imamnya.
e.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kecamatan dan imamnya.
f.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kelurahan/desa dan imamnya
g.    Kesatuan lembaga kejama’ahan Alloh pada baitullah/masjid tingkat kampung dan imamnya.

Kesatuan kejama’ahan Alloh ini itu didasari oleh prinsip-prinsip Ukhuwah Islamiyah, musawah (persamaan), ta’awun (tolong-menolong gotong-royong), takaful ijma’I (senasib sepenanggungan), jihad, ijtihad dan amal (berjuang, berkreasi dan berkarya) fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan), tasamuh (toleransi) dan istiqamah (berdisiplin di atas jalan yang lurus).

3.    Dengan memasuki bulan Muharram, maka umat Islam baik secara mental maupun fisik, baik individu maupun komunitas/jama’ah siap melaksanakan tugas dari Alloh, yakni jihad fii sabilillah, berjuang melaksanakan amanat Alloh untuk membangun dunia dan masyarakat yang hayatan thoyyibah dengan keunggulan syurgawi, yaitu masyarakat yang:

c.    Laa Khaufun ‘Alaihim, yakni masyarakat yang bersatu, aman, damai, tertib, bersih dan berakhlak mulia, bebas dari segala ketakutan dan kekhawatiran, karena keutuhan dan kekuatan jama’ahnya.
d.    Walaahum Yahzanun, yakni masyarakat yang inovatif, dinamis, produktif, efisien, berkeadilan dan berkemakmuran yang merata, bebas dari segala keprihatinan dan penderitaan oleh serba kekurangan, kemiskinan dan ketergantungan.

VI. Tahapan Dakwah Dalam Pembinaan Umat

Menuju ke arah umat yang mandiri merdeka dan kokoh kuat, pembinaan hendaklah dilakukan dengan seksama dan sistematis, tidak asal-asalan. Dengan berbagai masalah yang ada, serta latar belakang yang beragam, perlu kiat tensendiri agar pembinaan umat itu sukses. Salah satu kunci yang terpenting adalah proses pentahapan atau penjenjangan dakwah dan obyek dakwah.  Ada 5 tahapan dakwah dalam pembinaan umat:

1.    Tahapan Tabligh (Tahapan Informasi)

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai, Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Alloh memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah:67)

2.    Tahapan Ta’lim (Tahapan Edukasi)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. “(QS. Al Jumu’ah:2)

3.    Tahapan Takwin (Tahapan Indoktrinasi)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran:104)

4.    Tahapan Tanzhim (Tahapan Organisasi)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff:4)

5.    Tahapan Tanfidz (Tahapan Aplikasi).

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir  itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al Anfaal, 8:65)

wallahu a’lam.

Sumber:
1.    Siroh Nabawiyah, Al Buuthi
2.    Siroh Khulafaur Rasyidin
3.    Asaalib Al Ghozwu Al Fikri, Dr. Ali Juraisyah
4.    Fiqhud Dakwah, Dr. Abdul Halim
5.    Peran Etika Dan Moral Dalam Ekonomi Islam, Dr. Yusuf Qordhowi
6.    Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah
7.    Kuliah Ahlak, Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc. MA
8.    Umat Islam Menghadapi Tantangan Millenium Baru, Ceramah KH. Shalahuddin Sanusi pada acara Silaturrahmi Idul Fitri 1420 H Keluarga Besar Yayasan PTDI beserta Ormas Islam dan Parpol Islam.

BERINTERAKSI TANPA TERKONTAMINASI

Manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. Misi yang merupakan tujuan asasi di mana ia diciptakan di atasnya. Ada tiga misi yang bersifat given (‘atho’ rabbani) yang diemban manusia; yaitu misi utama untuk beribadah (QS 51:56), misi fungsional sebagai kholifah (QS 2:30) dan misi oprasional untuk memakmurkan bumi (QS 11:61). Namun keberlangsungan dan kelestarian misi ini secara benar apabila manusia mau mendengar dan mentaati risalah yang di bawa para Rasul. Hanya saja tidak semua manusia mengikuti dan menerima seruan mereka, bahkan sebagian besar dari manusia ini mendustakan dan mengingkari risalah ilahiah yang dibawanya. Allah berfirman;

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)

Maka, manusia yang mampu menerjemahkan tiga misi tersebut ke dalam bahasa lisan, tindakan dan sikap adalah manusia yang beriman kepada Allah SWT. Manusia yang senantiasa merespon seruan dan khithob rabbani dengan hanya mengucapkan kalimat ini; “sami’naa wa atho’naa”. Inilah syi’ar kehidupan manusia qurani dan rabbani. Hamba-hamba Allah yang akan dijanjikan kepada mereka “istikhlaf” di bumi-Nya. Allah berfirman;

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 24:51)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. 24:55)

Berdasarkan ayat di atas bisa kita konklusikan bahwa umat Islamlah yang diberi beban amanah ilahiah dan yang sanggup mengimplementasikannya ke dalam seluruh dimensi kehidupan. Maka umat Islamlah yang seharusnya memimpin dunia, yang berkewajiban mengajarkan manusia tentang system ilahiah dan membimbingnya untuk melakukan islamisasi dalam kehidupannya secara totalitas sehingga mereka benar-benar bisa keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Renungkan apa yang telah dikatakan seorang jundi, Rib’I bin Amir kepada Rustum, panglima Persia dalam perang Qodisiah, ketika ia bertanya:“Gerangan apa yang membuat anda datang ke negeri kami?”, lalu ia menjawab dengan kalimat ini;

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia yang dikehendaki-Nya dari penghambaan hamba menuju pengabdian kepada Allah semata, dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Oleh karenanya, tugas ini bukanlah tugas yang ringan dan juz-iah (parsial) atau sampingan tanpa dibarengi dengan usaha-usaha maksimal. Akan tetapi tugas atau dakwah ini merupakan urusan yang besar nan agung, urusan yang berkaitan dengan pembentukan syakshiah islamiah, kelestarian system-sistem ilahiah dan kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Sayyid Qutb mengatakan: “Barangsiapa menganggap ringan kewajiban (dakwah) ini, padahal ia merupakan kewajiban yang dapat mematahkan tulang punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak bisa melaksanakan secara kontinu kecuali atas pertolongan Allah. Ia tidak akan bisa memikul dakwah kecuali atas bantuan Allah SWT dan tidak akan bisa teguh di atasnya kecuali dengan keikhlasan pada-Nya. Orang yang berada di jalan ini siangnya berpuasa, malamnya qiyam (shalat) dan ucapannya penuh dengan dzikir. Sungguh hidup dan matinya hanya untuk Allah Rabbal Alamin, yang tiada sekutu bagi-Nya.” (Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, Sayyid Qutb)  

Dan untuk mensukseskan amanat yang agung ini perlu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki iman yang kuat, keikhlasan, hamasah yang membara dan tadhhiat serta amal yang mustamir (kontinu). Sehingga nilai-nilai kebenaran Islam yang termuat dalam gerbong dakwah benar-benar terealisir dan bisa dirasakan oleh semua manusia.

 

URGENSI BERDAKWAH

Berdakwah yang bertujuan dan berorientasi kepada perbaikan individu muslim, pembentukan keluarga muslim, pembinaan masyarakat Islam, pembebasan tanah air dari hegemoni asing, perbaikan hukumah (pemerintah) agar menjadi hukumah islamiah yang senantiasa memperhatikan kemaslahatan umat dan menjadi “ustadziatul ‘alaam” (soko guru dunia) merupakan risalat para Nabi dan Rasul. Di mana setiap Nabi berkewajiban mendakwahkan apa-apa yang telah diterima sebagai wahyu dari Allah -azza wa jalla- kepada umatnya. Ia harus mentablighkan risalat ilahiah ini dengan penuh amanah, kejujuran, kecerdasan dan kesabaran di tengah masyarakatnya. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 16:36)   

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. 33:45-46)

Berdakwah juga merupakan kewajiban syar’I yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam berdasarkan beberapa dalil berikut ini;

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)

Ayat ini secara jelas menunjukkan wajibnya berdakwah, karena ada “lam amr” di kalimat “wal takun”. Begitu juga Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” Hadits ini secara eksplisit menisyaratkan bahwa setiap muslim harus mentablighkan apa-apa yang telah di bawa Rasulullah Saw kepada seluruh manusia, walaupun hanya satu ayat ataupun satu hadits.

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. 5:63)

Ibnu Jarir at-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa ia berkata: “Tidak ada di dalam Al-Quran suatu ayat yang lebih keras mengolok-olok daripada ayat ini.”  (Tafsir Ibnu Jarir). Sedangkan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata: “Ali bin Abi Thalib pernah berkhotbah, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya umat sebelum kamu itu hancur disebabkan mereka berbuat maksiat sedangkan orang-orang alim dan para pendeta mereka tidak melarangnya sampai akhirnya ditimpa siksa di saat mereka terus menerus asyik dalam kemaksiatannya. Oleh karena itu, perintahkanlah mereka untuk berbuat makruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum turun kepada adzab seperti yang turun kepada mereka. Ketahuilah bahwasanya amar makruf dan nahi mungkar itu tidak akan memutuskan rizki dan tidak pula mendekatkan ajal.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/74)

Berkaitan dengan masalah ini, Allah juga menggambarkan fenomena masyarakat mukmin yang selalu melakukan ta’wun dan amar ma’ruf nahi munkar di antara mereka. Allah berfirman;

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9:71)

Sebagaimana dakwah itu merupakan kewajiban syar’I, ia juga merupakan kebutuhan masyarakat. Karena dengan dakwah, masyarakat mampu memahami nilai-nilai kebenaran Islam, mampu membedakan antara yang hak dan yang batil dan akhirnya mereka bisa mengaplikasikan ajaran Islam ini lewat sentuhan lembut tangan para da’I yang bijak, para penunjuk jalan yang tegar dan para muballigh yang sabar. Dakwah merupakan muara segala kebaikan, benteng penangkal siksa dan escalator yang menghantarkan do’a para hamba.mi’raj kepada Rabbnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Dzat yang mana jiwaku ada pada Tangan-Nya, sungguh kamu harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah akan menimpakan kepada kamu adzab, kemudian kamu berdo’a maka do’a itu tidak akan dikabulkan.” (HR at-Tirmidzi, hadits hasan)

Jadi, jelaslah bahwasanya setiap muslim yang sadar dengan identitasnya, ia harus berpartisipasi dalam mengemban amanah dakwah ini. Apalagi kita sebagai pemuda atau orang tua yang berjiwa muda, ia harus dinamis membangun jaringan dakwah dan pro aktif untuk ikut memperbaiki masyarakatnya. Imam Syafi’I dalam antologi puisinya berkata:

“Siapa yang tidak mau ta’lim (dakwah/membina) pada masa mudanya, maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah (mati sebelum ia mati).”

Maka Setiap ucapan, gerak dan tindakan seorang akh yang telah bergabung dalam dakwah ini harus benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam dan harus mampu menjadi pesona Islam di tengah-tengah masyarakatnya.

NAKHTALITHU WA LAAKIN NATAMAYYAZU

Nakhtalithu (bergumul dan berinteraksi)

Setelah kita memahami dengan benar urgensi dakwah di atas, maka tidak boleh ada sebagian kita yang hanya berpangku tangan, menikmati rehat yang berlebihan dan tidak boleh lagi ada seorang akh yang mengatakan kalimat ini; “Pergilah kamu sendiri ke medan dakwah, aku di sini menunggu natijah akhirnya saja.” Sebagaimana yang telah diabadikan Al-Quran dalam sebuah ayatnya tentang ungkapan Bani Israel kepada Nabinya, Musa as. Allah berfirman;

“Mereka berkata:”Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. (QS. 5:24)

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Bani Israel takut turun ke medan pertempuran menghadapi musuh-musuh Allah, takut akan kematian, takut memikul beban berat dakwah dan membiarkan qiyadah berjuang sendirian dalam liku-liku terjal medan dakwa dan perjuangan. Inilah sebuah pengkhianatan jundiah terhadap qiyadah, sebuah bingkai kedustaan di antara mereka untuk menolong syari’at Allah dan agama-Nya dan sebuah pengingkaran terhadap nilai kebenaran dan jalan kebaikan yang dipilihnya. Haihaata, haihaata (jauh dan jauh) perbedaannya antara Bani Israel dengan sahabat-sahabat Rasulullah, di saat menghadapi Kuffar Quraisy dalam perang Badar. Di mana Abu Bakar bersama sebagian besar sahabat Muhajirin dan Anshor (Sa’ad bin Mu’adz dan al-Miqdad bin ‘Amr al-Kindy) begitu semangat mendukung keinginan Rasulullah untuk maju dalam medan pertempuran. Sebagian mereka mengatakan: “… Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan haq, sekiranya kita berjumpa dengan lautan kemudian engkau menyeberanginya niscaya kami akan bersamamu. Tidak ada seorangpun yang boleh tertinggal. Kami juga tidak suka menunda peretempuran sampai besok. Sungguh kami adalah orang-orang yang sabar dalam pertempuran….”

Dan sebagian yang lain berkata: “Demi Allah …. Wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan Bani Israel kepada Musa; “idzhab anta wa rabbuka faqootilaa innaa haa hunaa qoo’iduun”, akan tetapi kami akan berperang bersamamu, kami tetap berda di sampingmu, kanan, kiri depan maupun belakang.” (Mukhtahor Tafsir Ibnu Katsir, II/503)

Oleh karenanya, setelah kita mampu mengishlah diri kita dan mempersiapkan bekal dakwah yang memadai baik secara jasadiah, ruhiah maupun aqliah, maka kita harus “nakhtalith” (bergumul dan berinteraksi) dengan masyarakat untuk menyerukan nilai-nilai kebenaran Islam yang termuat dalam gerbong dakwah kita. Kita harus pro aktif melakukan interaksi social di tengah-tengah masyarakat untuk menebarkan cahaya Islam. Karena kita tidak boleh berhenti di saat kita sampai terminal kesalehan pribadi. Namun kita dituntut terus menerus mentransfer nilai-nilai kesalehan yang ada di terminal ini ke terminal selanjutnya, yaitu terminal kesalehan social. Ingat syi’ar dakwah kita adalah kalimat ini; “Ashlih nafsaka awwalan wad’u ghairaka tsanian.” Artinya setiap kita setelah mampu melakukan perbaikan diri harus menyeru dan mengajak orang lain untuk kembali kepada nilai-nilai Islam. Agar mereka sama-sama merasakan lezatnya beriman dan bertakwa dalam shaf dakwah.

Dan inilah sosok pribadi muslim yang diharapkan oleh Islam. Manusia muslim yang senantiasa berjalan dan bergumul di tengah-tengah masyarakat dengan cahaya Islam. Perhatikan ayat di bawah ini;

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (QS. 6:122)

Ustadz al-Bahy al-Khuly dalam “Tadzkiraat ad-Du’aat” mengingatkan kepada seorang akh yang telah bergabung dalam dakwah ini, sedangkan ia masih ada kegamangan dan keraguan untuk memikul beban berat mas’uliah dakwah. “Kami berkata: “Kenapa kamu ini, tidakkah kamu ingin menjadi da’iah. Sementara kami telah menjelaskan sebagian beban-beban dakwah ini. Maka apabila kamu merasa mampu, lakukanlah sesuai dengan kemampuanmu. Dan jikalau tidak, maka sesungguhnya Allah mengabaikan (tidak memperhitungkan) orang-orang semacam kamu. Duduklah bersama barisan orang-orang yang lemah. Dan bertakwalah kepada Allah dalam barisan yang berbahaya ini.” (hal 208)

Dan untuk sampai kepada tujuan akhir yang kita inginkan, dakwah ini harus didukung oleh “katsratul anshor” (banyaknya penolong) yang memiliki kemampuan merekayasa masyarakat dan membentuk “ar-rakyul ‘aam” (opini umum). Hal ini mustahil bisa kita realisasikan tanpa ada usaha dan upaya maksimal dalam menjaring dan merekrut obyek dakwah yang ada di masyarakat. Dan tausi’ah (perekrutan) ini, tidaklah berhasil kecuali kita harus bergumul dan berinteraksi (ikhtilath) di tengah-tengah ummat. Jadi bergumul dengan masyarakat dalam qaidah dakwah kita merupakan suatu keniscayaan sekaligus kewajiban yang tidak mungkin diabaikan oleh kader-kader dakwah ini. Mungkinkah melahirkan generasi-generasi rabbani dengan berpangku tangan?, membangun umat dengan berdiam di rumah tanpa melakukan gerakan dan aktifitas?, dan mungkinkah menuju ustadziatul ‘alam dengan kemalasan, statis dan rehat yang berlebihan?.

Oleh karenanya, dalam melahirkan dan menjaring generasi-generasi rabbani dan generasi penolong-penolong agama harus ada gerakan dakwah yang terorganisir serta dibarengi dengan kehendak yang kuat, kehendak yang tidak pernah mengenal kejenuhan dan kelemahan. Harus ada “wafa’ tsabit” yang tidak pernah mengenal kepura-puraan dan pengkhianatan. Harus ada tadhhiat (pengorbanan) luhur yang tidak pernah mengharapkan imbalan dan harus diiringi dengan pemahaman yang benar tentang “mabda” (dasar atau prinsip) dakwah ini. Perhatikan ungkapan sang Da’I di bawah ini;

“Sesungguhnya tujuan akhir dan natijah yang sempurna tidak pernah terealisir kecuali setelah (adanya tiga kekuatan ini); “‘umuumud di’aayat” (gencarnya dan tersebarnya pesan sponsor dakwah yang membentuk opini umum), “katsratul anshaar” (banyaknya pendukung yang mampu membentuk jaringan-jeringan dakwah) dan “matanatut takwiin” (kekokohan pembinaan yang mampu membangun wajihat-wajihat amal)

“Sesungguhnya membangun bangsa, mentarbiah masyarakat, merealisasikan cita-cita dan memperjuangkan serta menancapkan tonggak-tonggak (dakwah) membutuhkan -dari umat atau kelompok yang berusaha atau menyeru kepadanya- minimal kepada kekuatan jiwa yang agung dengan ciri-ciri; (memiliki) iradah qowiah yang tidak pernah melemah, wafa tsabit (kesetiaan yang teguh) yang tidak pernah disusupi kepura-puraan dan pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pemahaman, keyakinan dan penghormatan yang tinggi terhadap prinsip atau dasar (dakwah) yang mampu menghidarkannya dari kesalahan, penyimpangan, tawar-menawar dan tertipu oleh prinsip atau ideology lain. Hanya di atas pilar-pilar utama ini-yang sepenuhnya menjadi kekhususan jiwa- dan hanya di atas kekuatan ruhiah yang dahsyiat, prinsip-prinsip dakwah ini dibangun, umat yang sedang bangkit terbina, bangsa yang berjiwa muda terbentuk dan sungai kehidupan terus mengalir dalam jiwa orang-orang yang sekian lama mengalami kekeringan….” (Risalat Ilaa Ayyi Syai-in Nad’u an-Naasa)

Natamayyazu (tampil beda dan istemewa)

Dan di saat berikhtilath (bergumul) dan berdakwah di tengah-tengah masyarakat, kita akan berhadapan dengan beragam sikap, watak, budaya dan nilai-nilai social yang jauh dari bingkai moral keagamaan. Bisa jadi kita berada dalam sebuah lingkungan social yang rentan dengan budaya negatif destruktif dan yang mampu menumbangkan tonggak-tonggak pemikiran serta prinsip yang selama ini kita yakini akan kebenarannya. Sehingga terjadi “idzbatusy syakhsyiah islamiah” dalam diri kita. Kemudian sedikit demi sedikit kita larut dalam kubangan budaya dan kebiasaan yang tidak islami. Dan akhirnya kita lupa akan prinsip-prinsip kebenaran yang selama ini kita bangun. 

Maka meskipun bergumul dengan seluruh segmen masyarakat, kita harus terus menerus mempertahankan prinsip kebenaran Islam. Kita tetap memilki benteng “mumaayazah wa muwaashalah” (pembeda dan pembatas) yang mampu menjembatani antara diri kita dan nilai-nilai destruktif yang ada di masyarakat. Karena prinsip dakwah kita adalah syi’ar ini; “nakhtalithu wa laakin matamayyazu” (berinteraksi tanpa terkontaminasi). Kita tidak boleh mengikuti keinginan-keinginan obyek dakwah yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam atau malahan bertentangan dengannya. Allah berfirman;

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS 5:48)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. 23:71)

 Sebagai kader dakwah yang menjadi politikus atau yang duduk dalam tiga lembaga tinggi negara harus mampu menjaga “mabadi islamiah” yang berkaitan dengannya, mengutamakan pelayanan masyarakat, menjunjung tinggi prinsip keadilan dan supremasi hokum dan tidak kalah penting menjaga citra identitas keislamannya. Sehingga seorang kader senantiasa berhias dengan etika dan moral islami ketika memmainkan peran dalam lembaga tinggi ini. Dan tidak sebaliknya, bersikap dan bertindak yang tidak mencerminkan sikap seorang kader dan bahkan mencoreng citra serta nilai-nilai luhur Islam.

Sebagai ekonom, entrepreneur dan budayawan muslim, ia harus senantiasa berpegang teguh dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Islam. Sehingga semua muslim yang terjun dalam berbagai macam dimensi kehidupan tetap menjadi cahaya yang terus menerus menyinari lingkungan sekitarnya. Mereka tidak pernah mendukung  atau ikut-ikutan KKN, mereka tidak terjangkit penyakit dekadensi moral (perselingkuhan, wil & pil, perzinaan dan mabuk/nyimeng) dan mereka juga tidak berfoya-foya serta menghambur-hamburkan uang negara. Sebaliknya, mereka harus bisa menjadi uswatun hasanah terhadap apa yang diserukannya, qudwah hasanah dalam ucapan, perbuatan, sikap keseharian dan harus menjadi model-model muslim yang ideal nan mempesona.

Oleh karenanya, seorang kader sebelum terjun dalam medan dakwah harus membekali dirinya dengan bekal ruhiah yang kokoh selain bekal ilmiah dan menegerial. Hal ini dimaksudkan untuk menjembatani antara diri seorang kader dengan virus-virus budaya dan moral yang tumbuh bak jamur dalam masyarakat. Sehingga kekuatiran akan munculnya “idzbatu syakhsyiah islamiah” tidak terjadi pada diri seorang kader.    BEBERAPA TIPS UNTUK PARA DA’I

            Persiapan Para Da’I

Seorang da’I sebelum terjun ditengah-tengah masyarakatnya harus memiliki bekal-bekal sebagai berikut:

q       Persiapan ruhiah imaniah yang meliputi;

ü      Memperkuat ibadah amaliah dengan menjaga kewajiban, membiasakan wirid harian, iltizam dengan amalan sunnah dan fadloil ibadah maupun amaliah

ü      Membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT melalui dzikir yang kontinu, melakukan munajat rabbaniah, tahajjud, istislam (pasrah) terhadap segala ketentuan-ketentuan ilahiah dan mempertajam makna hubungan dengan-Nya

ü      Menghidupkan jiwa dan membangun hati yang salim dengan tazkiatunnafs, membangun ibadah-ibadah qolbiah -seperti ikhlas, rasa takut, tawakkal, mahabbah, raja’ dan bertaubat-, menutup pintu-pintu setan –seperti cinta kehidupan, panjang angan-angan, suka rehat, ujub, riya’, takabbur dan thama’- dan mengingat kehidupan akhirat.

q       Persiapan ilmiah tsaqofiah yang meliputi;

ü      Melakukan imunisasi dengan ilmu syar’I

ü      Memperkaya tsaqofah islamiah

ü      Mengkaji pemikiran Islam

ü      Membangun skill dan kebiasan berfikir

q       Persiapan jasadiah yang meliputi;

ü      Menkonsumsi makanan yang halal dan bergizi

ü      Memperhatikan sebab-sebab kekuatan dengan berolah raga

ü      Memperhatikan kesehatan dengan chek up dan mnejaga kebersihan

Sifat-sifat Seorang Da’i

            Dalam buku “Dakwah Fardiah” Ustadz Musthofa Masyhur menjelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’I sebagai berikut;

Ø      Sifat ikhlas, karena tanpa keikhlasan segala amal usaha akan sia-sia

Ø      Harus dapat memperkirakan besarnya tugas yang akan diemban sehingga dapat memberikan perhatian secara proporsional dengan tetap mengharapkan balasan-Nya yang agung

Ø      Bersikap bijak dan hati-hati dalam memilih methode pendekatan, memberi nasehat yang baik dan berargumentasi dengan ahsan (cara terbaik)

Ø      Bersikap lembut dan berakhlak mulia; penyabar, dapat menahan diri dan menyerahkan segala kesulitan di jalan dakwah kepada Allah SWT

Ø      Hendaknya memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang masyarakatnya. Mengetahui segala permasalahan dan aliran yang berkembang di tengah-tengahnya da berusaha lebih banyak tentang orang yang didakwahi

Ø      Seorang da’I harus memilki pemahaman agama yang mendalam dan berusaha untuk memperkaya keilmuannya. Karena orang yang tidak memiliki apa-apa tidak mungkin memberi (Faaqidusy Syai’ Laa Yu’thi)

Ø      Hendaknya menghafal Al-Quran sesuai dengan kemampuan agar dapat digunakan sebagai dasar-dasar dalam dakwahnya.

Ø      Memadukan muatan rasional dan emosional dalam berdakwah.

Dan semoga dengan bekal-bekal yang kita siapkan bisa membantu menumbuhkan militansi kita dan mampu menjadi benteng yang kokoh untuk menghindari virus-virus moral ketika bergumul dan berinteraksi dengan masyarakat di medan dakwah. Wallahu a’lam bish showwab.

INILAH JALANKU

Katakanlah : Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yag nyata. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.
Ayat diatas terdapat dalam surat Yusuf ayat 108 termasuk golongan surat Makkiyah. Khitob ayatnya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw setelah Allah swt menerangkan kisah Nabi Yusuf as, agar beliau mengambil pelajaran yang banyak sekaligus merupakan penghibur beliau dalam menjalankan tugas dakwahnya.
“Inilah jalanku” (inilah pendirian dan peganganku) merupakan kata pemisah yang sangat tegas dan jelas, jalan yang ditempuh Rasulullah sebagai garis batas antara Tauhid dan Syirik, garis pemisah antara yang haq dan yang batil, selama-lamanya tidak akan mungkin bersatu, walaupun saat itu posisi Rasulullah saw lemah dan pengikutnya masih sedikit sementara  golongan kafir dan musyrikin menguasai masyarakat. Namun keteguhan prinsip ini tertanam dalam iman dan keyakinan dengan kerelaan menanggung segala konsekwensinya.
Keyakinan dan keteguhan inilah yang membentuk sikap hidup dengan dakwah menyeru kepada Dinullah sebagai jalannya. Jalan dakwah ini dipelopori oleh para Anbiya’ ‘alaihimus salam  yang menyeru manusia kepada subul-as-Salam (jalan kebahagiaan),  menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus (sirat-al-Mustaqim), sehingga manusia menerima seruan Allah dan Rasul. Dakwah  berawal dari hati yang sadar bahwa inilah jalan yang harus ditempuh, yaitu untuk menyeru manusia kepada Allah sehingga mereka mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW.
Jalan dakwah ini  merupakan jalan yang sangat panjang dan berliku, dan tidak ada pilihan selain jalan ini yang dapat ditempuh untuk membangun kejayaan ummat.
Dakwah menuju jalan Allah ini merupakan tugas para rasul dan seluruh pengikut mereka (“aku dan orang-orang yang mengikutiku”}dengan tujuan untuk mengeluarkan manusia dari zulumat menuju nur (cahaya), dari kekufuran menuju keimanan, dari kemusyrikan menuju ketauhidan  dari neraka menuju surgaNya. Aktivitas dakwah sebagai jalan yang harus ditempuh ini benar-benar berdasarkan hujjah yang nyata dan keyakinan yang benar.
‘ala bashirotin adalah hujjah, berupa ‘ilmu’ yang mesti dipersiapkan oleh pengikut ‘jalan ini’agar mereka mampu memberi penjelasan dan keterangan yang sejelas-jelasnya bagi orang-orang yang siap membantahnya dengan kebatilan.
Orang-orang yang mengikuti jalan dakwah ini senantiasa mensucikan Allah ‘Subhanallah’ dan dengan tegas menyatakan dengan sikap dan I’tiqad yang sungguh-sungguh bahwa mereka bukanlah orang-orang yang mensekutukanNya (‘dan aku tidaklah termasuk orang yang musyrik’).
Jalan dakwah adalah jalan yang satu. Di atas jalan inilah Rasulullah saw dan para sahabat Baginda ra. berjalan. Demikian juga kita dan para pendukung dakwah berjalan dengan taufik dari Allah swt. Kita dan mereka
berjalan  berbekalkan dengan iman, amal, mahabbah (kasih sayang), dan
ukhuwah (persaudaraan). Rasulullah saw menyeru mereka kepada iman dan
amal, kemudian menyatupadukan hati-hati mereka di atas dasar cinta dan
ukhuwah. Berpadulah kekuatan iman dan kekuatan aqidah dengan kekuatan
persatuan. Jadilah jemaah mereka jemaah contoh teladan. Kalimahnya mesti
lahir dan dakwahnya mesti menang walaupun ditentang oleh semua penghuni
muka bumi ini”
Modal dasar untuk pencapaian tujuan dengan dakwah sebagai jalannya memerlukan 3 syarat:
1-      Ana (hazihi sabili ana wa manittaba’ani), yaitu pemimpin
Dalam meniti dakwah ini memerlukan seorang pemimpin dan Nabi Muhammad saw merupakan penghulu para nabi sekaligus penutup masa kenabian yang merupakan pemimpin dakwah pertama bagi umat yang terakhir ini. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi segenap alam, membawa berita gembira dan ancaman, Ia adalah pemimpin dakwah menyeru kejalan Allah. Ia memulai dakwahnya dengan pemahaman kalimah “La ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah”.
Setelah beliau dakwah inipun memerlukan pemimpin- pemimpin lainnya sebagai penyambung risalah Muhammad saw yang kuat dan terpercaya yang dapat memimpin dan mengarahkan serta memberikan teladan kepada orang-orang yang menjadi pengikutnya, ia mesti memiliki kegigihan dalam memperjuangkan cita-cita, tidak mudah menyerah, tidak berputus asa dari mengharap pertolongan Allah, sekalipun dakwah itu memakan waktu yang panjang, ia mesti menghambil qudwah dari Muhammad saw dalam menghadapi tantangan hebat dari kaum kuffar.
2-     Pendukung yang beriman/jamaah (wamanittaba’ani)
3-     Manhaj yang benar (‘ala basshirotin)
Menyeru umat pada kalimat Tauhidullah tidak bisa dilakukan tanpa program dan tanpa manhaj yang jelas. Oleh karena itu untuk pekerjaan besar ini memerlukan manhaj yang terdapat dalam al-Quran, Sunnah dan hukum-hukum Islam.

Orang yang berda’wah hendaknya mengerti dan mengetahui benar apa yang dida’wahkannya, serta yakin akan kebenarannya. Hal ini merupakan syarat mutlak di dalam da’wah.
Dalam ayat ini tegas ditunjukkan bahwa da’i hendaknya menunjukkan dengan jelas arah yang seharusnya ditempuh oleh mad’u ‘alaihi yang membawa kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. oleh da’i. Orang yang telah yakin akan kebenaran petunjuk itu, wajib mempertahankan keyakinannya untuk menye barluaskan ajaran itu. Hal ini hanya dapat dilaksanakan oleh orang- orang yang mengerti, kaum ulama yang telah mendalami isi petunjuk itu. Yang dimaksud dengan ulama, ialah orang-orang yang tidak keluar dari Alquran dan sunnah Rasul serta mengamalkan petunjuk itu. Mereka inilah terutama yang wajib menyebarluaskan petunjuk itu, karena mereka telah dapat berjalan menurut petunjuk Allah.

Selanjutnya diperintahkan pula agar orang-orang yang mengajak pada jalan Allah menyatakan dengan tegas bahwa Allah Maha Suci dari Syirik, tiada sekutu bagiNya. Hendaknya benar-benar bersikap dan beritiqad mengEsakan Allah dengan menunjukkan dalil yang jelas. Perbuatan seperti ini adalah jalan yang ditunjukkan para Rasul, dan para Rasul ini diutus untuk keperluan itu

Kaderisasi Organisasi

Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”
Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi. Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis.
Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin. Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan edukasi, pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam istilah Hatta “sekolah-sekolahan”, melainkan dalam pengertian luas. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para pendahulu-pendahulunya. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah potensi dasar sang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap problema-problema sosial lingkungannya.

Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi/pergerakan. Yaitu: harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit unggul dalam kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka organisasi atau sebuah pergerakan harus terlebih dahulu mematangkan visi-misi mereka; dan termasuk sikap mereka terhadap persoalan mendesak dan aktual kemasyarakatan; serta pada saat yang sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap bibit-bibit potensial tadi. Kader-kader potensial, setelah mereka memahami dan meyakini pandangan dan sistem yang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan terpacu untuk bekerja, berkarya dan berkreasi seoptimal mungkin. Maka, di sini, organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan menyalurkannya secara positif. Dan memang sepatutnya organisasi/pergerakan mampu melakukannya, karena bukankah yang namanya organsiasi/pergerakan berarti terobsesi progresif bergerak maju dengan satu organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya?
Belakangan ini, sudah dimulai upaya ke arah kaderisasi yang berorientasi pada karya dan aksi sosial dalam level general, berupa penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial. Jadi, bagaimana menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas berpikir (belajar) sebagai—entitas mahasiswa—dan aktifitas aksi sosial sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya.
‘Alâ kulli hâl, tampaknya perlu dicermati kembali urgensi dari kaderisasi berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun. Kaderisasi merupakan kebutuhan internal organisasi yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian disana. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya.
Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan. Wallâh-u A’lam Bi al-Shawâb

BILA DA’WAH MEMASUKI WILAYAH POLITIK

Da’wah para nabi dan utusan Allah bertujuan tegaknya agama (42: 15) di bumi. Sepanjang sejarah manusia agama Allah yang telah ditegakkan oleh para Rasul-Nya melahirkan peradaban-peradaban besar yang tersebar ke seantero dunia. Oleh sebab itu Toynbee memandang bahwa semua peradaban besar yang masih berlaku secara mendasar berorientasi keagamaan dan karena itu secara berangsur-angsur tetapi nyata menyajikan pemecahan-pemecahan keagamaan juga terhadap sejumlah organisasi sosial dan politik.
Sepintas lalu apa yang dikemukakan Toynbee tersebut di atas menyiratkan keniscayaan perjalanan da’wah agama-agama besar yang dilakukan para nabi dan utusan Allah. Keniscayaan itu berupa suatu keharusan memasuki wilayah sosial dan politik. Ini sesuai dengan watak agama-agama samawi sebagai jalan hidup yang membimbing totalitas kehidupan manusia dan mengantarkannya pada pencapaian cita-cita hidupnya, baik cita-cita plitiknya ataupun cita-cita moral keagamannya.
Dengan demikian, da’wah Islamiah berusaha keras agar agama Islam tegak di bumi dan dapat membimbing totalitas kehidupan manusia dalam menuju cita-cita hidupnya. Oleh karena itu ada semacam kecenderunga kuat bahwa gerakan-gerakan da’wah yang berkembang dewasa ini ingin melahirkan arus penegasan kembali identitas dan ideologi Islam serta cita-cita politiknya ke pentas politik. Banyak intelektual muslim yang coba memproyeksikan Islam sebagai sebuah ideologi yang menjadi landasan perjuangan politiknya yang memiliki implikasi amat luas bukan saja pada bidang politik tetapi juga pada bidang-bidang kehidupan lainnya.
Disadari bahwa kehidupan kaum muslimin dewasa ini menuntut pembaruan orientasi di kalangan gerakan da’wah. Pembaruan orientasi itu meliputi arah dan model da’wah yang sesuai dengan tuntutan dan problematika masyarakat kontemporer. Dalam menghadapi tuntutan-tuntutan ini semua gerakan da’wah hendaknya berorientasi pada pembangunan masyarakat Islam seperti halnya dilakukan Rasulullah SAW di Madinah, melakukan perbaikan (ishlah) pada masyarakat Islam yang telah mengalami pembusukan dalam pemikiran dan perilaku, dan memelihara keberlangsungan da’wah itu sendiri di kalangan masyarakat Islam.
Ketiga orientasi da’wah tersebut di atas menuntut keberanian kaum muslimin, terutama kalangan pergerakan untuk memasuki wilayah politik, sebuah wilayah yang sampai saat ini kurang dijamah oleh gerakan da’wah. Sebab akumulasi berbagai serbuan yang menghantam ummat Islam secara bertubi-tubi sepanjang sejarah kontemporernya melahirkan suatu kondisi da’wah yang berputar-putar di wilayah prifat, belum menjangkau luas ke wilayah-walayah publik, terutama wilayah sosial politik. Akibatnya terjadi peminggiran Islam dari wilayah-wilayah strategis yang implikasinya ialah lahirnya kemunduran di berbagai bidang kehidupan ummat yang meneyebabkan kondisinya seakan-akan terus-menerus berada di dalam lingkaran “tanpa peran yang berarti”.
Dalam masa-masa kemunduran itu sosok peradaban Islam terkapar dalam pusaran arogansi peradaban materialistik. Tingkat kualitas intelektual dan sikap mental orang Islam berada pada titik terendah, “masuk lubang biawak.” Tentu saja, fakta kehidupan kontemporer ummat seperti itu tidak lepas dari faktor internal dan eksternal ummat. Menjauhnya ummat dari risalah Nabi Muhammad SAW dan adanya konspirasi besar-besaran yang menyerbu ummat Islam dari berbagai penjuru memperparah kelemahan ummat Islam menghadapi serbuan peradaban materialistik.
Kendati demikian, ternyata kondisi seperti itu tidak memusnahkan semua potensi kekuatan serta peninggalan peradabannya. Aqidahnya tetap utuh dan ajaran-ajarannya tak tergusur meskipun usaha-usaha pembusukan dan langkah memandulkan dan meminggirkan Islam dan kaum muslimin terus berlangsung. Bahkan gerakan-gerakan da’wah yang ingin mengembalikan ‘izzatul Islam walmuslimin terus marak di hampir semua bagian di dunia ini. Gerakan-gerakan itu ingin menegakkan agama Allah di bumi dengan sejumlah agenda perubahan yang dicanangkan. Agenda-agenda itu umumnya bertitik tolak dari pembangunan manusia. Sasaran umumnya ialah agar manusia mampu berprestasi dan memberikan kontribusi dalam amal hadhari (gerakan peradaban).
Masyru’ Hadhari dan Perlunya Sebuah Tatanan
Sepanjang sejarahnya gerakan da’wah yang terus-menerus berkesinambungan itu dilakukan dengan menampilkan manhaj Islami yang terpadu, satu-satunya manhaj yang mampu menghadapi tantangan dan memiliki unsur-unsur pembentuk dan dinamika peradaban yang kokoh. Oleh sebab itu, rekonstruksi kepribadian ummat, gerakan kemanusiaan ummat, kebangkitan perdaban baru, dan beralih dari periode protes dan negasi kepada periode memahami peran ummat dengan segala persyaratan yang diperlukannya telah menjadi agenda utama gerakan-gerakan da’wah dewasa ini. Sebab, masyru’ al-hadharri al-Islami (proyek peradaban Islami) yang dicita-citakan tidak lain adalah proyek kemanusiaan universal yang bertujuan mencapai kebaikan manusia secara umum sebagai refleksi dari implikasi sosiologis Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin.
Masyru’ al-hadharri al-Islami adalah proyek yang sangat luas, yang membentang di ufuk-ufuk yang luas tanpa batas. Dalam proyek ini diperlukan semangat kerja dan inovasi tinggi yang selaras dengan gerak tata kosmos (nawamis al-kaun). Dalam proyek ini juga dituntut adanya keseimbangan (tawazun) antara tuntutan ruh, akal dan jasad. Ia adalah proyek yang harus didasarkan pada fondasi iman yang menghubungkan “bumi” dengan “langit”.
Dengan demikian, da’wah dewasa ini merupakan kebutuhan sosial politik yang sangat mendesak. Sebab, manusia kontemporer, dengan segala kenyataan dan permasalahan yang dihadapinya, sangat membutuhkan orang yang dapat menjelaskan konsep-konsep hidup yang dapat menjamin keselamtan hidupnya di dunia dan di akhirat. Kebutuhan itu semakin mendesak ketika ideologi-ideologi besar dunia sekarang ini sedang mengalami kegoncangan hebat dan ternyata tidak mampu memberikan jawaban terhadap berbagai problematika modern ummat manusia. Dalam bidang sosial, kondisi manusia skearang ini diwarnai oleh berbagai kerusakan dan disintegrasi yang dapat melahirkan kehancuran. Sedangkan dalam bidang politik, kehidupan manusia berada dalam tubir kepunahan disebabkan oleh perilaku politik para pemimpin yang fasiq.
Memang sejarah da’wah yang digerakkan para nabi dan utusan Allah itu membawa misi peradaban. Mereka diberi beban kewajiban untuk menegakkan sebuah tatanan yang dapat mewujudkan keadilan bagi seluruh makhluk atas dasar wahyu yang diturunkan kepada mereka. Syari’at yang merupakan raga agama adalah pilar utama tegaknya keadilan yang hendak diwujudkan itu. Teks-teks dalam kitab suci, konsep-konsep ilahiah tentang hidup, dan amalan-amalan para pendukung da’wah nabi-nabi sepajang sejarahnya menguatkan prinsip-prinsip keadilan tersebut. Sebab, keadilan merupakan kebutuhan universal manusia dan bagian dari nawamis al-kaun (tata alamiah)
Ternyata tatanan hidup yang adil, menuntut diwujudkannya sebuah tatanan politik yang berdasarkan kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan. Fondasi utama tatanan yang berdasarkan kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan ialah tauhid, pengesaan Tuhan, Pencipta alam semesta. Tatanan yang berlandaskan tauhid mengandung sejumlah konsep dalam mewujudkan cita-cita sosial-politik manusia, yaitu ksejahteraan hidup lahir dan batin yang telah menjadi cita-cita sosial-politik manusia sepanjang masa.
Menurut Al-Mawardi (Adabu al-Dunya wa al-Dien) tercapainya cita-cita sosial politik manusia sangat tergantung sejauh mana ia mampu mewujudkan dua syarat. Syarat pertama ialah yang berkaitan dengan sistem yang mengatur urusan publik, yaitu wujudnya sebuah tatanan politik yang baik. Syarat kedua ialah yang berkaitan dengan sesuatu yang dapat mewujudkan keshalihan setiap warga, yakni menyangkut masalah nilai-nilai moral yang dapat membentuk individu-indivu shalih.
Perspektif al-Mawardi di atas menunjukkan bahwa persoalan politik (amal siyasi) sama pentingnya dengan persoalan pembinaan pribadi (amal tarbawi) dalam upaya manusia mencapai cita-cita sosial-politiknya, yaitu kesejahteraan hidup lahir dan batin.Tentang urgensi politik ini terlihat pula pada ungkapan hukama, seperti dikutip Al-Mawardi, “Adab (rule) itu ada dua macam: adab syari’ah dan adab siyasah. Adab syari’ah ialah segala aturan yang berkaitan dengan penerapan kewajiban. Sedangkan adab siyasah ialah aturan-aturan yang berkaitan dengan pemakmuran bumi. Keduanya harus bermuara pada keadilan.”
Selanjutnya menurut Al-Mawardi, ”keselamatan penguasa (sulthan) dan kemakmuran negeri tergantung sejauh mana berjalannya keadilan ini. Orang yang meninggalkan kewajiban sama artinya dengan mendzalimi diri sendiri, dan orang yang merusak bumi sama artinya dengan menzalimi orang lain.”
Kalau tatanan politik yang tegak di atas prinsip kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan akan melahirkan keadilan maka tatanan politik yang memisahkan diri dari kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan akan melahirkan sejumlah kezaliman yang dapat menghancurleburkan tatanan itu sendiri. Sebab, dalam kondisi kezaliman merajalela tata nilai direduksi secara masif, kemerdekaan diperkosa habis-habisan, harga diri manusia dicampakkan dengan hina, struktur kehidupan ambruk, lingkungan rusak, dan masa depan manusia terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan dan ketidakpastian.
Akibat-akibat buruk kezaliman yang telah dilakukan rezim-rezim tiranik selama 32 tahun lebih telah membuktikan bahwa kezaliman politik cukup menghancurkan segalanya. Kini, bangsa Indonesia terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan dan ketidakpastian. Keambrukan sendi-sendi ekonomi kita semakin menambah deretan panjang daftar kemiskinan. Kehidupan sosial kita yang tengah dilanda disintegrasi sosial dapat mengancam keutuhan bangsa. Kerusuhan yang terjadi di mana-mana semakin menambah kesengsaraan. Pepeprangan antaretnis dan agama telah memastikan bangsa Indoensia sedang berada dalam ambang kehancuran. Sedangkan kemunafiqan yang menjadi-jadi dan nyaris telah menjadi budaya umum telah membiakkan manusia-manusia hipokrit dan menyebar kecurangan di segala bidang kehidupan. Lorong-lorong ketegangan dan disparitas sosial-ekonomi semakin melebar nyaris tak bertepi. Secara praktis kita hidup dalam reruntuhan puing-puing arogansi para pemimpin congkak dan sombong. Akibatnya terjadi saling kutuk mengutuk antara pemimpin dan rakyatnya. Rasulullah SAW mengingatkan:
“Sebaik-baik pemimpin kamu –yakni pemegang kendali pemerintahan kami—ialah orang yang kamu cintai dan mereka mencintai kamu, mendoakan kebaikanmu dan kamu mendoakan kebaikan untuk mereka. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kamu ialah yang kamu benci dan mereka membenci kamu, yang kamu kutuk dan mereka mengutuk kamu.” (HR, Muslim)
Pemimpin-pemimpin yang selama hampr setengah abad menjadikan ucapan-ucapannya bernilai hukum dan petunjuk bagi seluruh rakyat serta tidak boleh dibantah itu telah memusnahkan semua harapan rakyat dalam mencapai cita-cita hidupnya. Rasulullah SAW memberikan sebuah ilustrasi terhadap model kepemimpinan tiranik dalam sabdanya :
“Nanti akan ada pemimpin-pemimpin sesudahku yang kata-katanya tidak boleh dibantah oleh siapapun. Mereka akan berdesak-desakan masuk neraka seperti monyet-monyet yang berdesak-desakan.” (HR, Abu Ya’la)
Seluruh agama samawi sangat keras dalam menolak ketidakadilan (kezaliman) dan kecurangan. Dalam agama Islam setiap muslim tidak hanya meminta berusaha menghapus berbagai bentuk kezaliman dari masyarakat mereka, namun juga menyuruh menolong siapa saja yang karena kelemahannya tidak dapat mempertahankan diri melawan kezaliman dan penindasan. Sebab, kezaliman dan ketidakadilan identik dengan kerusakan. Maka ia menjadi sumber kehancuran dan bencana bagi kemanusiaan. Kezaliman itu menjauhkan manusia dari hak-hak sahnya, menghinakan kemanusiaan, menganiaya diri sendiri, melahirkan kebangkrutan, dan menciptakan sebuah kondisi di mana manusia saling memangsa sesamanya.
Memasuki Wilayah Politik
Ketika kehidupan dicengkeram rezim tiranik hingga seluruh kekuasaan berpusat di tangan seseorang atau sekelompok manusia, para pembawa risalah samawi praktis harus memasuki wilayah politik, suatu wilayah strategis bagi gerakan da’wah. Hal itu merupakan sunnatudda’wah (aksiomatika da’wah) yang berlaku sepanjang sejarahnya. Diakui, memasuki wilayah politik selain strategis juga merupakan wilayah berat yang bisa jadi menimbulkan ketegangan-ketegangan ideologis. Lebih-lebih bila kondisi politik berada dalam dominasi penguasa tiran yang kata-katanya menjadi petunjuk dan tidak boleh dibantah siapapun seperti diisyaratkan Rasulullah SAW tersebut di atas. Dalam sejarah da’wah ketegangan-ketegangan itu terjadi antara ideologi penguasa (dinul malik) dan risalah para nabi. Selain itu wialayah politik juga dapat menimbulkan benturan-benturan sosial-politik yang sangat keras antara para pendukung ideologi penguasa dan para penyeru dan pembela agama para nabi.
Mengingat wilayah politik merupakan wilayah da’wah yang berresiko tinggi dan bisa melahirkan kekerasan, maka Rasulullah SAW mensejajarkan nilai da’wah dalam wilayah politik dengan nilai syahadah dalam satu peperangan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di antara jihad paling besar adalah kata-kata yang adil (benar) di hadapan penguasa yang zalim.” “Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan orang yang mengatakan hak di hadapan pemimpin zalim.”
Bahkan banyak ulama yang menekankan bahwa rahasia keistemewaan ummat Islam terletak pada konsistensinya dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Tentang pentingnya gerakan amar ma’ruf nahi munkar telah diingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya bahwa meninggalkan kewajiban ini dapat melahirkan sejumlah keburukan. Firman Allah:
“Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat.” (QS, al-Ma`idah: 79)
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila ummatku sudah takut mengatakan kepada orang yang zhalim: “Wahai orang yang zhalim,” maka diucapkan selamat tinggal kepada mereka.” (HR, Ahmad)
“Sesungguhnya manusia apabila melihat orang berbuat zhalim, lantas tidak mencegah tindakannya, maka Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka secara merata dari sisi-Nya.” (HR, Abu Dawud).
Dalam Islam apa yang disebut amal siyasi (aktivitas politik) merupakan bagian integral dari amal Islami. Sedangkan aktivitas politik yang dilakukan seorang Muslim hendaknya selalu melekat (inheren) dengan aktivitas keislamannya. Kenyataan ini semakin memperjelas pentingya amal siyasi bagi setiap Muslim dan setiap pergerakan Islam. Sesudah Soeharto lengser keprabon, bangsa Indonesia memasuki era baru yang disebut “era reformasi”. Dalam era ini ada keinginan kuat dari kalangan rakyat untuk memberdayakan hak politiknya yang selama 32 tahun lebih terpasung dan terpinggirkan. Keinginan ini begitu kuatnya sehingga muncul gagasan untuk mendirikan partai-partai politik. Kenyataannnya sudah lebih dari sepuluh partai Islam berdiri. Berarti da’wah di “era reformasi” sekarang ini secara praktis sedang memasuki wilayah politik dengan aneka ragam watak dan problematikanya.
Kesiapan Psiklogis
Kalangan pergerakan da’wah dapat mengambil i’tibar (pelajaran) dari perjalanan da’wah Nabi Musa As tentang pentingnya kesiapan psikologis para aktivis ketika da’wah memasuki wilayah politik. Nabi Musa As memperoleh perintah dari Allah SWT untuk memasuki wilayah politik dalam da’wahnya melalui firman-Nya:
“Pergilah (Musa) kepada Fir’aun, sesungguhnya ia sangat tiranik” 20: 24),
Namun dalam merespons perintah itu Musa meminta kepada Tuhan supaya dikarunia jiwa besar, jiwa yang lapang.
.” Berkata Musa, “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku.” (20: 25).
Agaknya permintaan Musa tersebut cukup menarik untuk dicermati. Ketika ia harus memasuki wilayah politik dalam da’wahnya Musa tidak lanagsung meminta dukungan dana atau pasukan.. Di sini, tampak jelas kesadaran dan pengetahuan Musa tentang liku-liku politiik. Musa menyadari sepenuhnya perlunya jiwa besar dalam memasuki arena politik. Ia juga sadar bahwa kesiapan psikologis dalam mengemban tugas barunya, yaitu menghadapi rezum Fir’aun yang sangat tiranik itu, sangat menentukan langkah-langkah operasional misinya. Oleh sebab itu,. yang diminta Musa bukanlah dukungan dana, senjata, atau personil. Yang diminta Musa adalah kesiapan psikolgis bagi dirinya dalam menghadapi tugas da’wah yang secara ril telah memasuki wilayah sangat penting dan strategis bagi perjalanan da’wahnya.
Kendati demikian, Musa tetap menyadari bahwa tugas barunya itu sangat berat dan memerlukan banyak dukungan. Sebab yang akan dihadapinya adalah sebuah rezim totaliter Fir’aun yang terkenal kejam dan sewenang-wenang. Pertanyaannya, mengapa dalam menghadapi tugas berat itu Musa meminta kepada Allah supaya dilapangkan dadanya?
Kenyataan, kesiapan psikologis mutlak diperlukan oleh sebuah gerakan da’wah terutama ketika memasuki wilayah politik. Sebab, seperti sering dicitrakan orang, dunia politik adalah dunia yang penuh ketegangan, intrik, dan kekerasan, dunia konflik yang ingar bingar dan penuh tantangan. Dunia politik juga dunia yang dekat dengan kekuasaan yang memerlukan kecakapan berkomunikasi. Dalam arena politik akan ditemukan berbagai ragam bentuk dan sifat manusia serta aliran-aliran pemikiran yang berkembang serta berbagai kepentingan yang saling bertarung. Semua itu memerlukan keahlian dalam berkomunikasi. Maka memasuki wilayah politik sama artinya dengan memasuki wilayah komunikasi.
Komunikasi Politik
Sebagai disiplin dalam ilmu sosial, komunikasi dan politik mempunyai hubunga yang erat. Dalam domain politik, proses komunikasi menempati posisi sangat fundamental. Sebab, pendekatan komunikasi dapat membantu dalam memberikan pandangan yang mendalam dan luas mengenai perilaku politik. Dalam berkomunikasi kesiapan psikologis mutlak diperlukan. Oleh sebab itu, ketika da’wah memasuki wilayah politik masing-masing aktivis dituntut memilikinya Dalam rangka mencapai tujuan-tujuan dan dalam memasarkan gagasan dan cita-cita politiknya para akivis akan banyak terlibat pertarungan komunikasi.
Mengapa dalam berkomunikasi diperlukan kesiapan dan kematangan psikologis. Sebab, komunikasi, lebih-lebih komunikasi politik, seperti dikemukakan para ahli, adalah proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan. Dalam dunia politik, para aktivis akan dihadapkan pada pertarungan komunikasi yang masing-masing berusaha memenangkan gagasan dan ide-ide politiknya. Kemenangan ini terlihat dalam bentuk pengaruh satu wilayah person pada wilayah person yang lain yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan.
Kemenangan gagasan atau cita-cita politik ditentukan oleh sejauh mana seorang aktivis mampu memenangkan komunikasi. Di sini setiap aktivis memerlukan kredibilitas dan keahlian dalam berkomunikasi. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kredibilitas komunikator sangat menentukan keberhasilan dalam berkomunikasi. Kredibilitas komunikator ini dibentuk oleh kepercayaan (karakteristik person) dan keahliannya. Salah satu faktor utama yang menjadikan seorang komunikator itu memiliki kredibilitas person ialah kematangan dan kesiapan jiwanya dalam berkomunikasi eksternal. Sedangkan salah satu indikator utama seseorang yang secara psikologi siap dan matang ialah kelapangan dadanya dalam berkomunikasi dan dalam menyikapi hasil-hasil komunikasinya. Memang, keadaan pskologi seseorang sangat menentukan bagaimana pesan seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respons pada individu yang lain. Oleh karena itu melalui psikologi apa yang disebut lambang-lambang yang disampaikan, proses mengungkapkan pikiran menjadi lambang, serta bentuk-bentuk dan pengaruh lambang terhadap perilaku manusia dapat dideteksi dengan cermat.
Oleh sebab itu dalama dunia komunikasi, termasuk komunikasi politik, psikologi dipandang sebagai komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri orang yang terlibat dalam prosses komunikasi, psikologi memberikan karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Pada komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan tentang keberhasilannya dalam mempengaruhi orang lain.
Ringkas kata, kematangan dan kesiapan psikologis diperlukan dalam memasuki wilayah politik agar tidak terjadi kegamangan atau kegagapan dalam komunikasi politik. Ketika da’wah memasuki era keterbukaan politik seperti sekrang ini maka masing-masing elemen aktif perlu memiliki kesiapan psikologi yang secukupnya. Lebih-lebih dalaam susana politik yang tidak menentu kita semakin menyadari pentingnya komunikasi bagi kelangsungan hidup bersama. Namun tanpa jiwa besar (lapang dada) mustahil komunikasi akan berjalan baik. Komunikasi yang baik dapat menegah salah paham yang dapat mengarah kepada pemborosan sumber daya. Salah satu indikator komunikasi yang baik ialah bahasa yang jelas dan jernih sesuai dengan batinnya yang penuh keterbukaan, tidak bertele-tele dan selalu menghindari debat kusir yang hanya membuang-buang waktu.
Dalam dunia komunikasi, sehubungan dengan komunikator, pembicaraan yang ruwet, bertele-tele, tidak jelas, dan keruh dapat muncul karena dua kemungkinan. Pertama, komunikator tidak tahu apa yang ingin diungkapkan atau yang dikehendakinya. Kedua, komunikator mempunyai niat buruk, berjiwa kerdil, menyimpan dendam, dan berusaha untuk membuat ruwet lawan bicaranya dengan tujuan menipu.
Kekuatan Bahasa Politik
Bahasa sebagai sistem lambang atau simbol dipakai orang untuk melahirkan pikiran dan perasaannya. Ia secara simbolik. berperan antara lain dalam membentuk pengalaman sehubungan dengan tanggapan terhadap dunia luar Selain itu, bahasa juga menjadi alat yang menyertai dan membentuk proses berpikir. Secara praktis bahasa menjadi alat dalam mengolah dan menyampaikan gagasan melalui aktivitas komunikasi.
Bahasa adalah sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri yang memiliki kriteria semantik. Sebab, kegiatan berbahasa memiliki fungsi semantis tertentu yang. butir-butirnya antara lain wujud dalam pemilihan kata, penataan kalimat dan wacana yang harus tepat. Karena, bila tidak, gagasan yang disampaikan, informasinya bisa menyimpang. Selain itu informasi yang disampaikan juga harus logis, memiliki keselarasan hubungan dan kesatuan gagasan. Dalam bahasa retorika, harus memiliki koherensi, kohesi dan unity.
Dalam kehidupan manusia bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam usaha memahami dunia luar, baik secara objektif maupun imajinatif. Karena itu, bahasa selain memiliki fungsi komunikatif, juga memiliki fungsi kogntitif dan emotif. Dengan kata lain bahasa selain memiliki fungsi instrumental, regulatory, interaksional, personal dan informatif, juga memiliki fungsi heuristik dan imajinatif.
Politik bahasa identik dengan dimensi simbolis dan persuasif politik. Memang praktik bahsa sudah dipandang sebagai praktik sosial dan politik. Sebab bahasa berkaitan erat dengan bagaimana kita membangun jati diri bangsa dan mempertahankan kultur bangsa. Bahkan bahasa dapat digunakan untuk menegaskan hirarki kekuasaan. Oleh sebab itu Mahatma Gandi ketika ditanya apa yang akan Anda lakukan setelah Anda menjadi Presiden? Ia menjawab, akan membenahi bahasa. Seperti diungkapka banyak sarjana, “bahasa adalah medium utama untuk mendominasi kekuasaan.” Karena itu penggelaran kekuasaan tidak selamanya pada pengendalian sarana teknis dan sisteeem reproduksi material. Arti penting bahasa dalam kekuasaan tercermin ketika Musa mendapat perintah dari Allah SWT agar dalam perjalanan da’wahnya memasuki wilayah politik. Ia meminta kepada Allah supaya dirinya diberi kemampuan berbahasa yang baik yang menyebabkan orang memahami apa yang dikatakannya.”Dan lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (20: 27-28)

YANG BERJATUHAN DI JALAN DA’WAH

Oleh : Fathi Yakan

I. PENDAHULUAN

Da’wah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan da’wah akan diperoleh apabila para anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan da’wah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada anggota da’wah yang berjatuhan, baik bentuknya penyelewengan, penyimpangan, pengunduran diri dan sebagainya, sebelum meraih kemenangan. Fenomena ini tidak bisa dihindari, sehingga ada sebagian orang memandang hal ini sebagai suatu fenomena yang wajar / sehat guna memperbaharui sel-sel intinya, dan membebaskan da’wah dari segala hal yang memberatkan dan menghambat pergerakan.

II. FENOMENA YANG BERJATUHAN DI ZAMAN NABI

Pada zaman Rasulullah saw, sudah terjadi fenomena pembelotan para anggota jama’ah untuk melepaskan tanggung jawab ataupun sekedar bermalas-malasan dalam berda’wah. Beberapa peristiwa berjatuhan di jalan da’wah yang sempat terjadi adalah:

a. Kelompok mutakhollifin (orang-orang yang tidak berangkat) pada perang Uhud, diantaranya: Ka’ab bin Malik, Muroroh Ibnu ‘Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Namun mereka bertiga ini kemudian diterima taubatnya oleh Allah swt, dan penerimaan taubat mereka diabadikan di dalam Al Qur’an dalam surat al Bara-ah, dan karena pertaubatan besar inilah surat ini juga dinamakan surat at-Taubah.

b. Pembocoran rahasia negara oleh Hathib bin Abi Balta’ah. Namun mengingat kebaikan masa lalunya, yaitu keikut sertaannya dalam perang Badar yang merupakan yaumul furqan, Rasulullah saw mengampuni dan tidak menghukumnya.

c. Haditsul Ifki (berita kebohongan besar) terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. Diantara orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, ada tiga sahabat nabi, mereka telah mendapatkan hukuman had, yaitu masing-masing di dera 80 kali, dan setelah itu merekapun bertaubat. Mereka itu adalah: Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy dan Misthah bin Utsatsah.

d. Pengkhianatan Abu Lubabah yang membocorkan rahasia hukum yang akan diterapkan kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Dia telah menyatakan taubat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, dan Allah swt-pun telah menerima taubatnya.

e. Peristiwa berdirinya masjid dhirar.

III. SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

a. Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan

1. Lemahnya segi pendidikan.

2. Tidak menempatkan personal dalam posisi yang tepat.

3. Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu.

4. Tidak adanya monitoring personal secara baik.

5. Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat.

6. Konflik intern. Konflik intern ini disebabkan oleh:

- Lemahnya kepemimpinan.

- Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebar fitnah.

- Perbedaan watak dan kecenderungan individu.

- Persaingan dalam memperebutkan kedudukan.

- Tidak adanya komitmen dan penonjolan tingkah laku individu.

- Kevakuman aktifitas dan produktifitas.

Dalam sejarah, konflik yang pernah terjadi antar ummat Islam adalah pada peristiwa konflik golongan Aus dan Khazraj. Dalangnya (provokatornya) adalah orang-orang Yahudi, yaitu Syammas bin Qais. Atas prakarsa Rasulullah saw maka golongan Aus dan Khazraj bersatu kembali. Hal tersebut terbukti dengan turunnya QS Ali Imran: 100 – 105.

7. Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified. Sebabnya antara lain:

- Kelemahan dalam kemampuan idiologi.

- Kelemahan dalam kemampuan organisatoris.

Oleh karena itu, seorang pemimpin yang diangkat haruslah memiliki syarat:

- Mengenal da’wah.

- Mengenal diri sendiri.

- Pengayoman yang kontinyu.

- Teladan yang baik.

- Pandangan yang tajam.

- Kemauan yang kuat.

- Kharisma kepribadian yang fitri.

- Optimisme.

b. Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu

Yaitu berjatuhannya anggota disebabkan oleh atau bersumber pada pribadi anggota.

Yang termasuk dalam hal ini adalah:

1. Watak yang tidak disiplin, sehingga menyebabkan dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi / jama’ah.

2. Takut terancamnya diri dan periuk nasinya (QS 4 : 120, QS 3 : 175).

Tersebut dalam hadits:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي).

“Syurga dipagari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menyenangkan”. (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).

3. Sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.

Tersebut dalam hadits:

“Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama. Sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam beragama”. (HR Ahmad dan An-Nasai).

4. Sikap terlalu memudah-mudahkan dan meremehkan.

Tersebut dalam hadits:

“Sesungguhnya kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan dosa menurut pandangan mata kamu lebih halus dari rambut. Di masa Rasulullah saw, kami menggolongkan perbuatan itu termasuk al muubiqoot (hal-hal yang menghancurkan)”. (HR Bukhari).

5. Tertipu kondisi gemar menampilkan diri (QS 28 : 83).

6. Kecemburuan terhadap orang lain / kedengkian. (QS 5 : 27 – 30).

7. Bencana senajata / penggunaan kekuatan.

Syarat-syarat penggunaan kekuatan:

- Habis segala usaha dengan jalan lain.

- Urusannya dipegang oleh pimpinan dan jama’ah Islam dan bukan oleh individu.

- Tidak menjurus pada pengrusakan dan bencana.

- Tidak boleh keluar dari ketentuan syara’.

- Penggunaan kekuatan sesuai skala prioritas.

- Penggunaan senjata harus mempunyai persiapan yang matang dan cermat.

- Hati-hati akan pancingan berbagai reaksi.

- Tidak boleh menjerumuskan ummat Islam bila posisi kekuatan tidak seimbang.

c. Tekanan Luar

1. Tekanan dari suatu cobaan (QS 3 : 175).

2. Tekanan keluarga dan kerabat (QS 9 : 24).

3. Tekanan Lingkungan.

4. Tekanan gerakan agitasi (penyebaran kritik dan keragu-raguan).

5. Tekanan figuritas (QS 7 : 12).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.